•   Rabu, 20 November 2019
Bisnis Mikro

Bisnis Ritel Surabaya Lesu, Lebih Pilih Kulineran

( words)
Salah satu toko di Pasar Atum Surabaya yang berjualan batik, Jumat (5/7/2019) kemarin terlihat sepi. Bahkan omset bisnis ritel cenderung menurun


Hingga pertengahan tahun 2019, pelaku bisnis ritel masih mengeluhkan penjualan mereka. Meskipun Presiden Joko Widodo terus berupaya meningkatkan kenaikan ekonomi nasional hingga mencapai 5 persen.

Hal ini dialami langsung oleh beberapa pebisnis ritel di Surabaya. Seperti pantauan Surabaya Pagi di Pasar Atum Surabaya dan Plaza Surabaya alias Delta Plasa, Jumat (5/7/2019).

Pasar Atum Surabaya yang merupakan pasar legendaris di Surabaya dan menjadi sentral kunjungan wisata maupun kunjungan pedagang dari berbagai daerah.

Saat Surabaya Pagi telusuri ke para pendagang sebut dia Abdullah dan Sherly penjual kain batik, kain polos, dan jaz.

Kini keadaannya memperhatinkan, dagangannya sepi pengunjung. Abdullah mengatakan tidak seperti biasanya keadaan sepi pengunjung.

"Gak ada orang yang darang, kemaren juga ada yang lewat, yang biasanya ramai kalau jam-jam segini," Ucap Abdullah warga Kedinding ini, Pasar Atum Pabean Cantian Surabaya, Jumat (5/7/2019).

Dia melihat, dalam 6 bulan terakhir, omzet penjualan batik mereka cenderung stagnan bahkan menurun. "Beberapa akhir ini sepi, mas. Paling cuma langganan saja yang datang. Yah bisa dilihat sendiri. Omset berkurang padahal dulu-dulunya ramai," tandas dia.

Hal senada juga dialami oleh Yama penjual kain. Dia mengeluh lantaran usahanya belum ada pengunjung dari pagi hari. Dia terheran-heran, dan tidak mengetahui penyebabnya itu. Padahal sebelumnya Yama mempunyai pelanggan. "Belum laris, gak tau kenapa. Pembelinya yang gak ada," sebut dia.

Food Court dan Bioskop

Di tempat Mall Lainnya, Delta Plaza Surabaya yang lokasinya bersebelahan dengan Monkasel Surabaya (Submmarine Monumemt) ini. Termasuk Mall yang diminati oleh masayarakat Surabaya.

Namun siapa sangka, ada sebagian toko yang berjualan di tempat tersebut usahanya tidak terlalu signifikan perekonomiannya.

Rais manajer Toko Celcius provider baju, kaos, jaket, celana dan jeans. Ia menyampaikan bahwa toko miliknya itu traffic customernya tidak ada. Pengunjung, kata dia, lebih banyak ke Bioskop, Matahari, dan tempat foodcourt.

"Mall sepi, Traffic customernya di mana? Yang ramai paling matahari, foodcourtnya dan disini lebih kebanyakan orang-orang nonton bioskop," Ujar Rais dengan wajah melasnya itu.

Dalam sehari ini, sambung Rais, hanya 1 yang laku dari penjualan kaos anak muda itu. Dia mengatakan penyebabnya karena kalah branding dengan Tunjungan Plasa (TP) yang saat ini tambah besar.

"Kalau weekday sepi tapi kalau weekend lumayan.Penyebabnya ya karena TP itu yang besar ya. Kalah branding. Harusnya pengelola Delta juga ikut membantu menjualkan tenan-tenannya agar laris. Paling ujung-ujungnya jual online mas. Tapi itu yah masih belum nyucuk,” ucapnya.

Bukan Karena Online

Sementara Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Surabaya April Wahyu Widati mengatakan secara umum tren petumbuhan bisnis ritel tidak begitu bagus bila dibanding dengan tahun 2014.

Dimana pada tahun 2014, pertumbuhannya bisa mencapai 20 persen. Sementara hingga kini, hanya 4-5 persen.

“Ada beberapa penyebab (lesunya bisnis ritel). Gaya hidup yang berubah dan kesadaran kesehatan yang meningkat,” katanya.

Lebih Pilih Kuliner

Saat ini, kata dia, konsumen tak memusingkan kualitas kebutuhan pokok. Media sosial berperan penting mengubah gaya hidup itu. Orang lebih suka menyisipkan uang untuk pelesir dan eksis di media sosial, ketimbang mendapatkan bahan kebutuhan berkualitas wahid.

“Turunnya (konsumsi) bukan secara volume, tetapi secara value,” katanya.

Gaya hidup semacam itu memicu bisnis kuliner dan tempat nongkrong menjamur. Orang memilih memenuhi kebutuhan konsumsi di tempat-tempat seperti itu dibanding menstok barang kebutuhan pokok di rumah.

“Jika dulu sering belanja banyak untuk stok, mengisi kulkas dan camilan, sekarang mereka mengurangi konsumsi itu,” katanya.

Pemasaran Online

Selain itu, kesadaran hidup sehat dengan mengurangi konsumsi makanan dan minuman instan juga meningkat. Contohnya kecenderungan memilih minuman alami dibanding berkarbonasi.

“Ya itu tadi, ujung-ujungnya value yang berubah,” katanya.
Konsumen pun kini gemar berbelanja melalui cara online. Cara itu mengubah value sekaligus menggusur toko offline.

Sehingga jika industri ritel tak beradaptasi, dengan merambah pemasaran online, mereka akan sulit mempertahankan pasarnya. “Kami butuh modifikasi di dua sisi penjualan ini agar lebih baik,’ katanya. nmi

Berita Populer