•   Jumat, 21 Februari 2020
SGML

Bangun Plaza Berharap Keuntungan, Yang Didapat Malah Kerugian

( words)
Bagian dalam Lamongan Plaza kini masih disewakan untuk penjualan meubeler. (SP/ MUHAJIRIN KASRUN)


Sejak Berdiri Baru 144 Stand Lamongan Plaza Terjual, Itupun Oleh Pembelinya Dikembalikan ke PD Pasar

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Langkah pemerintah daerah membangun Lamongan Plaza kala itu, memang diharapkan mampu menjadi pusat baru pertumbuhan ekonomi di Kota Soto, dan bisa menyumbang PAD Daerah. Namun apa daya dalam perjalanannya, harapan dan perencanaan tidak sesuai dengan kenyataan, stand yang diharapkan bisa laku semua teryata hanya 144 yang laku dari total 280 stand.
Berbagai upaya dilakukan Pemkab melalui Perusahaan Daerah (PD) Pasar belum membuahkan hasil. Bahkan ada stan yang sama sekali tidak dilirik, tepatnya dilantai dua. Sedang lantai satu hanya ada satu stan yang buka dari total 54 stan dua tahun lalu, sedangkan lantai dua tidak satupun stan terjual dari total 52 unit stan.
Upaya PD Pasar untuk menghidupkan pusat perbelanjaan modern itu sudah tidak kepalang tanggung, ritel–ritel terkemuka banyak dilamar, hingga bertemu Ramayana yang menempati Lamongan Plaza sejak pertengahan 2013 hingga akhir 2014, hengkang karena sepi pembeli.
Sementara di lantai dasar yang semula terjual 31 unit dari total 38 stan, yang membuka stan hanya 21 unit. Itupun tidak lagi kelihatan aktifitasnya. 126 Open counter, juga mengalami nasib yang sama.
Di stan Akbar Collection, A’An Collection milik Yuli dan juga puluhan stan yang semula menggelar dagangannya, sejak beberapa tahun itu kini ditinggal karena tidak laku. Biaya operasional tidak sebanding dengan hasil yang didapat.
Karena kondisi Lamongan Plaza yang terus sepi, mengingat barang yang disediakan tidak lebih baik dengan yang ada di Pasar dan toko busana lainnya, akhirnya sebagian dari pedagang memutuskan untuk berhenti berjualan, dan memilih membiarkan stand ditutup.
Satu dari sekian stand yang dikembalikan itu adalah milik Dian Retno, salah seorang pemilik stand penjualan aksesoris komputer. Ia bersama dengan pedagang lainnya terpaksa mengembalikan karena kondisi Lamongan Plaza sepi. "Saya kembalikam karena sepi," kala itu.
Pedagang mengembalikan stand ke PD pasar itu cukup beralasan, karena memang kondisi sepi dan biaya operasional tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan. Apalagi setelah menunggu upaya PD pasar mengaet sejumlah ritel, setelah ditunggu tidak ada perkembangan akhirnya mayoritas pedagang mengembalikan stand ke PD pasar. "Mayoritas pedagang mengembalikan stand," kata Riyanto Ka UPT Lamongan Plaza, Rabu, (17/1/2018) saat menceritakan kondisi Plaza.
Saat ini lanjutnya, stand yang dikembalikan itu oleh PD Pasar terus berupaya dilunasi. "Iya sampai saat ini, stand yang belum terbayar ada, cuman kalau jumlahnya kurang tahu persis, karena datanya ada di PD pasar," kelitnya.
Terkait berapa harga stand kala itu, pria yang juga menjabat Ka UPT Pasar Sidoharjo Lamongan ini menyebutkan kisaran dari mulai 150-400 jutaan. "Sebagian sudah terbayarkan, dan informasinya tahun ini semuanya akan terbayar," terangnya.
Dan kali ini Lamongan Plaza akan dijadikan sebagai lokasi hiburan keluarga, dan berharap rencana ini bisa berjalan dan menjadikan Lamongan Plaza sebagai BUMD yang bisa menyumbang PAD.
Sekkab Yuhronur Efendi saat dihubungi terpisah menyebutkan, kalau Pemerintah Daerah sangat komitmen untuk melunasi stand yang dikembalikan ke PD pasar. "Untuk pengembalian terus berjalan, dan tahun ini diupayakan tuntas," terangnya.
Saat disinggung darimana uang pengembalian bagi pemilik stand tersebut berasal, Yuhronur menegaskan kalau uang itu dari suntikan Pemda yang diperuntungkan ke PD Pasar. "Uang dari Pemda yang memang diperuntukan ke PD Pasar, dan oleh PD pasar digunakan untuk mengembalikan ke pemilik stand," akunya.
Pengembalian uang stand itu lanjut Yuhronur, diupayakan tahun ini tuntas, dan uang yang dibutuhkan untuk pelunasan tahun ini lebih dari Rp 6 Miliar. "Disediakan untuk pelunasan sekitar kurang lebih Rp 6 Miliar," terangnya sambil menegaskan kalau Lamongan Plaza nantinya pyur milik Pemerintah Daerah. Lamongan Plaza dibangun menghabiskan dana senilai Rp 63 miliar di Jl Panglima Sudirman dari dana APBD (2008-2009-2010).
.

Berita Populer