Berawal Hobi Dandan, Kini jadi dokter Kecantikan

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Dalam meniti karir, apa yang kita inginkan kadang tidak sesuai dengan yang kita dapatkan. Hal tersebut wajar saja karena justru kadang seseorang bisa menemukan passionnya dari pekerjaan lain.

"Awalnya sih sebenarnya orang tua yang menyuruh saya jadi dokter gigi. Tapi karena saya inginnya jadi dokter umum jadi saya memilih jadi dokter umum saja," jelas dr. Susanty Lingga Hutama, Aesthetic Doctor.

Susanti yang menyandang status sebagai dokter umum namun ia berkecimpung dan mendalami ilmu-ilmu aesthetic dengan banyak melakukan training dan kursus untuk memperoleh sertifikasi sebagai dokter aesthetic.

Ia mengatakan ketertarikannya di bidang kecantikan adalah sejak kecil suka dandan, menyukai kerapian, dan belakangan ia juga melakukan perawatan diri seperti peeling, botox, juga filler. Saat menjalankan profesinya ia ingin memberikan yang terbaik saat melakukan tindakan-tindakan medis terhadap pasien.

Dalam menangani pasien selalu ada kendala. Tetapi yang umumnya terjadi menurutnya adalah pasien mengeluhkan waktu tunggu yang lama. Kendala lainnya yaitu saat menjumpai pasien mengalami masalah kulit yang kompleks jadi tantangan untuknya.

"Beruntungnya di Profira ini, mempunyai modalitas alat-alat yang mumpuni sehingga saya bisa memanfaatkan peralatan disini semaksimal mungkin untuk pasien," ujarnya.

Selain melakukan tindakan medis, ia juga punya tips untuk perempuan agar selalu tampil cantik menurutnya merawat kulit, telaten pakai krim. "Pagi pakai sunblock, lalu rajin-rajinlah pakai moisturized, krim lightening/pencerahan, agar kulit tetap bagus," katanya.

Disamping itu tiap bulan atau dua bulan sekali disarankan untuk melakukan perawatan pencerahan kulit seperti peeling, laser, dan perawatan ringan lain. Gaya hidup sehat dan olah raga juga membuat tampil lebih cantik dari dalam.

Dr.Susanti mengatakan umumnya merawat pasien perempuan, kini pria pun sudah mulai melakukan perawatan. Paling banyak adalah treatment wajah khususnya masalah jerawat. "Tapi tidak menutup kemungkinan pria sekarang maunya jadi tampan dengan botox, filler, juga pengencangan dengan benang," ujarnya.

Untuk masalah jerawat umumnya anak-anak muda, namun untuk pasien pria yang melakukan perawatan yang lebih advance atau permak-permak, kebanyakan yang sudah berumur 40-an. Perawatan terhadap pria terjadi peningkatan dibanding tahun lalu. "Prosentasenya 70% wanita dan 30% pria," tutup perempuan 30 tahun ini.indra