Camat Sukolilo: Kawasan Kertajaya Indah, Aman

Gambar visual by SP

 

 Warga di Perumahan Darmo Grande, Kertajaya Indah, Dharmahusaha Mas dan Pakuwon Indah, Menyatakan tak Diresahkan Warga Terkapar virus Corona

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Penyebaran virus Covid-19 di perkampungan Surabaya dikabarkan mulai melandai, namun penyebaran di perumahan mewah malah meningkat. Temuan kasus baru di kawasan perumahan (elit) berdasarkan hasil tracing pasien positif Covid-19. Untuk menghindari penyebaran yang semakin luas, Walikota Surabaya meminta para stakeholder ya untuk menjaga wilayah kawasan menengah atas.

Wali Kota Tri Rismaharini, menyebut bahwa 90 persen kenaikan angka Covid-19 berasalkan dari perumahan elit. Namun, sayangnya, Wali Kota Risma tidak mendetailkan perumahan elit disebelah mana. "Jadi, presentase kenaikan kemarin itu rata-rata menengah ke atas, 90 persen di perumahan mewah," kata Risma.

Bahkan, menurut Wali Kota Risma, di kawasan perkampungan justru sudah menurun, berkat adanya Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo yang diinisiasi oleh Pemkot. Alasan Risma, dari hasil tracing, warga yang tinggal di perumahan mewah dikarenakan sering bepergian keluar kota dan keluar negeri.

 Untuk menelusuri apakah daerah elit banyak meningkat pasien positif Covid-19, tim Surabaya Pagi melakukan undercover di beberapa daerah perumahan elit seperti di Kertajaya Indah yang berada dibawah wilayah Sukolilo, Pakuwon Indah yang masuk wilayah kecamatan Wiyung, Darmo Grande dan Darmo Satelit Town yang berada dibawah wilayah Kecamatan Sukomanunggal.

Kecamatan Sukolilo saat didatangi Surabaya Pagi, ditemui Camat Sukolilo, Amalia Kurniawati menuturkan bila hingga saat ini perumahan mewah yang dibawah naungan kecamatan Sukolilo dapat dipastikan masih aman. "Sukolilo alhamdulilah aman, justru kami malah mendapat limpahan dari luar kota yang tempat-tempat kost begitu. Kalau perumahan elit justru aman malah, tak ada," ungkap Amalia, kepada Surabaya Pagi, Kamis (2/7/2020).

 

Berkat Himbauan Rapid Test

Ia menjelaskan bila dengan bantuan rapid test massal yang sempat dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Surabaya yang juga bekerjasama dengan Badan Intelejen Negara atau BIN dapat membantu pihaknya untuk melakukan pendataan terhadap warganya.

Hal ini setelah Amalia menanyakan kepada warganya yang kebanyakan melakukan rapid test yang di anjurkan oleh perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja untuk melakukan pengecekan kesehatan. "Setelah aku tanya begitu, rata-rata di suruh perusahaan untuk mengecek kesehatan melalui rapid test kemarin walaupun rapid test massal. Saya kira ini bagus karena perusahaannya cukup peduli," jelasnya. Bahkan, tambahnya, untuk wilayah perumahan mewah seperti Kertajaya Indah, dari data yang dimiliki Kecamatan Sukolilo, tidak ada peningkatan.

 

Kesadaran Warga Sukolilo Tinggi

Lanjutnya, Amalia mengungkapkan bila timbulnya kesadaran dari warga dilingkungan kecamatan Sukolilo dapat membuat kawasan kecamatannya lebih aman. "Karna ada kesadaran juga dari warga sukolilo dengan mengikuti rapid test massal begitu. Iya mohon doanya saja supaya tetap aman," harapnya.

Sementara, di daerah Pakuwon Indah, saat Surabaya Pagi mencoba menggali di Kecamatan Wiyung, menjelaskan, data pasien Covid-19 di perumahan mewah, tidak begitu banyak terlihat. Salah satu staf yang saat ditemui depot dekat Kecamatan Wiyung, menjelaskan tidak banyak yang terpapar. “Seingat saya, tidak terlalu banyak sih mbak. Tapi data ada di Kecamatan. Sayangnya Bapaknya keluar,” ujar salah satu staf yang enggan namanya disebutkan.

 

Warga Perumahan Elit Protes

Terpisah, beberapa pengurus RW di Kupang Indah, Kupang Baru dan Darmo Permai terkejut ada tudingan rumah elit jadi klaster baru. “ Mestinya Bu Wali, menunjuk kawasan perumahan elite mana?, Tidak gebyah-uyah,” jelas Soewignyo, warga perumahan Darmo Satelit Town Kupang  Baru, kepada Surabaya Pagi, Kamis (2/7/2020).

Ia mengatakan, selama pandemi covid-19, warganya tenang dan banyak yang tinggal di rumah. “Mereka berduit, sering beli gojek dan jarang makan di resto. Padahal Jalan Kupang Indah pusat aneka resto,” tambah Bu Kus, yang sudah berdomisili di Kupang Baru sejak tahun 1992, kepada Surabaya Pagi, semalam.

Sementara itu seorang pegawai kelurahan Sonokwijenan Sukomanunggal Surabaya, menyatakan selama tiga bulan tidak ada laporan kematian dari warganya. Bahkan  sekuriti yang berjaga mendirikan posko “Kampung Tangguh”, memeriksa masker setiap warga-tamu yang keluar masuk.

Demikian perumahan elit Dharmahusada Mas. Pengelola manajemen estate perumahan di kawasan Surabaya Timur, menegaskan warganya tenang tak ada keresahan tentang warga terkapar covid-19.

 

Jangan Dilihat Klaster Ekonomi

Lantas, pakar Sosiologi Universitas Airlangga Surabaya, Prof Bagong Suyanto jangan dlihat dari perumahan mewah atau perkampungan. Pasalnya, data profil ini banyak dari klaster pekerjaannya.

"Sebetulnya data profil korban covid itu saya tidak tau bisa di share terbuka atau dilihat klaster nya dari permukiman mewah atau tidak. Kalaupun iya, mungkin faktornya bukan klaster tapi lebih pada pekerjaannya. Misal tenaga medis kan lebih rawan," tutur Bagong, Kamis (2/7/2020).

Bagong juga mengungkapkan bahwa tida ada kemungkinan klaster baru yang berasal dari kelas ekonomi, sebab menurutnya Covid - 19 sudah mengancam lintas kelas. "Jadi, mungkin tidak berkaitan dengan kelas ekonomi. Tetapi profesi apakah yang lebih bersentuhan atau berhubungan dengan banyak orang atau tidak. Kalau menurut saya bukan soal kelas, karena covid ini sudah lintas kelas" ungkapnya.

Disinggung soal protokol kesehatan, Bagong menerangkan bila ada kemungkinan kecil dari protokol kesehatan yang belum dipenuhi dan belum dapat dipastikan sebab-sebab dari faktor pasti penularan Covid - 19. "Bisa jadi protokol kesehatan kurang ya, tapi ini hanya dugaan dan belum tau faktor pastinya bagaimana" ungkapnya.

 

Semua Sektor Mudah Tertular

Senada dengan hal tersebut, Andri Arianto, MA selaku akademisi FISIP Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya menjelaskan bila belum ada pihak yang dapat memastikan bagaimana pola persebaran dari virus Covid - 19. "Itu membuktikan bahwa pola persebaran itu belum bisa diduga dari penyakit ini. Vaksinnya juga belum final karena masih dalam penelitian dan pengembangan, lalu belum ada yang bisa memastikan pola persebarannya bagaimana," ujarnya.

Menurut Andri, meskipun perumahan yang memiliki sifat lebih homogen dan tertutup, tapi tetap saja memiliki potensi untuk rawan terkena. Ia melanjutkan bila kebetulan telah terbentuk kampung tangguh yang menjadi salah satu cara untuk menekan persebaran virus Covid - 19 di wilayah perkampungan.

"Semua sektor akan rawan terkena. Yang bisa dipastikan adalah pemerintah memastikan protokol kesehatan. Kebetulan di kampung ada protokol kesehatan yang disebut kampung tangguh wani jogo sudah sangat bagus sebagai salah satu cara untuk menekan itu" lanjutnya.

Andri menambahkan bila munculnya kasus positif dari lingkungan atau wilayah perumahan elit bukanlah masalah besar, hal ini akan membuat kerja pelacakan dikota Surabaya menjadi lebih baik. "Menurut saya tidak ada masalah bagaimana dikampung dan di perumahan bila ada kasus positif, itu malah semakin baik untuk Surabaya karena pelacakannya bisa total. Agar tidak meraba di perkampungan atau di perumahan elit. Hal ini tidak ada masalah, maka akan semakin baik untuk Surabaya supaya di buka saja daripada di tutup-tutupi dan menjadi masalah di kemudian hari. Tinggal penanganannya kedepan bagaimana," imbuhnya.

 

Menengah Bawah Masih Banyak

Terpisah, Dr. Alfian Nur Rosyid Sp.P yang bertugas di Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya atau RSUA akan dilayani bahkan diijinkan untuk melakukan aktivitas di atas ranjang dengan beberapa fasilitas yang tersedia di rumah sakit.

"Siapapun dilayani kalau berobat ke Rumah Sakit Unair. Kita juga memberi motivasi agar pasien bisa sembuh, diijinkan aktivitas ringan diatas ranjang/sebelahnya, diberikan fasilitas WiFi gratis dan boleh membawa HP sehingga tetap bisa terhubung dengan keluarga di rumah, konsultasi dengan  psikiater bila diperlukan" terangnya.

Hal berbeda disampaikan oleh Arief Bakhtiar,dr.SpP(K),FAPSR Dokter Spesialis Paru-Paru RSUD Dr. Soetomo Surabaya, mengungkapkan bahwa salah besar bila menganggap pasien kasus dari kalangan atas, sebab virus Covid - 19 tidak memandang kalangan.

"Salah besar, masih banyak dari kalangan menengah ke bawah yang sakit. Penyebaran virus ndak pandang bulu, semua bisa terkena walaupun risiko lebih besar dimiliki oleh mereka yang punya penyakit komorbid. Saya hanya bisa memberitahu pasien Covid-19, bahwa sebagian besar pasien Covid akan sembuh dengan imunitas yang baik dan berpikir positif serta tawakal akan meningkatkan imun kita ungkapnya" pungkasnya. byt/tyn/pat/rm/rmc