•   Minggu, 15 Desember 2019
Bisnis Makro

Bisnis Otomotif Lesu, Jepang Mulai Suntik Dana

( words)
Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad.


SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Perusahaan pemilik modal Jepang mulai membidik perusahaan-perusahaan rintisan (startup). Disinyalir salah satu penyebabnya adalah mulai melempemnya industri otomotif.

Di Indonesia tercermin dari penjualan kendaraan. Penjualan mobil Juni 2019 mencapai 59.539 unit turun hampir 30 persen atau tepatnya 29,24 persen dibanding Mei 2019 yang mencapai 84.146 unit.

Dari sisi global, salah satu produsen mobil terbesar di Jepang, Nissan juga mulai menunjukkan kesengsaraannya. Perusahaan bahkan sampai harus melakukan PHK terhadap belasan ribu pegawainya termasuk di Indonesia.

"Ini fenomena global. Perkembangan revolusi industri 4.0 dan digital ekonomi yang membuat otomotif juga melemah," kata Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad, Rabu (31/7).

Menurutnya salah satu penyebab lesu industri otomotuf adalah munculnya mobil listrik. Hampir seluruh dunia termasuk Indonesia mulai mengusahakan mengembangkan mobil listrik.

Ternyata perkembangan startup juga menjadi penyebabnya. Munculnya perusahaan aplikasi berbasis transportasi membuat masyarakat mengerem diri untuk membeli mobil.

"Sisi lain jelas adalah persaingan global antar perusahaan serta munculnya Grab Car dan Gocar juga mengurangi minat orang memiliki mobil," tambahnya.

Ada dua perusahaan startup level unicorn yang sudah disuntik Jepang, yakni Grab dan Go-Jek. Uang yang disuntikkan terbilang besar.

Go-Jek mendapatkan suntikan modal dari Mitsubishi Corp. Hingga sekarang, belum jelas berapa dana yang dikantongi Go-Jek dari Misthubishi.

Namun, suntikan modal dari Mitsubishi itu tergabung dalam pendanaan seri F yang dilakukan Go-Jek senilai US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun. Pendanaan itu juga berasal dari Google, JD.com, dan Tencent Holdings Ltd.

Berita Populer