•   Sabtu, 14 Desember 2019
Peristiwa Politik

Bupati Saiful Minim Prestasi

( words)
Saiful Ilah


20 Tahun Berkuasa di Sidoarjo, Saiful Ilah hanya Dikenal “Raja Tambak”. Sedang Pembangunan Infrastruktur Belum Dirasakan Masyarakat Sidoarjo. Kini Dinasti Politik Saiful Ilah pun Siap Dilawan
”Di Sidoarjo (Bupati Saiful Illah), tidak ada hasil program pemerintah yang bisa dirasakan masyarakat. Tidak seperti Surabaya,"
Ketua DPD Partai Golkar Sidoarjo, Warih Andono.

Ali Mahfud, Rangga Putra dan Farid Akbar,
Tim Wartawan Surabaya Pagi

Bupati Sidoarjo Saiful Ilah yang disebut-sebut bakal mengusung putranya, Achmad Amir Aslichin, pada Pilkada Sidoarjo 2020, mulai dihitung kekuatannya. Ternyata, masih ada celah untuk melawan politik dinasti yang dijalankan Bupati Saiful Ilah yang dikenal “raja tambak” ini. Pasalnya, selama 20 tahun memimpin kota delta itu, yakni 10 tahun menjadi Wakil Bupati dan 10 tahun menjadi Bupati Sidoarjo, tak ada pembangunan yang mencolok. Padahal APBD Sidoarjo cukup besar. Tahun Anggaran 2019 disahkan Rp 4,3 triliun dan 2020 diajukan Rp 4,8 triliun. Begitu juga dengan putranya, Achmad Amir Aslichin yang akrab disapa Mas Iin ini. Saat menjadi anggota DPRD, prestasinya dinilai tak terlihat. Karena itulah, motif putra bupati yang akan diusung di Pilkada Sidoarjo 2020 ini dipertanyakan.
-----------------

Melihat peta kekuatan parpol hasil Pileg 2019, posisi Bupati Saiful Ilah dan putranya memang cukup kuat. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dipimpin langsung Saiful Ilah ini berhasil mendapat 16 kursi di DPRD Sidoarjo periode 2019-2024. Ini berarti PKB sudah cukup syarat mengusung calon bupati (Cabup) dan calon wakil bupati (Cawabup) sendiri pada Pilkada Sidoarjo 2020, tanpa harus koalisi.

Sedang parpol lainnya, PDI-P mendapat 9 kursi. Disusul Gerindra (7 kursi), PAN (5 kursi), Golkar (4 kursi), PKS (4 kursi), Demokrat (2 kursi), Nasdem (2 kursi), dan PPP (1 kursi).

Meski memiliki kekuatan politik yang cukup, namun selama Bupati Saiful Ilah memimpin Sidoarjo selama dua periode, dinilai belum banyak berprestasi. Dibanding dengan tetangganya, kota Surabaya yang dipimpin Tri Rismaharini, Sidoarjo masih ketinggalan.

Kemacetan dan Infrastruktur
Sebut saja soal kemacetan di kota Sidoarjo hingga Waru, yang merupakan akses utama Surabaya-Sidoarjo. Hingga menjelang masa berakhirnya periode kepemimpinan Saiful Ilah, tak kunjung teratasi.

Rencana membangun frontager road yang membujur dari Waru hingga Buduran, tak kunjung terwujud. Padahal lahan sudah dimulai sejak 2014. sedang targetnya tuntas pada 2021.

Informasi yang diperoleh Surabaya Pagi di kalangan DPRD Sidoarjo, Senin (18/11/2019), total lahan untuk frontage road mencapai 254 bidang. Baik tanah perusahaan maupun milik warga. Namun lahan yang baru dibebaskan baru 60 bidang. Padahal, frontage road ini tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Sidoarjo.

Belum lagi kelanjutan pembangunan jalan lingkar barat yang terhenti di daerah Candi. Lalu, masalah banjir yang setiap musim hujan menggenang di dalam kota hingga pelosok desa.

Saiful Ilah Minim Prestasi
Hal itulah yang membuat Bambang Haryo Soekartono, politisi Partai Gerindra mengaku tak takut menghadapi Bupati Saiful Ilah jika mengusung putranya di Pilkada 2020. Mantan anggota DPR RI 2014-2019 ini sudah mendaftar sebagai bakal calon bupati (bacabup) Sidoarjo di Partai Gerindra, setelah gagal ke Senayan di Pileg 2019 lalu. “Saya masih optimis di Pilkada (Sidoarjo) nanti,” tandas Bambang Haryo yang juga pengusaha kapal ini saat dihubungi Surabaya Pagi, Senin (18/11/2019).

Menurut Bambang, dari pengalamannya sebagai wakil rakyat di Senayan, Kota Sidoarjo dinilainya minim pembangunan, sehingga membutuhkan akselerasi pembangunan. Di samping itu, banyak ketimpangan infrastruktur yang terjadi.

Bambang mengklaim, selama dia menjadi anggota DPR RI, dia berhasil menyelesaikan hambatan pembangunan di Sidoarjo. Dengan kalimat lain, hal-hal yang tidak bisa diselesaikan oleh Bupati Saiful Ilah, diklaim Bambang bisa diselesaikannya. Oleh sebab itu, dia tidak khawatir berhadapan langsung dengan dinasti Saiful Ilah.

"Misalnya banjir di kanal-kanal itu tidak boleh terjadi, penanganannya sebetulnya bisa cepat. Lalu ada masalah persampahan dan kemacetan yang sebenarnya bisa diurai," ungkap Bambang.

Meski begitu, langkah Bambang bukan tanpa batu sandungan. Seperti yang sudah diketahui, Sidoarjo merupakan basis PKB. Mengetahui hal ini, Bambang Haryo yang merupakan kader Partai Gerindra, mengaku sudah menyiapkan langkah untuk mengatasinya, yaitu dengan menjaring pendamping dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

"Saya sudah berkomunikasi dengan beberapa kader NU Sidoarjo, ada beberapa yang santer disebut-sebut bakal maju. Namun, PKB sendiri tak kunjung menjatuhkan ke siapa rekomnya. Kita lihat saja, antara bulan Desember - Januari, nanti kami deklarasi," tutur Bambang.

Kalah dari Surabaya
Hal senada juga diungkapkan Ketua DPD Partai Golkar Sidoarjo, Warih Andono. Ia mengakui pembangunan yang dilakukan Saiful Ilah selama 10 tahun menjadi Bupati Sidoarjo tidak bisa dirasakan masyarakat banyak. Warih membandingkan dengan Kota Surabaya yang juga dipimpin Tri Rismaharini selama 10 tahun ini. Menurutnya, hasilnya sangat kontras. "Di Sidoarjo tidak ada hasil program pemerintah yang bisa dirasakan masyarakat. Tidak seperti Surabaya," ungkap Warih dihubungi terpisah, kemarin.

Contoh nyata soal pembangunan jalan. Surabaya bisa membangun frontage road di dua sisi Jalan Ahmad Yani, yang dulunya jadi titik kemacetan. Kini, kemacetan itu pindah ke Sidoarjo, mulai Waru, Aloha, Gedangan hingga Buduran.

Butuh Modal Besar
Mengenai politik dinasti Saiful Ilah yang akan mengusung anaknya di Pilkada 2020, Warih enggan berkomentar banyak. Menuritnya sah-sah saja, karena politik dinasti tidak dilarang oleh Undang-undang. "Nanti kembali ke masyarakat, mau milih apa tidak,” ujar anggota DPRD Sidoarjo 2019-2024 ini.

Untuk mengalahkan politik dinasti Saiful Ilah, menurut Warih, susah-susah gampang. Tergantung seberapa besar modal yang dimiliki calon. Sebab, menurutnya, politik dinasti di Sidoarjo masih bisa diruntuhkan asalkan dengan kekuatan modal yang lebih besar, untuk meraih suara yang lebih besar dari masyarakat. "Karena pragmatis di Sidoarjo masih kental," tandasnya.

Mas Iin Gerilya


Image

Sementara itu, Achmad Amir Aslichin alias Iin tampaknya siap menghadapi Pilkada Sidoarjo 2020. Ini terlihat dari “gerilya politik” yang dilakukannya. Seperti kegiatan “Semalam Nusantara Sidoarjo” yang digelar di alun-alun Sidoarjo, 9 November 2019 lalu. Acara ini dihelat Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Sidoarjo yang diketuai Iin.

Dalam acara itu, sebanyak 17 etnis dari Jawa, Toraja, Padang, Batak, NTT, Ambon, Sunda, Minahasa, Flores, Papua, Nias, Madura, Bugis, Manado, Arab, Aceh, Maluku sampai Tionghoa, menampilkan seni dan budaya khas masing-masing daerah. Turut hadir dalam acara tersebut Bupati Sidoarjo H. Saiful llah, Wabup Sidoarjo H. Nur Ahmad Saifuddin, para anggota DPRD Sidoarjo, Perwakilan Forum Pembauran Kebangsaan Provinsi Jawa Timur, serta Forkopimda Sidoarjo.

Beberapa waktu lalu, Bupati Saiful Ilah yang juga Ketua DPC PKB Sidoarjo, menyatakan bakal all out mendukung putranya maju di Pilkada Sidoarjo 2020. Bahkan, bupati yang akrab disapa Abah Ipul ini mengungkapkan blak-blakan siapa bakal calon Bupati (bacabup) Sidoarjo Periode 2021 - 2026 yang akan diusungnya itu.

"Sebenarnya, anak saya (Achmad Amir Aslichin alias Iin, red) ini tidak pernah bicara, apalagi soal pencalonan dirinya sebagai Bupati Sidoarjo. Kebetulan, saya lihat foto anak saya itu ada di koran, disebut masuk salah satu kandidat bupati. Saya langsung nelpon istri saya terkait hal itu. Ternyata, istri saya memberikan restu. Oleh karena, istri saya merestui, saya sebagai suami dan bapak tentu mendukungnya. Bahkan, saya akan all out," ungkapnya di hadapan wartawan.

Iin sendiri mengaku memang ada dorongan kelompok masyarakat agar dirinya mencalonkan diri sebagi bupati Sidoarjo menggantikan ayahnya yang sudah dua periode memimpin Sidoarjo. Sebagai kader PKB, dia mengaku sedang menunggu perintah dari partai untuk maju di kontestasi pilkada Sidoarjo tahun depan. "Sebagai kader partai harus tunduk kepada perintah partai jika nanti ada perintah untuk maju," kata Iin yang sekarang ini menjadi anggota DPRD Jatim periode 2019-2024.n

Berita Populer