•   Rabu, 8 April 2020
Ekonomi China

Chongzhen, Kaisar Terakhir Dinasti Ming yang Mati Gantung Diri

( words)
Kaisar Chongzhen. SP/AND


Napak Tilas Kekaisaran Dalam Dinasti China Kuno (13)
SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Kaisar Chongzhen,6 Februari1611-25 April1644 yaitu kaisar ke-16 dan terakhir dariDinasti Ming. Dia bertahta dari tahun1627 sampai 1644. Terlahir dengan nama Zhu Youjian, anak kelima dariKaisar Taichang.

Chongzhen tumbuh dalam babak yang terkait yang relatif tenang karena dia yaitu putra paling bungsu dari Kaisar Taichang sehingga tidak dijadikan objek perebutan kekuasaan seperti yang pernah dialami oleh kakaknya,Kaisar Tianqi.

Tahun 1627, kakaknya mangkat dan dia mewarisi tahta, umurnya waktu itu baru 18 tahun. Tidak seperti kakaknya yang bergantung pada kasimnya, Wei Zhongxian, dia berusaha memerintah secara independen. Chongzhen menyingkirkan Wei dan Selir Ke 5 yang telah lama memerintah di belakangan layar. Wei diasingkan ke Fengyang, provinsiAnhui dimana dia bunuh diri tak lama kemudian. Demikian juga 262 kroni-kroni Wei, mereka diasingkan, dipecat, dan dieksekusi atas perintahnya.

Chongzhen berusaha memerintah tanpa tergantung para kasim dan sebisa mungkin menyelamatkan dinastinya yang sudah bobrok. Dia rajin menghadiri rapat-rapat pemerintahan. Ketika mendengar bencana kelaparan di suatu kawasan dia memerintahkan penanganan segera.

Sayang, maksud baik Chongzhen terhalang oleh korupsi yang telah menggerogoti tubuh pemerintahan dan kas negara yang makin menipis. Hal ini membuat aci lebih sulit berusaha menemukan pemegang jabatan yang kompeten untuk mengisi posisi penting dalam pemerintahan. Yang lebih parah yaitu sifat Chongzhen yang paranoid, dia cenderung mencurigai pejabat-pejabat yang kompeten dan menjatuhkan hukuman mati dengan gegabah terhadap mereka. Salah satunya yang dijadikan korban yaitu Yuan Chonghuan, jendral yang bermanfaat agung menahan serbuan sukuManchu selama bertahun-tahun di perbatasan utara.

Kematian Yuan Chong Huan berdampak besar pada moral para prajurit seluruh kerajaan memudahkan bangsa Manchuria memporak-porandakan kota-kota penting Ming, dan menuju ibukota. Bersamaan dengan hal tersebut Li Zi Cheng memimpin pemberontakan dan menyerbu istana. (Ia kemudian berkuasa selama 100 hari sebelum akhirnya Qing merebut kerajaan).

Selama tujuh belas tahun masa pemerintahannya, dia telah menggonta-ganti penasehat tinggi kerajaan sebanyak tiga masyarakat karena ketidapercayaan dan rasa curiga. Ketidakadilan ini menimbulkan rasa tidak tenang di kalangan rakyat dan saling tidak percaya dan pecahnya kekompakkan di sela para pemegang jabatan. Dalam tubuh pemerintahan pun terjadi krisis sumberdaya manusia. Inilah yang mempercepat runtuhnya Dinasti Ming.

Dalam dekade 1630-1640an, Dinasti Ming telah menunjukkan tanda-tanda kejatuhannya, bencana alam dimana-mana dan juga pemberontakan kaum petani. Serbuan suku Manchu dari utara makin memperkeruh situasi. April 1644, pasukan petani Dashun dibawah pimpinan Li Zicheng menginvasi ibukotaBeijing.

Pada saat-saat terakhir kejatuhannya, Chongzhen mengumpulkan pemegang jabatannya untuk mendiskusikan situasi. Dia memerintahkan orang-orangnya membunyikan genderang dan lonceng sebagai tanda memanggil pejabat-pejabatnya untuk rapat darurat, namun tak seorangpun hadir pada saat yang kritis itu. Dia lalu pergi ke rumah Zhu Chunchen, bangsawan Ming yang juga salah satu pemegang jabatan tingginya. Akibatnya penjaga rumah Zhu tidak membukakan pintu untuknya. Chongzhen terpaksa kembali ke istana dengan penuh kekecewaan.

Chongzhen lalu mengumpulkan keluarganya dan memerintahkan mereka (kecuali putra-putranya) bunuh diri daripada menyerah pada musuh. Nyaris semua dari mereka melakukan apa yang diperintahkannya, termasuk permaisuri yang menggantung dirinya, seorang selir yang menyorongkan bunuh diri dibunuhnya sendiri dengan pedang. Seorang putrinya, Putri Chang Ping yang juga menyorongkan bunuh diri ditebas lengan kirinya sampai putus. Kemudian bersama seorang kasimnya dia pergi ke Jingshan, bukit belakangan istana. Disana Chongzhen menggantung dirinya di sebuah pohon, kasim yang menemaninya juga turut gantung diri setelah membantu junjungannya bunuh diri. Dengan demikian berakhirlah riwayat Dinasti Ming yang telah menguasai Tiongkok selama 276 tahun.

“Saya tak memiliki pandangan dan lemah dalam bertindak, demikian mengapa langit menghukum dan para mentri berbuat salah kepada ku. Tak memiliki wajah untuk menghadap para leluhur, aku akan meletakkan mahkota ku dan menutupi wajah ku dengan rambut. Mutilasi lah tubuh ku sesuka hati kalian, tetapi janganlah menyakiti satupun rakyat jelata.”

Berita Populer