•   Rabu, 18 September 2019
Surabaya

Bekerja Tanpa Hasil

( words)
Dr. H. Tatang Istiawan


Pesan Ramadhan (2)

Ramadan diyakini umat Islam sebagai syariat yang berlaku hingga hari kiamat. Sama halnya dengan jihad, ia juga syariat yang terus berlangsung hingga hari kiamat.
Tujuan semua ini untuk menjaga akidah, kehormatan, harta, jiwa dan wilayah kaum muslimin. Keterangan ini telah ditegaskan dalam banyak hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di antaranya riwayat dari Anas bin Malik radhiyallhu ‘anhu . Ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jihad akan senantiasa berlangsung sejak Allah mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, ia tidak akan dihentikan oleh kezaliman orang zalim ataupun keadilan orang adil,” (HR. Abu Dawud)
Tak leiru bila ulama-ulama besar menyebut puasa adalah ibadah jihad. Ini dikarenakan puasa mengandung makna melawan hawa nafsu.
Orang yang tidak bisa menahan nafsu syahwat, nafsu amarah, nafsu seksual, dan nafsu lainnya selama berpuasa sama halnya dengan bekerja tanpa mendapatkan hasil.
Artinya, puasa yang dilakukan hanya membuahkan lapar dan haus tanpa adanya nilai-nilai ibadah dalam puasa tersebut.
Rasulullah SAW. menegaskan dalam sebuah hadis: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh darinya untuk meninggalkan makanan dan minumannya." (H.R. Bukhari).
Selain jihad melawan hawa nafsu, umat Islam diperintahkan berjihad melawan kekafiran dan kesyirikan.
Jihad seperti ini dilakukan untuk mempertahankan diri dari serangan orang-orang kafir agar eksistensi umat muslim tetap terjaga.
Mencegah perpecahan yang dikhawatirkan pasca pencoblosan Pilpres 17 April 2019 lalu, dapat terjadi akibat hasutan dan keinginan untuk mengadu domba umat muslim yang yakin pada rahmatan lil’alamin.
Pencegahan perpecahan bisa dianggap langkah strategis dalam memproteksi generasi muslimin dari berbagai hal yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan umat Islam, khususnya dari pengaruh paham, teknologi, dan informasi yang buruk.
Lasngkah ini tentu untuk mewaspadai tren perpecahan umat dan mewaspadai krisis solidaritas di dunia Islam.
Pesan mencegah perpecahan umat islam di Indonesia, bisa belajar dari Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya. Beliau saat itu selalu menjaga dan merawat hubungan yang baik terhadap umat Islam atau non-Muslim, bahkan dengan kaum munafik sekalipun.
Tuntunan Rasullulah ini bertolak belakang dengan realita sebagian umat Islam di Indonesia saat ini. Sejak Pilkada DKI 2017 lalu, gejala saling menyesatkan dan mengkafirkan telah mengkhawatirkan banyak umat.
Allah SWT. telah memerintahkan umat muslim untuk berjihad melawan kekufuran. Ini dilakukan sebagai sarana ibadah dan perjuangan untuk menyiapkan individu muslim yang mampu memikul tanggung jawab guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Makanya, salah satu langkah konkrit yang dapat dilakukan seperti bulan ramadhan adalah melakukan ibadah puasa.
Puasa dapat dan akan menciptakan kader-kader muslim yang kuat secara keimanan dan tangguh dalam pengorbanan. Dua hal ini In Shaa Allah memberikan hasil, yakni tegaknya keadilan bagi seluruh umat manusia.
Ulama-ulama besar dunia menyatakan besarnya pengaruh puasa bagi tegaknya syariat jihad bisa ditandai dengan banyaknya capaian kemenangan yang diperoleh kaum muslimin di bulan Ramadhan.
Sejarah pun telah mengingatkan kita tentang peristiwa kemenangan-kemenangan besar yang menjadi titik awal perubahan Islam.
Di antara catatan sejarah kemenangan umat Islam di bulan Ramadan yang paling fenomenal adalah Perang Badar, Penaklukan Mekah, Perang Buwaib, Perang Qodisiah, Pertempuran Hittin, Pertempuran ‘Ain Jalut, Penaklukan kota Andalus, Penaklukan India dan Pakistan, Penaklukan kota Amuriyah, Penaklukan kota Sirakusa dari tangan Romawi, dan sejumlah perang lainnya.
Semua kemenangan dalam perang tersebut diraih pada saat kaum muslimin diwajibkan untuk berpuasa. Ini artinya bulan Ramadan adalah bulan jihad, kemenangan serta kemuliaan bagi umat Islam.

*) Penulis adalah Pembelajar Islam Otodidak

Berita Populer