•   Selasa, 28 Januari 2020
Otonomi Daerah

Bupati Tuban Optimis Kembangkan Ekonomi lewat Batik

( words)
Bupati Tuban H. Fathul Huda mengunjungi rumah batik ramah lingkungan milik salah seorang warga.


SURABAYAPAGI.COM, Bupati Tuban H Fathul Huda bersama Badan Amil dan Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Timur dan Pusat meluncurkan program batik ramah lingkungan di desa Sumurgung, Tuban, Kamis (24/10).

Sebelum meluncurkan program yang namai Eco Fashion Community (EFC) ‘Putri Berdikari Batik’ itu, dilaksanakan penanaman pohon yang nantinya dijadikan sebagai bahan pewarna alami pada batik, sekaligus mengunjungi salah satu rumah produksi batik milik warga.

Hadir pula pada kegiatan ini, Dr. Abdusalam Nawawi, MAg Ketua Baznas Jatim, Letkol Inf. Viliala Romadhon Dandim 0811/Tuban, perwakilan Sahabat Pulau, Camat dan Forkopimka Tuban, Kades beserta perangkat desa dan warga desa Sumurgung.

Dalam momen itu, H. Fathul Huda menyampaikan program yang diadakan oleh Baznas selaras dengan kebijakan Pemkab Tuban dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat di Bumi Wali Tuban.

Diharapkan pula, program pemberdayaan masyarakat ini dapatnya dikelola dengan profesional sehingga mampu meningkatkan perekonomian warga.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas terselenggaranya program ini bagi warga desa Sumurgung,” ungkapnya.

Bupati dua peridoe tersebut juga menyampaikan jika pada tahun 2020 mendatang, ditargetkan Baznas Tuban dapat menerima zakat hingga 10 milyar. Menurutnya, jumlah tersebut terbilang realistis mengingat di tahun 2019 Baznas Tuban telah dapat menerima zakat hingga 9 milyar.

Sementara itu, perwakilan Baznas Pusat, Ir. Nana Mintarti, MP., menerangkan program EFC ini merupakan program pemberdayaan masyarakat dengan konsep Zakat Community Development (ZCD). Program ini ditujukan kepada pengrajin batik di desa Sumurgung dengan total penerima sebanyak 30 KK.

Pengembangan batik ramah lingkungan ini, diharapkan mampu mengurai masalah lingkungan terutama pada pemanfaatan limbah organik sisa pasar yang selanjutnya dapat dipungut untuk diolah menjadi pewarna.

"Kan banyak limbah sampah organik sisa dari pasar yang bisa dimanfaatkan, misal buah naga yang sudab busuk, kunyit, dan lainya," tuturnya.

Pihaknya bekerja sama dengan Sahabat Pulau untuk memberi pendampingan bagi masyarakat tentang budidaya tanaman sebagai pewarna batik.

Dari metode ini, nantinya selain pengembangan batik, juga dapat memberdayakan warga melalui penanaman tanaman pewarna batik.

"Kalau batik ramah lingkungan ini dapat menjadi ikon, ditiru oleh desa dan orang lain, kan petani bisa menjadi pemasok bahan pewarna tanaman, yang diuntungkan juga petani tanaman tersebut," pungkasnya.

Berita Populer