•   Jumat, 6 Desember 2019
Pilpres 2019

Debat Capres Terusik, Masih adakah Pertanyaan “Serangan”

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Catatan Akal Sehat Demokrasi Indonesia Pilpres 2019 (3)

Debat Capres 2019 pertama dijadwalkan terselenggara tanggal 17 Januari minggu depan. Rencana debat ini, sampai sore kemarin masih jadi polemik diantara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga.
Polemik tentang pemberian daftar pertanyaan ke pasangan masing-masing capres dan cawapres oleh KPU. Tujuannya agar gagasan yang disampaikan dalam debat bisa lebih diuraikan dengan jelas dan utuh.
Dengan dibukanya kisi-kisi pertanyaan debat, tim BPN menuding capres Jokowi, yang paling diuntungkan. Sebaliknya, jubir TKN, Arya Sinulingga, mengungkap rapat internal antara tim Jokowi serta tim Prabowo dan KPU. Rapat membahas soal debat capres. Dalam rapat itu, tim Prabowo, yang diingat pertama kali yang meminta kisi-kisi pertanyaan ke KPU.
Peristiwa semacam ini, menurut akal sehat saya, menunjukan sikap kekanak-kanalan (childish) dari kedua kubu. Artinya, politisi kedua capres, meski usianya telah dewasa, tetapi masih tidak bisa meninggalkan sifat dan karakter kekanak-kanakan.
Akal sehat saya menilai, dua kubu capres/cawapres sepertinya belum mampu mengidentifikasi persoalan bangsa. Artinya, meski sejak awal, masing-masing diberi pemahaman perlu memasukan visi dan misi dalam jawaban, tetapi dalam perdebatan seminggu lalu, mereka sepertinya belum bisa menganalisis persoalan bangsa melalui visi-misi dan penjabaran program kerja.
Apalagi urusan pertanyaan pertanyaan dalam debat capres 17 Januari nanti, ini dikaitkan juga dengan urusan bank soal. Terkesan, diantara mereka yang terlibat dalam rapat tersebut, ada pihak yang berpikir debat capres seperti ujian debat.

***
Mengikuti polemik soal ini, akal sehat saya mengatakan, sepertinya kedua kubu tak paham atau pura-pura tak mengerti bahwa debat yang disiarkan TV secara nasional merupakan salah satu metode kampanye, bukan satu-satunya.
Melalui debat yang disiarkan oleh TV-TV berita, publik yang menjadi pemirsanya dapat memilih secara ikhlas, siapa sebenarnya capres–cawapres yang memiliki visi, misi, dan program yang jelas untuk mensejahterakan seluruh masyarakat Indonesia, kaya sampai miskin.?
Akal sehat saya mengatakan, dengan debat capres yang tak ada rekayasa soal persiapan pertanyaan (kecuali topik atau tema), publik yang kritis atau berpikir rasional akan tahu visi tiap-tiap capres dan misinya untuk membangun bangsa. Sekaligus program-programnya untuk mengatasi berbagai masalah rakyat yang multicultural.
Dengan debat capres tanpa rekayasa, akal sehat saya berkata, secara obyektif, publik bisa memberikan penilaian yang obyektif dan bukan berdasarkan informasi yang sepotong.
Pengalaman saya mengikuti debat capres tahun 2014 lalu, memetik penilaian bahwa inti utama dari debat adalah penyampaian gagasan untuk mensejahterakan umum (Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945).
Mengikuti polemik tentang pemberian pertanyaan satu minggu sebelum debat, sepertinya peserta debat capres sedang “diajari” untuk bersiap mengisi acara kuis yang berisi tebak-tebakan. Cara hapalan dari pertanyaan yang diberikan, menurut akal sehat saya, bisa melenceng dari substansi topik bahasan.

***
Semalam saat saya merampungkan catatan akal sehat ini sempat tertawa. Bagaimana? adanya pertanyaan disampaikan satu minggu sebelum debat, sepertinya KPU ingin menciptakan debat capres 17 Januari mendatang tak ubahnya pertunjukan atau show yang menghibur pemirsa TV. Show seperti variety show Korea atau pertunjukan lawakan.
Benarkah, pemberian kisi-kisi pertanyaan kepada para pasangan calon presiden dan wakil presiden seminggu sebelum debat, sebagai cara untuk menghindari adanya paslon yang dipermalukan ketika debat berlangsung.
Saya tercengang membaca alasan dari seorang komisioner KPU yang sampai berpikir, mencegah permalukan capres-cawapres yang berdebat.
Akal sehat saya, menolak argumentasi seperti itu. Urusan Capres-cawapres malu, permalukan atau dipermalukan ini sepenuhnya “otoritas” capres-cawapres dan timsesnya.
Mengingat salah satu syarat seseorang capres yang akan melakukan debat publik, harus dapat memiliki kemampuan teknis dalam mengurai masalah dengan baik, di depan publik. Kemampuan teknis seperti ini diperlukan, terutama saat negara menghadapi persoalan yang memerlukan solusi yang cepat dan tepat.
Jadi, sekiranya dalam debat capres-cawapres tanggal 17 Januari 2019 nanti ada yang mempermalukan publik, itulah konsekwensi pejabat publik untuk tingkat suatu Negara. Bila dalam debat publik ada capres atau cawapres sampai titik mempermalukan (dirinya dan koalisinya) harus siap-siap untuk tidak dipilih dalam Pilpres 2019 yang diselenggarakan 17 April 2019.

***
Bagi orang-orang yang mau menggunakan akal sehatnya, ruang debat adalah ruangan yang bisa ditonton banyak orang. Apalagi ruang yang diberikan oleh media televisi.
Ruang terbuka untuk publik semacam ini adalah kesempatan emas bagi capres-cawapres untuk mencuri perhatian para pemilih. Sekaligus untuk ”memamerkan kebolehan” dalam berdebat, adu argumentasi dengan capres-cawapres kompetitornya.
Debat publik adalah ‘’panggung’’ bagi calon presiden yang ingin mendapatkan kekuasaan. Tentu, gambaran yang baik maupun yang tidak baik, serta sosok capres yang berkualitas ataupun yang tidak berkualitas. Bahkan dalam berargumentasi, bisa diserap aspek kecerdasan emosionalnya. Apakah seorang capres-cawapres yang kini berkampanye bermoral ataupun yang tidak bermoral.
Akal sehat saya mengakui bahwa debat dalam konteks kampanye merupakan sesuatu yang urgen dan penting. Artinya debat publik menjadi salah satu faktor dan bukan satu-satunya, dari tinjaun naik-turunnya elektabilitas seorang capres-cawapres.
Menurut akal sehat saya, suasana debat seperti nanti tanggal 17 Januari, adalah momen yang cukup berat bagi petahana.
Akal sehat saya memprediksi, capres Prabowo-Cawapres Sandiaga, sebagai penantang akan dengan leluasa melakukan kritik terhadap berbagai kekurangan dan kekeliruan pada kinerja capres Jokowi sebagai petahana. Bahkan sebagai penantang, Prabowo, sekaligus bisa menyampaikan gagasan-gagasan baru yang dirasakan lebih benar dan segar dibanding gagasan yang telah dijalankan oleh petahana.
Bahkan sebagai penantang, Prabowo juga bisa menyampaikan data pembanding mengenai banyak persoalan kebangsaan selama petahana berkuasa. Persoalan yang dikupas bisa menyeluruh dari aspek ekonomi, sosial, politik, keamanan dan budaya bahkan urusan pemberantasan korupsi. Sebagai penantang, capres Prabowo, juga bisa menampilkan kritik-kritik tajam dengan data dari sang petahana.
Akal sehat saya juga memperkirakan, Jokowi sebagai petahana, bisa memanfaatkan debat di media televisi nanti untuk menyampaikan keberhasilan dan kesuksesan program-program nyatanya. Sekaligus manfaatnya.
Bukan tidak mungkin, sebagai petahana, capres Jokowi bisa menjawab balik semua kritik dari capres Prabowo. Menjawab melalui data statistik atau fakta di lapangan yang dapat dilihat secara gamblang.

***
Menurut akal sehat saya, debat capres tanggal 17 Januari nanti, sadar atau tidak, ada hak publik yang tidak bisa diabaikan.
Dalam debat capres yang disiarkan langsung nanti, publik berhak tahu, seperti apa gambaran nyata program tiap-tiap capres-cawapres.
Gambaran nyata program yang tidak hanya fisik, tetapi juga cara atau pola berpikir masing-masing capres dalam membaca problem kerakyatan, kebangsaan dan kemajemukan Indonesia. Sekaligus solusi baru yang ditawarkan. Misal, soal politik identitas dan perlakukan intoleransi yang dua tahun terakhir ini dicemaskan oleh sebagaian warga Negara Indonesua.
Apalagi dalam debat nanti ada enam panelis yang kualitas akademik dan kecerdasan intelektualnya tidak diragukan. Akal sehat saya mengatakan, setiap capres-cawapres sejak sekarang sudah harus mengantisipasi berbagai pertanyaan kritis dan sistematis dari para panelis yang ada.
Wartawan seperti saya, jujur mengaku termasuk tipologi pemilih rasional dan kritis. Saya termasuk mengharapkan capres-cawapres yang berdebat mulai tanggal 17 Januari nanti, warga Negara terbaik diantara 260 juta penduduk Indonesia yang memiliki orientasi tinggi pada policy-problem-solving dan bukan mempolitisasi politik identitas.
Sebagai salah satu pemilih rasional, akal sehat saya akan mengutamakan kemampuan capres-cawapres memaparkan program kerja mengatasi kemiskinan, pengangguran dan kewirausahaan rakyat kecil, bukan usaha kelas menengah atas.
Tiga hal ini menurut akal sehat saya adalah tawaran program untuk menyelesaikan persoalan kekinian Indonesia yang lebih 50% pemilihnya anak muda.
Paparan tiga hal urgent ini bisa saya simak dari kecerdasan emosional masing-masing capres-wawapres. Mengingat, kata Daniel Goleman, psikolog lulusan Harvard University dan penulis buku Emotional Intelligence, bahwa keberhasilan seseorang dalam hidupnya tidak terutama disebabkan oleh IQ-nya, tetapi memanajemeni emosionalitasnya.
Bahkan, John D. Mayer dari University of New Hampshire , menegaskan, kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk memikirkan dan menggunakan emosi untuk meningkatkan kemampuan berpikir.
Nah, siapa diantara capres-cawapres nanti yang memiliki kemampuan berpikir dengan menggunakan emosi yang dimanajemeni?. Mari kita tunggu.
Seperti dalam debat capres tahun 2014 lalu, dalam, debat capres selalu ada sesi "menyerang", ada kesempatan memberi argumen dan pendapat.
Pertanyaan akal sehat saya, apakah mengusik pertanyaan jelang debat capres, masih adakah pertanyaan-pertanyaan “Serangan’’ dari masing-masing capres-cawapres yang berdebat nanti?
Dalam kesempatan itu, menurut akal sehat saya, publik bisa menyimak mana capres dan cawapres yang melakukan pertanyaan “serangan” secara proporsional dan mana yang tidak. Dalam sesi ini publik bisa mengukur kecerdasan intelektual dan emosional dua capres dan cawapres yang layak dicoblos tanggal 17 April 2019 nanti. (tatangistiawan@gmail.com,bersambung)

Berita Populer