Dicap Gila, Togu Wujudkan Mimpi Anak Toba Sejuta Literasi dan Asa

gu Simorangkir bersama tim literasi nusantara dari Gramedia ketika berkunjung ke sekolah SMA Negeri 1 Sumbul, Sumatera Utara. SP

SURABAYAPAGI, Sumatera - Bagi Togu berbuat kebaikan adalah yang utama. Ketulusannya membangun Yayasan Alusi Tao Toba sepuluh tahun silam kini berbuah manis. Ia percaya tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua takdir sudah digariskan Tuhan.

Ia tak pernah main-main dengan mimpinya. Ia memegang teguh prinsipnya. Demi mimpi, ia rela bersabung nyawa. Bahkan jabatan strategisnya ditinggalkannya demi mewujudkan impian itu. Orang-orang sempat mengecapnya, gila.

Togu menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta lalu mendapat beasiswa S2 di University of Oxford, Inggris fokus studi konservasi primata. Setelah lulus, ia pun bekerja sebagai peneliti orang utan di Pangkalan Bun, Kalimantan hingga sepuluh tahun kemudian ia kembali ke kota kelahirannya merintis mimpi yang mulia.

Rasa cintanya pada alam telah tumbuh sejak kecil. Cinta pada alam itu pula yang mendorongnya untuk kembali ke tanah air, kembali ‘blusukan’ ke desa. Bahkan hidup sebagai petani. Ia ingin mewujudkan impiannya.

“Saya ingin anak-anak di sekitar Danau Toba suka membaca,” cetusnya.

Sekilas terdengar biasa, bahkan konyol. Namun bagi Togu, impian itu tidak biasa. Ia tahu betul bagaimana kehidupan masyarakat di pinggiran Danau Toba yang masih terkendala akan akses pada informasi. Keterbatasan pada informasi itu tentu saja berpengaruh pada cara berpikir dan peradaban. Togu percaya, menumbuhkan budaya membaca anak-anak berarti membangun peradaban mau.

Demi mimpi-mimpi itulah, Togu pulang kampung. Ia bahkan rela melakukan hal-hal yang tidak lazim untuk mewujudkan impiannya itu. Seakan tak ada yang bisa membatasinya. Bahkan malaikat sekalipun.

Togu mafhum, Danau Toba kini sedang sekarat. Namun untuk melestarikannya juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan kesadaran dari masyarakat dan dukungan semua pihak. Karena itu, Togu memilih cara-cara kreatif.

Ia memulai langkahnya dengan mendirikan sopo belajar dan kapal belajar. Ini bagian dari strateginya untuk merubah cara pandang masyarakat terhadap lingkungan. Pendekatannya, menjangkau anak-anak. Sebab orang dewasa ibarat pohon besar yang sulit dibengkokkan. Maka togu memilih menata tunas-tunas baru. “Kita memilih mempersiapkan generasi muda,” bebernya.

Kepedulian Togu Simorangkir terhadap dunia literasi sudah diwujudkannya sejak 18 Juni 2009 dengan mendirikan Yayasan Alusi Tao Toba yang kini menaungi 8 sopo (rumah) belajar, 2 kapal belajar, dan 3 kereta baca yang keseluruhannya terletak di Kabupaten Samosir.

“Kami memberikan pendidikan di luar jam sekolah. Menyediakan akses berupa buku bacaan, alat-alat menggambar dan mewarnai. Mereka punya uang tapi kemana belinya? Malah lebih mahal ongkosnya daripada harga buku dan krayon. Kalau misalnya di sini kita beli krayon harganya Rp5.000,00-, mereka belinya Rp35.000,00-. Kami tidak menjual kemiskinan karena mereka punya

Hingga akhirnya, Yayorin menjelma menjadi salah satu lembaga konservasi orangutan terbesar di Indonesia.

Dan ketika Yayorin di puncak kejayaannya, Togu malah memilih berhenti. Alasannya sama ketika ia masuk ke yayasan itu. Ia ingin mengembangkan lingkungan hidup di tanah kelahirannya: Danau Toba. Pengalaman selama di Yayorin itulah yang kemudian dijadikannya pandu untuk mengembangkan Yayasan Alusi Tao Toba.

“Saya ingin semua orang bisa belajar di sana dan berperan aktif melestarikan Danau. Dan secara ekonomi masyarakat terbantu,” terangnya. Dsy4