Demokrat Sebut Jatim Butuh Minimal 10 Unit Mobil Lab PCR

Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Jatim Ahmad Iskandar (kiri).

SURABAYA, SURABAYAPAGI.COM - Masih Tingginya angka penyebaran covid-19 di Provinsi Jawa Timur khususnya Kota Surabaya menjadi perhatian Partai Demokrat Jawa timur. Salah satunya adalah dengan ikut memperjuangkan agar provinsi Jawa timur mendapatkan penanganan serius dari pemerintah pusat.

Wakil Ketua DPRD Jatim dari Partai Demokrat Ahmad Iskandar mengatakan, salah satu yang diperlukan dalam penanganan cepat pencegahan menyebarnya pendemi Covid-19 ini adalah Mobil RC-PCR. Mobil ini bisa digunakan sebagai laboratorium kelililing untuk melakukan pengecekan kesehatan masyarakat. “Daripada berpolemik atau rebutan, lebih baik kita perjuangkan agar Jatim mendapat tambahan mobil PCR itu,” jelas Iskandar, Minggu (31/5/2020).

Saat ini, kata Iskandar baru ada 2 unit mobil PCR singkatan dari Polymerase Chain Reaction atau peralatan yang digunakan sebagai metode pemeriksaan virus corona. Penempatannya mobil ini bisa berpindah-pindah tergantung kebutuhan tempat yang rawan. Sehingga daerah yang masuk zona merah atau yang terindikasi banyak penularan bisa langsung di datangi. “Melihat kondisi Jatim yang angka penyebarannya cukup tinggi ini, idealnya butuh 10 Unit Mobil PCR,” terang Iskandar.

Untuk itu, pihaknya siap membantu pemerintah provinsi Jatim maupun Pemkot Surabaya untuk memperjuangkan penambahan unit mobile PCR ini ke pemerintah pusat. Sehingga bisa mencakup kebutuhan penanganan covid19 di wilayah Jatim maupun Surabaya yang cukup luas. “Kami akan perjuangkan penambahan mobil PCR ini ke pusat, untuk kepentingan masyarakat Jawa Timur demi menekan penambahan wabah Covid-19 ini,” tegas anggota DPRD Jatim tiga periode ini.

Masih kata Iskandar, musibah pandemi covid-19 ini adalah masalah yang harus ditangani bersama-sama. Tidak bisa hanya diserahkan kepada pemprov Jatim saja atau Pemkot Surabaya saja. Demokrat meyakini baik pemprov Jatim maupun Pemkot Surabaya dan juga pemkab/pemkot lainnya sudah bekerja maksimal mengatasi masalah ini. “Marilah kita hindari polemik, tidak perlu saling emosi atau menyalahkan satu sama lain. Karena ini masalah kita semua yang harus ditangani bersama-sama,” pungkas mantan birokrat ini. (*)