•   Minggu, 17 November 2019
Ekonomi NKRI

Defisit Transaksi Berjalan Capai 2,8 Persen, BI Luncurkan Forward Guidance

( words)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo SP/Msn


SURABAYAPAGI.com - Bank Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan sepanjang 2019 bakal mencapai 2,8 persen dari PDB atau sedikit di bawah capaian 2018 yang sebesar 2,98 persen. Hal ini telah diperkirakan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo bahwa CAD sepanjang 2019 akan berada di kisaran 2,5 hingga 3 persen dari PDB meskipun pada triwulan II posisi CAD melebar menjadi 3 persen dari triwulan I yang di level 2,6 persen PDB.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, sampai akhir tahun 2019, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) akan berada pada rentang 2,5% sampai 3% dari PDB.

Secara spesifik, dia membidik CAD berada pada level 2,8%. Dia beralasan masih optimistis surplus neraca modal bisa membiayai defisir transaksi berjalan.

Hingga kuartal II/2019, CAD tercatat meningkat dari US$7,0 miliar atau 2,6% dari PDB pada kuartal sebelumnya menjadi US$8,4 miliar atau 3,0% dari PDB.

"Dalam lima tahun ke depan, CAD akan di sekitar 2 persen dari PDB," ujar Perry di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (9/8).

Tak hanya CAD yang membaik, pertumbuhan ekonomi pada 2024 juga diprediksi bisa mencapai 6 persen. Serta pendapatan per kapita mencapai USD 6.000 atau sekitar Rp 85 juta per tahun.

Selama 2018, pendapatan per kapita Indonesia sebesar USD 3.927 atau sekitar Rp 56 juta per tahun. Angka tersebut naik dibandingkan tahun 2017 Rp 51,9 juta dan 2016 Rp 47,9 juta.

"Tahun ini di bawah 5 persen (pertumbuhan ekonomi), tapi within the next five years kita bisa tembus 6 persen. Pendapatan per kapita USD 6.000," jelasnya.

Menurut dia, optimisme bahwa CAD sepanjang tahun akan berada di level 2,8 persen PDB karena surplus neraca modal masih besar dan bisa membiayai CAD yang terlihat dari meningkatnya posisi cadangan devisa dari USD123,8 miliar pada Juni menjadi USD125,9 miliar pada Juli.

“Kalau cadangan devisa meningkat, artinya surplus neraca modal lebih tinggi dari CAD dan kami optimis bisa tetap menjaga stabilitas eksternal,” urai dia.

Perry melanjutkan, proyeksi tersebut bisa dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya melalui bauran kebijakan moneter dan makroprudensial serta mendorong pariwisata untuk meningkatkan devisa.

"Kami sudah berikanforward guidance kita masih ada ruang untuk kebijakan akomodatif, baik penurunan likuiditas atau turunkan suku bunga. Pariwisata juga kita dorong, ada lima plus dua destinasi, antara lain Bali, Jogja, Wakatobi, Labuan Bajo, Tanah Toraja," tambahnya.

Berita Populer