•   Jumat, 13 Desember 2019
Pilpres 2019

Baratayuda dalam Pilpres 2019, Analogi yang Keblinger

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta Pilpres 2019 (87)

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,

Anda berdua Insha Allah mendengar bahwa Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, mengibaratkan Pilpres 2019 tak ubahnya pertarungan Baratayuda atau perang saudara antar keluarga keturunan dewa dan bencana maha dahsyat Armageddon .
Amien menyebut Pilpres 17 April 2019 nanti jadi pertaruhan terakhir untuk merebut kemenangan dari unsur-unsur PKI.
"Ini permainan memang tinggal empat setengah bulan lagi. 17 April itu adalah pertaruhan yang terakhir apakah unsur-unsur PKI akan menang ataukah sebaliknya," kata Amien, dalam video pertemuan yang menyebar di kalangan Muhammadiyah, Jumat (30/11/2018).
Analogi ini disampaikan dalam pertemuan pada puncak dinamika Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah, Rabu (28/11/2018). Konsolidasi dihadiri Dahnil Anzar Simanjuntak, calon Ketum Pemuda Muhammadiyah Ahmad Fanani, dan beberapa anggota Muktamar.
Sebagai penggemar wayang sejak Sekolah Dasar, saya terperangah?. Mengingat Baratayuda adalah sebuah peperangan besar dalam dunia Pewayangan. Dinamakan Baratayuda, karena merupakan perang saudara Keluarga Barata antara Pandawa dan Kurawa yang masih terhitung saudara sepupu.
Penggemar wayang mengetahui bahwa perang ini dianggap sebagai perang antara Kebaikan melawan Kejahatan. Dalam kisah pewayangan ini, Pandawa berada dipihak yang benar dan Kurawa dipihak yang jahat.
Ada juga yang mengatakan perang ini sebagai wujud dari Kejahatan yang dhancurkan oleh Kebaikan.
Menurut kisah pewayangan, perang ini dipicu oleh perebutan kekuasaan Kerajaan Hastinapura antara Kurawa dan Pandawa. Konon, kerajaan ini merupakan hak dari Pandawa namun direbut oleh Kurawa.
Karya sastra kuno dalam Mahabharata ini menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupunya seratus Korawa. Pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.
Kisah Mahabharata konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab. Oleh karenanya dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Para arkeolog terkemuka dunia sepakat bahwa perang besar di Kuruksetra merupakan sejarah Bharatavarsa (sekarang India) sekitar 5000 tahun yang lalu. Dari hasil pengamatan beserta bukti-bukti ilmiah, dibuat suatu usulan peristiwa-peristiwa sebagai berikut: Sri Krishna tiba di Hastinapura diprakirakan sekitar 28 September 3067 SM; Bhishma pulang ke dunia rohani sekitar 17 Januari 3066 SM; Balarama melakukan perjalanan suci di sungai Saraswati pada bulan Pushya 1 Nov. 1, 3067 SM; Balarama kembali dari perjalanan tersebut pada bulan Sravana 12 Dec. 12, 3067 SM dan Gatotkaca terbunuh pada 2 Desember 3067 SM.
Ada pujangga yang mengatakan Batarayuda, adalah istilah yang dipakai di Indonesia untuk menyebut perang besar di Kurukshetra antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Perang ini merupakan klimaks dari kisah Mahabharata, yaitu sebuah wira carita terkenal dari India.
Sebagai penggemar wayang, saya menyimak analogi Amien Rais, Pilpres 2019 seperti Baratayuda, tergantung cara pandang setiap politisi.
Mengingat perang Baratayuda adalah kisah Mahabarata. Dalam perang baratayuda, digambar banyak sifat manusia seperti Dorna, Sengkuni, Bima, Arjuna, Kresna, Pandu, Karno sampai kurawa.
Akal sehat saya mengatakan pemahaman Pilpres 2019 dengan perang Baratayudha yang dikemukakan Amien Rais, sangat subyektif. Artinya, tidak akan ada diantara Anda berdua yang mau dianggap mewakili kurawa.
Akal sehat saya lebih berkata, baik Anda Capres Jokowi maupun Capres Prabowo, pasti ingin sama dianggap mewakili Pandawa, yang dikenal sebagai manusia satria. Apalagi disamakan dengan sifat licik seperti Durno atau Sengkuni. Dua tokoh pewayangan ini dikenal suka mengadu domba dan memfitnah.
Nah, menggunakan tolok ukur tentang karakter manusia, akal sehat saya mengatakan analogi Pillres 2019 dengan perang Baratayuda, adalah cara berpikir keblinger.
Mengingat suatu analogi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan terhadap gejala khusus dengan membandingkan atau mengumpakan suatu objek yang sudah teridentifikasi terhadap objek yang dianalogikan sampai dengan kesimpulan yang berlaku umum.
Nah, pertanyaan saya, apakah seorang Amien Rais, yang bergelar doktor ilmu politik sekaligus seorang profesor di perguruan tinggi negeri berwibawa seperti UGM, sebelum membuat kesimpulan Pilpres 2019 sebagai perang Baratayuda, sudah menemukan identifikasi bahwa Indonesia akan cerai berai seperti gambaran kisah Mahabarata?.
Apakah sebelum membuat kesimpulan seperti ini, Amien Rais yang profesor berusia tua, sudahkah menempuh proses penalaran berdasarkan pengamatan terhadap gejala khusus dengan mengumpakan suatu objek yang sudah teridentifikasi secara obyektif?
Dalam prespektif keberpihakan, analogi Amien Rais, bisa diterima pengikutnya dari PAN dan koalisinya. Tapi akan berbeda bila analogi subyektif Amien Rais, ini diukur dari sudut pandang orang yang bukan partisan.
Sebagai jurnalis yang mandiri dan tidak partisan, jujur saya menilai analogi Amien Rais, bahwa pilpres 2019 seperti perang Baratayuda adalah analogi yang keblinger.
Apalagi menurut kisah pemayangan, perang baratayuda, bukan mencari sosok pemimpin negara yang bisa mensejahterakan rakyatnya secara adil dan berkeadilan. Baratayuda merupakan sebuah kisah peperangan antara Pandawa melawan korawa. Perang memperebutkan kekuasaan Kerajaan Hastinapura antara Kurawa dan Pandawa.
Kisah dalam pemayangan disebutkan perselisihan antara dua saudara ini telah terjadi semenjak mereka lahir sebagaimana negara yang terlibat perang dunia 2. Perang antar mereka terus terjadi hingga mereka tumbuh dewasa.
Dalam perang ini, Pandawa terdiri lima saudara dari anak-anak Pandu bersama Kunti dan Mandri. Mereka adalah Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Sedangkan Korawa merupakan anak-anak dari Dretarasta yang merupakan saudara pandu dengan Gendari. Anak tertua Korawa ialah Duryudana yang memimpin 99 saudaranya.
Dikisahkan, kedua pihak, Kurawa dan Pandawa tinggal bersama dalam satu kerajaan yang beribukota di Hastinapura.
Suatu hari Duryudana berfikir bahwa mustahil baginya dan sudara-saudaranya untuk dapat meneruskan tahta dinasti kuru, apabila masih ada para sepupunya. Sejak saat itu, berbagai niat jahat muncul dalam benak Duryudana untuk bisa menyingkirkan para pandawa berserta ibunya. Maka Duryudana mengadakan rencana-rencana jahat bersama pamannya yang merupakan adik ibunya yakni Sangkuni.
Dalam cerita Wayang Mahabarata Sengkuni adalah Mahapatih sekaligus merangkap penasehat raja di Kerajaan Astina yang dikuasai keluarga Kurawa. Patih Sengkuni terkenal dengan prinsip hidupnya yang ekstrem: biarlah orang lain menderita yang penting hidupnya bahagia.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Snda berdua bukan saudara, seperti Pandawa dan Kurawa. Anda berdua memang kini berebut kekuasaan sama-sama ingin menjadi Presiden NKRI periode 2019-2024.
Sampai sekarang, secara kasat mata saya tidak melihat diantara Anda berdua ada yang berpikir dan berniat jahat meraih kekuasaan. Mengingat, perebutan kekuasaan ini diselenggarakan secara langsung oleh KPU dan dalam pengawasan Bawaslu.
Rakyat sekarang sedang menimbang-nimbang mana diantara Anda Capres Jokowi dan Capres Prabowo, yang minimal sanggup merealisasikan alinea ke-4, Pembukaan UUD 1945.
Pesan konstutusi ini yaitu Anda berdua apakah mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Saya mencatat masa kampanye Pemilu Serentak 2019 ditandai dengan deklarasi damai di Lapangan Monas, Jakarta Pusat. Deklarasi yang dibarengi pawai kampanye damai ini diikuti oleh pasangan Anda berdua. Pertanyaannya, mengapa ada tokoh politik sekelas Amien Rais, tiba-tiba memunculkan analogi Pilpres 2019 dengan perang Baratayuda?.
Acara deklarasi saat itu juga diikuti oleh seluruh tim kampanye dan pimpinan partai pendukung Anda berdua yang diberi waktu berkampanye hingga pada 13 April 2019.
Sebagai jurnalis yang cinta tanah air berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, saya berharap dalam kampanye yang masih lima bulan ini, diantara Anda berdua tidak melakukan kekeliruan berlogika atau logical fallacy.
Bila sampai terjadi, bisa dimaknai sebagai kesalahan dalam penalaran. Terutama karena ketidakmampuan menghasilkan pernyataan yang obyektif. Dan kesalahan semacam ini dapat dianggap tidak memenuhi kaidah argumentasi logis dalam proses penyimpulan kebenaran yaitu keblinger atau sesat.
Pemahaman saya selama ini, telah banyak orang pinter tetapi malah tersesat sendiri oleh kepinterannya. Lihat aja di MKD DPR, mereka orang pinter tapi cara-cara bersidang dan mungkin saat mengambil keputusan tampak "kurang pinter". Bahkan Ketua DPR era Setyo Novianto, sebagai panglima lembaga "perwakilan rakyat" malah kesandung atas ulahnya sendiri yang tak bisa diterima rakyat. Setnov kini sudah lengser dan perbuatannya termasuk keblinger.
Dalam kehidupan nyata, saya kadang menemukan ada orang-orang pinter yang keblinger. Sejak ibu saya masih sugeng sudah mengisyaratkan zaman yang makin modern, bisa malah makin edan. Artinya, makin banyak orang pinter, tapi makin keblinger. Pendidikan makin tinggi bukan makin merunduk, malah makin jumawa. Pinter keblinger. Apakah ini sekarang ada dalam Pilpres 2019? Wallahu A’lam Bishawab. (tatangistiawan@gmail.com,bersambung)

Berita Populer