•   Kamis, 12 Desember 2019
Traveling

Bertahan karena Jadi Simbol Kerukunan Etnis Tionghoa dan Pribumi

( words)


Pasar Atom di Tengah Persaingan Mall Modern di Surabaya

Sejak dahulu kala, Pasar Atom sudah menjadi Surabaya yang berada di kawasan Pecinan. Letak pasar yang sudah bertransformasi menjadi mall ini di jalan Bunguran 45, Surabaya. Pasar Atom didirikan pada tahun 1972, sedangkan Pasar Atom Mall dibuka pada tahun 2007.
-------------
Fauzan BCH,
Wartawan Surabaya Pagi

Kenapa disebut ‘Atom? Karena ciri khas tempat ini adalah sebuah monument dengan di atasnya ada bola besar seperti lambang Nuklir atau Atom di depannya.

Pasar Atom menjadi representasi kerukunan etnis Tionghoa dan pribumi. Pasar ini dikenal salah satunya karena penggunaan bahasa gado-gado oleh para pedagang (dan juga pembeli) yang mayoritas beretnis Tionghoa. Bahasa Pasar Atom menjadi begitu khas, sehingga penggunaan bahasa serupa di luar Pasar Atom pun juga disebut demikian.


Image

Hingga pada akhirnya, entah siapa yang memulai, Bahasa Tionghoa Surabaya akrab disebut bahasa Pasar Atom. Artinya bahasa gaya Pasar Atom ini biasa digunakan kalangan Tionghoa di Surabaya, khususnya dalam urusan berniaga dan pergaulan sehari-hari. Bahasa ini merupakan percampuran antara bahasa Indonesia cakap, bahasa Jawa Arekan, dan bahasa Hokkian, Khek atau Mandarin.

Bangunan Pasar Atom masih didominasi gaya arsitektur lawas. Memasuki pasar, pengunjung langsung disambut pedagang camilan. Beda beberapa blok kemudian, pengunjung akan menemukan penjual baju, peralatan rumah dan kain meteran. Suasana Pecinan sangat terasa disini karena penjual dan pembeli rata-rata ialah etnis Tionghoa. Ikatanya dengan budaya Tionghoa sangat terasa ketika masuk di tengah pasar, terdapat ornament gantungan lampion.

“Suasana klasik juga sangat terasa, jelas karena pasar ini ternyata sudah ada sejak tahun 1972,” ungkap Melia, salahj satu marketing promosi Pasar Atom. Tapi dengan perkembangan zaman tidak hanya pasar yang dikembangkan menjadi 5 tahap, sekarang sudah ada Pasar Atom Mall yang sudah beroperasi sejak 2007 di jalan Stasiun Kota 27. Alhasil, tempat ini sekarang memiliki 2 pintu utama.

Salah satu pemilik toko kelontong di Pasar Atom, Om Harun mengatakan, ia sudah berdagang di sana sejak tahun 1980. Namun sayang, akibat gempuran pedagan online, penjualan toko milik pria keturunan Tionghona ini menurun drastic.

“Saya sudah berjualan kelontong disini sejak tahun 1980, memang sudah lama dan mengalami perkembangan Pasar Atom, tempat saya sedikit sepi karena terkena pejual online,” uagkap Harun di tokonya.

Apa kabar penjual Pasar Atom yang lainnya?

Seperti kebanyakan pasar atau mall, di Pasar Atom juga banyak penjual makanan. Dari yang murah hingga yang sekelas mall. Untungnya disisi luar pasar tak jauh dari toko kelontong akan menemukan penjual makanan di selasar luar.

Salah satu kuliner legenda di sini, menurut Melia, adalah bubur Madura dekat parkiran motor, di sisi bangunan Pasar Atom lama.

Ada beberapa penjual Bubur Madura, salah satunya Sutiyah yang hingga dua generasi berjualan bubur di sana.

“Saya sudah jualan bubur dari dulu, sejak bubur masih harga Rp 1.500 sekarang sudah Rp 10.000,” ungkap Sutiyah. Sutiyah memmiliki banyak pelanggan. Salah satunya Lina yang terlihat sedang makan Bubur Madura. “Saya 20 tahun punya toko di sini dan sudah langgan bubur ini dari dulu,” tutur Lina.

Tidak hanya bubur Madura, di Pasar Atom juga dapat ditemui makan khas Tionghoa yaitu Cakwe di tahap 3-4 lantai 1. Di sini juga tempat Cakwe ternama di Surabaya adalah Cakwe Peneleh yang sudah ada sejak 1988.

Tak cukup cuma itu, ternyata Pasar Atom juga punya pusat Tailor, permak pakaian hingga tas dan koper yang terletak di tahap 2 lantai 2. Tailor legendaris di sana namanya Atom Tailor yang kini dikelola oleh Yongki Hadiono yang generasi kedua.

“Saya ingat dulu mas sebelum ada Tailor dan permak ayah saya sudah buka di Pasar Atom sejak tahun 1980,” ungkap Yongki yang ditemui di tempat tailornya. Ada pelanggan lama sudah 10 tahun berlangganan di Tailor Atom ini sedang permak namanya Maya. Menurutnya, permak di tempat ini rapi dan bagus.

Berkeliling di Pasar Atom memang bila dilihat banyaknya fashion dan kuliner. Tapi penjual mas di Pasar Atom ini bisa dibilang cukup banyak juga ketimbang pasar dan pusat perbelanjaan lain. Karena menurut Melisa Pasar Atom sedang konsen di Pasar emas dengan adanya kurang lebih 170 stand penjual emas dan teradapat 7 pabrikan emas di Pasar Atom.

Legendaris tempat ini tidak bisa dilepaskan dengan adanya kolam renang, bayangkan kurang lengkap apa tempat ini. Kolam renag disini berada di tahap 3 lantai 4, menyediakan 2 kolam untuk dewasa dan anak-anak.

Di antara persaingan mall yang terus tumbuh di Surabaya, Pasar Atom tetap menjadi idola, karena sudah punya pasar yang pasti dan ciri khas yang tak dimiliki mall lain. Melia mengimbuhkan, ketika akhir pekan tempat ini selalu ramai.

Bahkan di Pasar Atom ada toko emas yang usianya sudah 40 tahun. Toko itu bernama Tirta Indah. Bertahan puluhan tahun, Tirta Indah punya banyak pelanggan setia yang juga ‘awet’ bertransaksi di sana hingga puluhan tahun. “Saya udah 25 tahun berlangganan di toko ini, karena lebih enak bagi saya berbelanja di Pasar Atom,” ungkap Ibu Willy, salah satu pengunjung di Pasar Atom. n

Berita Populer