Diluar Vaksin Impor, Ada Vaksin Mandiri Produk Nasional

Jurnalis Muda SP, Raditya Mohammar Khadaffi

 

Catatan Covid & Vaksinnya (3)

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Sampai Senin (26/10/2020) rakyat Indonesia yang terifenksi virus corona sudah menembus 392.934 kasus. Total pasien sembuh sudah mencapai 317.672 orang. Dan pasien yang meninggal akibat virus corona mencapai 13.411 orang.

Sementara jumlah penduduk per 30 Juni 2020 mencapai 268.583.016 jiwa. Jumlah penduduk usia 19-59 tahun sekitar 178 juta.

Terdapat gambaran ada rakyat Indonesia usia 19-59 tahun yang belum terpapar virus corona yaitu sekitar 174 juta.

Bisa diasumsikan ada peluang 174 juta calon penerima vaksin corona. Pertanyaannya, berapa persen dari jumlah ini yang mampu membayar vaksin dari impor?. Berapa persen yang membeli vaksin mandiri dan berapa persen yang disuntik secara gratis.

Prinsip sebuah vaksin yang layak dikonsumsi harus memenuhi tiga syarat yaitu aman, efektif dan murah. Selain bermutu. Lebih afdol, vaksin itu harus sudah keluar memiliki sertifikasi halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Praktis saat ini setelah saya klarifikasi ke Kemenkes (Kemterian Kesehatan) masih belum ada vaksin corona yang direkomendasi untuk didistrubusikan bagi rakyat Indonesia.

Padahal, periode Agustus-September lalu, Kementerian BUMN sudah mewacanakan akan mengimpor vaksin dari China, Inggris dan Rusia. Vaksin Covid-19 dari China bermerek Sinovac, Sinopharm dan CanSino.

Tiga vaksin ini telah diinspeksi oleh tim badan POM terkait inspeksi CPOB (GMP inspection). Hasil inspeksi ini, nantinya akan menjadi rekomendasi BPOM untuk mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA), sekaligus sertifikat halal dari MUI dan Kemenag.

Yang menjadi problem, vaksin dari China ini saat uji klinik pertama dan kedua belum dipublikasikan di jurnal kesehatan dunia.

Diluar vaksin Sinovac Biotech, menurut data WHO terdapat 23 pengembangan vaksin di seluruh dunia yang sudah masuk uji klinis. Diantaranya uji klinis yang dilakukan di Oxford University, Inggris.

Sejauh ini telah terpublikasi  terdapat sekitar 140 lain produk lain yang juga tengah dikembangkan walaupun belum sampai pada uji klinis.

Menteri BUMN Erick Thohir memilih Sinovac, karena dianggap perusahaan farmasi ini memiliki kemampuan pengembangan vaksin Covid-19 tercepat.  Selain memiliki pengalaman sebagai perusahaan pertama di dunia yang menyelesaikan [uji klinis] fase 1 untuk vaksin SARS. (Iwan Setiawan, kepala bagian komunikasi Bio Farma, dalam pernyataan tertulis kepada BBC Indonesia (21/07/2020).

Publikasi yang diumumkan Kementerian BUMN, uji klinis vaksin Covid 19 yang dilakukan sejak awal Agustus 2020 telah melibatkan 1.620 relawan. Keamanan dan efektivitasnya belum keluar, karena masih menunggu keputusan Komite Etik Universitas Padjajaran, Bio Farma dan Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Aspek keamanan penggunaan di Indonesia yang menjadi sorotan. Makanya Presiden Jokowi, wanti-wanti tidak tergesa-gesa memilih vaksin impor. Salah satunya rekomendasi dari Raden Wasito, dosen patologi  Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia sudah meneliti virus corona dan memberi sinyal bahwa meski virus corona di Indonesia 'pada umumnya sama' dengan virus corona di negara-negara lain, namun galur virusnya mungkin berbeda lantaran mutasi.

Maka itu, aspek rekomendasi Emergency Use Authorization (EUA) dari BPOM, menandai sebuah vaksin  aman digunakan di Indonesia.

Untuk itu kini pemerintah sedang melakukan percepatan tahapan uji klinis vaksin vaksin impor dan lisensi. Khususnya untuk memastikan keamanan dan kelayakannya.

Bahkan kini ada perusahaan nasional yang akan mengeluarkan vaksin-vaksin lebih aman dari vaksin yang telah didatangkan dari China, seperti Sinovac. Saat ini, vaksin ini masih dalam proses uji klinis tahap tiga oleh Bio Farma, sebelum digunakan untuk vaksinasi.

Maklum, kata Direktur NIH AS, Francis Collins, untuk mengembangkan dan memproduksi vaksin, diperlukan dana yang banyak. Sayang Collins tak merinci besaran dananya sekaligus sumber pendanaannya.  (Bloomberg, Selasa (12/5/2020),

Sejauh ini, vaksin vaksin corona temuan dari Amerika Serikat, menurut Biro Investigasi Federal (FBI) AS masih dirahasiakan merek dan harganya.

Para pakar keamanan dunia maya AS ini mencurigai ada peretas China yang berusaha mencuri hasil penelitian tentang pengembangan vaksin untuk melawan Virus Corona. Dalam radar FBI, para peretas China para peretas juga mengincar informasi dan kekayaan intelektual tentang perawatan dan pengujian untuk Corona (harian Wall Street Journal dan New York Times sebagaimana dikutip ChannelNewsAsia.com Selasa (12/5/2020).

Kamis (22/10/2020) lalu, Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto mengumumkan November bulan depan akan ada vaksin untuk kelompok prioritas yang diberikan secara gratis. Dan ada pula vaksin yang bisa diakses masyarakat secara mandiri.

Baik vaksin gratis maupun mandiri masuk dalam  road map Kementerian Kesehatan. Terutama vaksin gratis untuk  tenaga kesehatan, aparat yang bekerja di bidang pelayanan publik, dan penerima bantuan BPJS Kesehatan. Sedangkan vaksin mandiri bisa diakses ke publik secara bebas, tetapi harganya lebih terjangkau dibanding vaksin impor dari China, Inggris bahkan Rusia.

Vaksin gratis dan mandiri ini kabar yang saya peroleh dari Kemenkes hanya untuk kelompok usia tertentu (15-59 tahun), karena penelitian vaksin COVID-19 dilakukan pada rentang usia tersebut. "Nanti akan disiapkan siapa saja yang akan mendapatkan secara disediakan oleh pemerintah disubsidi oleh pemerintah, bahkan bisa digratiskan. Itu yang tercatat dalam BPJS Kesehatan dan usianya 15-59. Mengingat  percobaan-percobaan itu dilakukan dalam range itu. Jadi yang usia 19 ke bawah lebih muda tidak dilakukan percobaan," kata Airlangga dalam talk show yang disiarkan di YouTube BNPB Indonesia, Kamis (22/10/2020).

Sementara jalur vaksin mandiri bagi masyarakat kabarnya akan dikelola oleh Bio Farma. Vaksin Mandiri ini konon memiliki spesifikasi yang paling aman, efektif dan murah. Sayangnya, pejabat di Kemenkes belum bersedia membeberkan. Tetapi dipastikan vaksin mandiri adalah bukan impor dari China. Bisa produk lisensi oleh tenaga farmasi Indonesia, karena pembuatan penelitiannya butuh waktu lama dan berbiaya besar.

Pemerintah nanti akan memberikan informasi secara jelas pada saat program ini sudah siap dan pada saat vaksinnya sudah tersedia," ucapnya.

Bahkan Kementerian Riset dan Teknologi mengupayakan sejumlah upaya percepatan untuk kemandirian Indonesia dalam penyediaan dan pengembangan vaksin Covid-19.

Hal ini terkait dengan penguatan di riset dan pengembangan vaksin di lab. Selain protein rekombinan yang dikembangkan Eijkman, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan beberapa universitas.

Menurut Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro, vaksin mandiri ini terkait dengan kemandirian bangsa di dalam penyediaan vaksin Covid-19. Hal ini untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan vaksin bagi seluruh masyarakat Indonesia secara umum. (Antara, Senin 21/9/2020).

Makanya, Presiden Joko Widodo meminta harga vaksin virus corona mandiri harus terjangkau oleh masyarakat umum. Pasalnya vaksinasi Covid-19 tak bisa secara keseluruhan ditanggung oleh pemerintah.

Presiden wanti-wanti  program vaksin yang dilakukan secara mandiri harus betul-betul dikalkulasi dan dihitung secara cermat dengan harga terjangkau. (Presiden Jokowi saat membuka rapat terbatas di Istana Merdeka, Senin (26/10).

Hasil menyerap suara di Kemenkes, harga vaksin mandiri diproyeksikan bisa 50-70% lebih murah dari vaksin impor yang diproduksi farmasi China. (radityakhadaffi@gmail.com)