•   Jumat, 6 Desember 2019
Ekonomi Asean

Belasan Tahun Tak Jelas, Nasib Blok Masela Kini Mulai Cerah

( words)
Ilustrasi kilang minyak | FLICKR/Joe deSousa


SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Pengembangan lapangan hulu minyak dan gas abadi di Blok Masela, Provinsi Maluku akhirnya mendapat titik terang. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Ignasius Jonan akhirnya dilaporkan telah menandatangani revisi dokumen rencana pengembangan aliasPlan of Development (PoD), dalam waktu dekat.
Terkait hal ini, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minya dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto bahkan menjamin Menteri ESDM Ignasius Jonan meneken revisi PoD Blok Masela, pekan ini. Menurutnya, karena proyek pengembangan Blok Masela ini merupakan proyek prestisius, maka Menteri Jonan bakal melapor terlebih dahulu kepada Presiden RI Joko Widodo.
Menurut Dwi, penandatanganan revisi PoD ini adalah lanjutan dari kesepakatan permulaan aliasHead of Agreement (HoA) antara dirinya sebagai kepala SKK Migas dan Presiden Direktur INPEX Indonesia Shunichiro Sugaya di Jepang, pertengahan bulan Juni lalu.
Sejatinya, revisi PoD ini bakal ditandatangani Menteri Jonan di sela-sela agenda pertemuan negara-negara anggota G20 di Jepang, beberapa waktu lalu. Hanya saja, kesempatan itu terpaksa dibatalkan lantaran pemerintah diharuskan memberi klarifikasi ke KPK mengenai proses pengadaan.
"Ketika itu, ada sejumlah hal yang menjadi sorotan KPK. Sebagian di antaranya sudah dapat diklarifikasi. Sementara sebagian lainnya harus diawasi dan sebagainya," cetus Dwi Soetjipto, Jumar (12/7/2019).
Pascapenandatanganan revisi PoD nantinya, INPEX Indonesia sebagai operator bakal menggelarFinal Investment Decision (FID). Proses ini diprediksi bisa sampai satu tahun lamanya. Di sisi lain, proses penekenan revisi PoD Blok Masela ini sendiri sebetulnya telah menghabiskan waktu belasan tahun. Untuk diketahui, INPEX Indonesia diketahui telah mengelola Lapangan Gas Abadi Masela sejak tahun 1998 atau sejak ditekennya kontrak bagi hasil produksi (Production Sharing Contract/PSC)selama 30 tahun.
Pada tahun 2010, pemerintah dilaporkan telah meneken PoD pertama Blok Masela. Saat itu, INPEX memiliki hak partisipasi sebanyak 65%, sementara sisanya dimiliki Shell Upstream Overseas Services Ltd. Pada tahun 2014, INPEX bareng SHELL, merevisi PoD ketika ditemukan cadangan gas anyar di Lapangan Abadi, Masela. Semula dalam PoD pertama, termuat 6,97 triliun kaki kubik (TCF) yang kemudian direvisi ke level 10,73 TCF. Di dalam revisi tersebut, kedua investor, baik INPEX dan SHELL sepakat untuk meningkatkan kapasitas fasilitas LNG dari 2,5 MTPA menjadi 7,5 MTPA dengan skema di laut (offshore).
Beberapa lama kemudian, tepatnya pada tahun 2016, Presiden RI Joko Widodo lebih memilih untuk membangun kilang LNG Masela di darat(onshore). Akibatnya, INPEX harus mengulangi kembali proses kajian pengemembangan dengan skema onshore.
Pengembangan hulu migas di Blok Masela ini dinilai penting. Pasalnya, proyek yang ditargetkan beroperasi pada 2027 ini digadang-gadang mampu memberi sumbangan produksi gas bumi yang setara dengan 10,5 juta ton (mtpa) per tahun (sekitar 9.5 juta ton LNG per tahun dan 150 mmscfd Gas Pipa). Menurut laporan, investasi pengembangan proyek Blok Masela diperkirakan mencapai USD 20 miliar.

Berita Populer