•   Selasa, 28 Januari 2020
Properti

Desa Ragang Belum Ada Program PTSL, kok Bisa?

( words)
Warga Madura protes penerbitan setifikat ilegal di BPN Pamekasan.


SURABAYAPAGI.COM, Pamekasan – Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pamekasan, Madura, Jawa Timur, angkat bicara soal program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di Desa Ragang, Kecamatan Waru, yang kisruh gara-gara diduga terjadi pungutan biaya.

Bukan soal pengutan biaya yang menjadi sorotan BPN Pamekasan, tetapi pada program PTSL yang diklaim mulai direalisasikan. Padahal BPN mengaku belum menetapkan program PTSL di Desa Ragang.

“Di Ragang kami belum menetapkan lokasi dan kegiatan di sana untuk PTSL itu. Kalau kami belum ada kegiatan di Desa Ragang. Kalau (ada pungutan, red), kami tidak tahu menahu soal itu,” kata Kepala BPN Pamekasan, Tugas Dwi Padma, Jumat (2/8).

Tugas, panggilan Tugas Dwi Padma mengaku tidak mengetahui kegiatan pengukuran tanah di Desa Ragang yang diklaim program PTSL tahun 2018.

Tugas juga tidak mengetahui program apa yang dilakukan pemerintahan Desa Ragang. Tetapi, semua kegiatan BPN Pamekasan yaitu PTSL.

Masih menurut Tugas, program PTSL hanya dikenakan biaya sebesar Rp 150 ribu rupiah. Uang tersebut untuk biaya administrasi, patok tanah dan pembelian materai sebesar Rp 150 ribu.

Biaya itu sudah berdasarkan peraturan menteri yang ditindaklanjuti dengan peraturan bupati (Perbup) nomor 21 tahun 2017 tentang biaya program PTSL.

Warga yang ingin mendapatkan sertifikat melalui program PTSL cukup mengumpulkan KTP, KK dan SPPT. “Kalau pra PTSL kemungkinan ada, ya untuk pembelian materai, biaya patok dan lain, tetapi kalau di Desa Ragang kami belum action di sana,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, salah seorang warga asal Desa Ragang, RKY (inisial) mengaku dimintai uang sebesar Rp 50 ribu per bidang tanah oleh panitia PTSL. RKY mendaftarakan sejumlah bidang tanah.

“Masing-masing bidang tanah dipungut biaya Rp 50 ribu, tapi saya belum bayar lunas, nanti pelunasan setelah sertifikat tanah keluar,” kata RKY, Jumat (2/8).

Berita Populer