•   Senin, 18 November 2019
Skandal Perusahaan Curang

Budi Akui Ada The Invisible Hand

( words)
Setia Budhijanto (dua dari kiri) bersama mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan (tengah baju putih) dan mantan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf dan Azrul Ananda (paling kanan) saat ground breaking the Frontage pada Agustus 2014 lalu. (Dokumen SP)


Dalam Proses Pembangunan The Frontage. Kini Orang Kepercayaan Dahlan Iskan ini, masih Janji Cari Investor yang Mau Tanggung Uang Publik Rp 123 M, sekaligus Bangun Proyek. Dia Bertekad akan Buka Semuanya secara Terang Benderang

Dari pemberitaan Surabaya Pagi edisi Senin (8/7/2019), terkait proses penyidikan dugaan penipuan yang diduga dilakukan oleh pengembang The Frontage, yakni PT Trikarya Graha Utama (TGU) yang belum rampung. Sejumlah pelapor alias pembeli apartemen dan kondotel The Frontage berusaha menagih proses laporan ke Kepolisian. Bahkan, beberapa mengirim pesan WA ke nomor redaksi. Mereka kesal dengan Setia Budhijanto, yang berjanji sejak Maret 2019 akan melanjutkan proyek. Tapi hingga awal Juli 2019, janjinya tak pernah direalisasikan. Padahal uang kastemer sebesar Rp 123 Miliar sudah diterima PT TGU. Mereka menuding janji Budhi ini untuk buying time, mengolor-olor waktu tak mau kembalikan dana kastemer.

Budi, sapaan Setia Budhijanto, saat dikonfirmasi Senin (8/7/2019) semalam, bahwa dia korban permainan tingkat atas. “Kasih waktu, saya akan buka semuanya. Siapa bosnya,” kata Budi, saat ditemui di Resto Ramayana, Mayjen Sungkono Surabaya, tadi malam.

Budi disebut bahwa dia dipakai orang-orang yang lebih tinggi pengaruhnya. Bahkan Budi, terdiam, bila yang ajukan kredit ke BTN, bukan dirinya. Ini yang disebut invisible hand.

Untuk itu, mulai Rabu (10/7/2019) esok, kita akan menurunkan liputan investigasi berseri membuka misteri invisible dugaan skandal The Frontage.

Liputan investigasi seri kedua ini melanjutkan laporan seri pertama yang kita lakukan sejak Januari 2019 hingga awal Juli 2019 lalu. Dalam investigasi ini, tim sudah menemui bos PT TGU yakni Setia Budhijanto, beberapa kali. Ada yang di kantornya Jalan Dukuh Kupang, kantor Surabaya Pagi dan sebelum Lebaran, di sebuah tempat di daerah Surabaya Timur. Saat itu, Budi, panggilan Setia Budhijanto, duduk bersampingan dengan Surabaya Pagi, bersama rekan-rekan bisnisnya, diantaranya beberapa pengurus REI Jatim, serta pejabat Pemprov Jatim.

Dalam pertemuan tersebut, Budi menyatakan telah memiliki investor baru untuk meneruskan proyek The Frontage yang mandek, sejak mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, tak menjabat lagi di pemerintahan. “Sudah ada investor dari Jakarta untuk meneruskan pembangunan ini. Ditunggu saja. Kita ini tidak ingin mengecewakan pembeli,” ujar Budi, dalam pertemuan itu, yang duduk berada disamping Surabaya Pagi.

Perkataan Budi ini juga hampir sama saat Budi diwawancarai wartawan Surabaya Pagi di kantor PT TGU di daerah Dukuh Kupang, 19 Maret 2019 lalu. Saat itu, Budi yang didampingi oleh Kristanto, ditemui di ruangannya, berjanji dalam waktu dekat, sudah mendapat investor.

“Proyek The Frontage masih dalam proses mencari investor. Dalam waktu dekat akan ada (investornya). Proyek tetap jalan dan direalisasikan. Kami tetap bertanggungjawab," tutur Budi kepadaSurabaya Pagi di kantor PT TGU, Selasa (19/3/2019).


Image

The Frontage Masih Mangkrak
Namun, hingga awal Juli 2109 ini, bangunan the Frontage di Jalan Ahmad Yani Surabaya, masih tetap unggukan semak belukar dan tanah lapang. Dari pantauan Surabaya Pagi Sabtu (6/7/2019), lokasi proyek yang berdekatan langsung dengan Universitas IAIN Sunan Ampel dan berseberangan dengan Gedung Jawa Pos ini belum ada tanda-tanda akan ada pembangunan.

Dilihat dari lantai atas gedung UINSA, tidak ada seorang pekerja proyek di lokasi. Sejumlah alat berat yang dulunya membuat bising warga, juga sudah tidak ada. Alat berat itu milik PT Waskita Karya Tbk, yang saat itu mengerjakan pemasangan paku bumi atau tiang pancang. Beberapa paku bumi yang ditancapkan masih ada. Namun ditumbuhi rerumputan.

Di lahan seluas 60 x 200 meter persegi itu, masih berdiri bekasbase camp pekerja proyek. Namun saat ini tidak lagi berfungsi. Justru lahan ini tampak seperti lapangan savana yang luas dan dipenuhi rumput-rumput dan tanaman liar. Di lahan itu juga terlihat ada lubang besar seperti kolam yang terisi air di sisi utara, berdekatan dengan Wonocolo Gang 1.

“Dulu lahan itu Pabrik Kulit peningalan Belanda. Setelah pabrik tersebut tidak produktif lagi, disewakan ke swasta sampai saat ini. Terakhir yang menyewa ini ya perusahaan yang akan membangunThe Frontage ini,” ujar Fahmi, dosen UINSA yang tinggal di Wonocolo, Surabaya.

TimSurabaya Pagi kemudian bergerak ke Jl. Ronggolawe No. 9, Kecamatan Tegal Sari, Kota Surabaya. Di lokasi ini berdiri Kantor pemasaran Apartemen The Frontage. Namun sekarang kantor ini tidak berfungsi lagi. Tidak ada lagi aktivitas jual-beli unit kondotel apartemen The Frontage. Justru kantor ini telah disewa pihak lain.

Antok, staf perusahan Digital Marketing yang baru menyewa kantor eks pemasaranThe Frontage itu menuturkan PT TGU sebagai pihak yang memasarakan The frontage sudah pindah lama. "Sudah pindah setahuh lebih, pindah kemana saya nggak tahu," ujar Antok saat ditemui Surabaya Pagi.


Image

Aktivitas Kantor PT TGU
Tim Surabaya Pagi lantas menuju ke kantor milik PT Trikarya Graha Utama (TGU) di Jl. Dukuh Kupang Barat IA/15, Kec. Dukuh Pakis, Kota Surabaya.
Senin (8/7/2019) siang kemarin, gedung PT TGU ini tampak sepi dari luar. Berdiri menjulang tiga lantai, kantor pengembang yang terkenal karena proyekThe Frontage ini adalah yang paling tinggi di antara rumah, gudang dan perkantoran lainnya di Jalan Dukuh Kupang Barat IA. Selain itu, kantor PT TGU ini juga yang paling rindang, lantaran terdapat pohon besar di halaman.

Beberapa mobil yang terparkir di bagian depan dan seberang kantor PT TGU, menambah kesan padatnya. Padahal, Jalan Dukuh Kupang Barat IA ini sepi lalulintas kendaraan. Yang terlihat acap kali melintas adalah petugas pengiriman paket (ekspedisi).

Sementara itu, desain lantai dasar gedung kantor PT TGU ini layaknya gedung-gedung perkantoran lainnya. Di bagian depan, terdapat tempat parkir yang penuh dengan puluhan kendaraan roda dua. Di bagian samping, terdapat lorong yang menuju parkir kendaraan roda empat.

Tidak banyak aktivitas berarti di lantai satu, selain dua orang staf dan asisten rumah tangga yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sementara di lantai dua, pemandangan yang sama juga terjadi. Hanya ada satu orang staf perempuan berjilbab yang sedang bekerja di balik meja. Di lantai yang sama, terdapat ruang meeting dan kantor direktur utama di mana Setia Budhijanto sehari-hari bekerja. Sementara direktur Kristanto, jarang sekali terlihat berada di kantor Dukuh Kupang Barat itu.

Nah, sementara di lantai tiga, di sinilah kesibukan yang sebenarnya terjadi. Puluhan anak muda tampak sibuk di depan layar komputer yang menampilkan desain-desain rumah, gedung maupun kantor via software desain. Di suatu sudut ruangan, terdapat sebuah rak yang penuh dengan dokumen portofolio PT TGU.

Budi Urus Proyek Lain di Lombok
Sayangnya, baik Setia Budhijanto dan Kristanto tidak berada di kantornya. Setia Budhijanto yang dihubungi melalui ponselnya 081231518xx mengaku berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Menariknya, saat ditanya ada pekerjaan apa di sana? Budhi mengaku sedang mengurus realisasi proyek perumahan bagi para anggota TNI.

Dikonfirmasi mengenai pemeriksaan oleh Polrestabes Surabaya, Setia Budhijanto mengaku telah diperiksa. Namun, dia enggan menjelaskan lebih detail apa-apa saja yang diperiksa polisi darinya. Menurut Budhi, sebagai warga negara yang baik, dia akan mengikuti proses hukum.

"Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, saya pasrah dan siap menghadapi proses hukum," cetus Setia Budhijanto, Senin (08/7/2019). "Maaf saya tidak bisa bicara banyak, mau kejar penerbangan ke Surabaya sore ini."

Periksa 8 Saksi
Sementara itu, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran enggan menyebut secara rinci sejauh mana perkembangan kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana kastemer apartemen The Frontage sebesar Rp 123 miliar. Namun, Sudamiran memastikan proses terhadap kasus tersebut masih berjalan.
"Masih proseskok. Ada yang diperiksa baik terlapor maupun pelapor. Kalau tidak salah ada lima orang dari pelapor, kalau terlapor tiga orang diperiksa," singkatnya saat ditemui Surabaya Pagi di Mapolrestabes, Senin (8/7) kemarin.

Seperti diberitakan, 60-an pembeli unit kondotel apartemenThe Frontage melaporkan pihak PT Trikarya Graha Utama (PT TGU) ke Polisi, karena merasa tertipu. Para korban ini terdiri dari lintas profesi, ada yang dari penegak hukum, polisi, dokter, dosen dan yang paling banyak berasal dari para pengusaha. Semula mereka membuat laporan ke Polda Jatim pada 4 Februari 2019, dengan tanda bukti laporan nomor LPB/143/II/2019/UM/JATIM. Namun laporan ini oleh Polda Jatim dilimpahkan ke Polrestabes Surabaya pada 20 Februari 2019. Pelimpahan perkara itu melalui surat Kapolda Jatim nomor : B/2105/II/RES/1.11/ 2019/ Ditreskrimum.

Dalam laporan itu, pembeli atau kastemer Kodotel ApartemenThe Frontage melaporkan direksi PT Trikarya Graha Utama dengan pasal penupuan dan penggelapan, yakni pasal 372 dan 378 KUHP. Direksi itu diantaranya Kristanto dan Setia Budhijanto. Diketahui, Kristanto semula menjabat direktur utama (dirut) PT TGU, yang kemudian posisinya diganti Setia Budhijanto hingga sekarang ini.

Namun, perkembangan kasus itu sepertinya jalan di tempat. Kuasa hukum kastamerThe Frontage, Rohman Hakim mengaku heran dengan sikap penyidik Polrestabes Surabaya. Padahal, menurut Rohman, sudah jelas adanya unsur penipuan dan penggelapan dalam jual-beli kondontel diThe Frontage.

Berita Populer