•   Senin, 27 Januari 2020
Ekonomi NKRI

BI: Defisit Transaksi Menjadi Hambatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

( words)
Pekerja melakukan pekerjaan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Senin, 5 November 2018. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2018 sebesar 5,17 persen (year-on-year), lebih tinggi dibanding 2017.


SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengakui, bahwa defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD) masih menjadi hambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebab, Indonesia masih mengandalkan barang komoditas untuk aktivitas ekspor, sehingga ketika harga komoditas turun, ekspor ikut turun.

"Beberapa hal memang masih menjadi tantangan itu current account defisit karena memang Indonesia masih sangat mengandalkan harga komoditas, sehingga harga komoditas turun, ekspor ikut turun. Ini yang men-down grade kita," kata Nanang saat acara acara Bank OCBC NISP Coffee Morning Talk bertema Meningkatkan Iklim Investasi Keuangan di Indonesia, di Jakarta Pusat.

Nanang mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh aktivitas ekspor yang berbasis manufaktur. Untuk tumbuh lebih dari 5 persen Indonesia harus masuk ke dalam global chain value, "kuncinya industri dasar harus kuat," katanya.

Menurut Nanang, pihaknya terus mengawasi kondisi pasar keuangan global dan stabilitas eksternal perekonomian Indonesia dalam mempertimbangkan penurunan suku bunga. Sejalan dengan rendahnya inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

“Kami terus menjaga inflasi tetap terkendali karena inflasi itu penting untuk mendorong investasi dalam negeri,” ungkap Nanang.

Nanang melanjutkan, Bank Indonesia terus memastikan stabilitas sistem keuangan agar selalu terjaga dengan baik. Para investor akan melihat Indonesia dari pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pasar keuangan yang efisien.

“Indonesia growth sustainble dan strong. Kedua hal yang menyakinkan investor. Kalau makro tidak stabil terutama inflasi tinggi, suku bunga fluktuasi dan nilai rupiah bergejolak maka menimbulkan ketidakpastian,” ungkap Nanang. Jkt/ff

Berita Populer