•   Jumat, 24 Januari 2020
BUMN

Dipimpin Mujiaman, PDAM Surabaya Dikeluhkan Terus

( words)
Mujiaman


Rangga Putra-Julian Romadhona
Tim Wartawan Surabaya Pagi

Kinerja Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Surya Sembada Kota Surabaya, hingga saat ini masih dikeluhkan warga Surabaya. Keluhan pelanggan mulai aliran air tak lancar, air keruh dan bau amis, hingga soal tagihan yang dirasa memberatkan. Terbaru, air PDAM kotor kembali menjadi pembicaraan warga Surabaya. Pasalnya, warga kembali menerima pasokan air yang keruh mirip air seduhan kopi susu. Bahkan, airnya berbau tak sedap dan kotor membuat kulit gatal saat dipakai mandi.
------

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Keluhan itu setidaknya datang dari sejumlah warga Dukuh Kupang Utara. Mereka mengaku mendapatkan air PDAM yang keruh dan warnanya menguning sejak Senin (2/12/2019) sore. ”Sing ngeluh soal air keruh iki akeh banget. Nang panggonku kawasan Dukuh Kupang air kotor,” ujar Firman, warga setempat kepadaSurabaya Pagi, Selasa (3/12/2019).

Biasanya, dia memakai air PDAM untuk keperluan memasak, mandi, dan cuci baju. Namun, mulai kemarin sore dia merasa tak nyaman jika mengonsumsi air PDAM. Bahkan untuk gosok gigi, dia menganggap air tersebut tidak layak. Menurut dia, rasa air tersebut mirip bak mandi yang diisi banyak ikan amis. “Baunya amis, menjijikkan,” ungkapnya.

Akhirnya dia menggantungkan kebutuhan konsumsi airnya dari air mineral galon. Dia pun harus mengeluarkan uang lebih banyak. Karena itu, dia berharap PDAM segera memperbaiki layanannya. “Ojok cumah nagih thok tiap ulan,” tandasnya.

Hal sama juga diungkapkan Idris, warga Ketintang. Menurutnya, air pasokan PDAM Surya Sembada tak ubahnya air kubangan berwarna coklat pekat. Ini tampak jelas saat alir tersebut ia alirkan ke dalam ember. “Sering seperti ini. Kadang bening, tapi di lain waktu keruh lagi. Mungkin banyak yang komplain, terus bersih airnya. Tapi sekarang keruh lagi. Mungkin di tempat lain juga sama keluhannya,” papar dia.


Image

Masalah ini, kemarin juga ramai di grup WA. Ada warganet yang memposting video soal kualitas air PDAM Surabaya. Dalam video itu diperlihatkan air keruh yang mengalir dari kran. Air ini disebut berasal dari PDAM Surabaya yang mengalir di daerah Jetis. Aliran air ini ditampung dalam sebuah botol Aqua kemasan 1 liter. Air itu memang terlihat coklat pekat ta ubahnya kopi susu.

“Coba perhatikan kwalitas air PDAM Surabaya, saya rasa sudah tidak cocok lagi memakai nama PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Jangankan buat minum, untuk mandipun sudah tidak layak lagi. Dalam benak saya apakah kwalitas air seperti ini bener bener diproses penjernihannya atau sekedar menampung air sungai Brantas lalu dialirkan ke warga. Ini kita beli sama PDAM bukan gratisan kok seperti begini kwalitasnya,” komentar salah seorang warganet itu.

“Betul sekali..bulan yg lalu air di daerah Rungkut Mapan airnya kotor TDK layak di pakai..tapi saya cuman diam saja ..mau complain juga percuma saja,” komentar lainnya.

Gangguan Teknologi

Menanggapi keluhan warga itu, Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jatim Said Sutomo mendorong warga agar segera melaporkan keluhan mereka ke PDAM, supaya lekas ditangani. Menurut Said, dari laporan yang pernah masuk ke YLPK, pada umumnya air keruh kecoklatan tersebut terjadi karena adanya gangguan teknologi dalam sistem pengelolaan air PDAM.

Selama ini, sambung Said, jika pelanggan tidak tepat waktu melunasi tagihan, pelanggan dikenai denda hingga bahkan diputus sambungan airnya. Maka, wajar bila pelanggan menuntut kelancaran distribusi dan kualitas air dari PDAM Surya Sembada.

"Warga segera lapor ke PDAM, karena kinerjanya dilindungi Perda (peraturan daerah)," cetus Said kepadaSurabaya Pagi, Selasa (03/12). "Bila tidak ditanggapi dalam satu kali 24 jam, warga silahkan lapor ke kami (YLPK), wali kota maupun DPRD," lanjutnya menegaskan.

Dalam Perda, lanjut Said, disebutkan pelanggan memiliki hak untuk mendapatkan kualitas pelayanan yang baik dari PDAM. Bahkan hal itu juga menyangkut soal perlindungan penyediaan kualitas pelayanan dan kelancaran distribusi air. Tetapi masalahnya, hingga kini belum ada yang mengkaji isi Perda perlindungan konsumen pelanggan PDAM.

"Kualitas air merupakan kewajiban PDAM sebagai perusahaan daerah yang memonopoli pengelolaan air bersih. Perda yang mengaturnya. Cuma kita tak tahu isi Perdanya. Kalau sekarang banyak yang komplain maka Perdanya perlu direvisi,” ungkapnya.

Pembelaan Dirut

Dikonfirmasi terkait hal ini, Dirut PDAM Surya Sembada Surabaya Mujiaman Sukirno mengaku belum mendapat laporan mengenai keruhnya air di Jetis Wetan yang viral di media sosial. Oleh sebab itu, dirinya belum bisa memastikan penyebab kotornya air PDAM di Jetis Wetan dan sekitarnya.

Lantaran itu, Mujiaman meminta warga yang mengunggah dan menyebarkan keruhnya air PDAM untuk melaporkan keluhan, atau setidaknya melengkapi identitas seperti nama dan alamat, sehingga petugas PDAM bisa segera turun lapangan, mengidentifikasi masalah dan menanganinya.

"Saya belum bisa memastikan penyebab keruhnya air di Jetis Wetan," aku Mujiaman. "Itu alamatnya di mana? Saya mau cek langsung."

Mujiaman juga menambahkan, keluhan dari pelanggan tetap menjadi perhatian utama PDAM. Pasalnya, jutaan orang bergantung hidupnya dengan air. Oleh sebab itu, dirinya bertekad untuk terus memperbaiki kualitas layanan perusahaan daerah yang dipimpinnya. "Salah satunya adalah dengan menanggapi keluhan pelanggan dengan respon cepat," papar Mujiaman.

Dalam kesempatan sebelumnya, Mujiaman pernah mengungkapkan, bahwa baku mutu air yang dikelola PDAM di Surabaya masih di kelas II. Jika mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, maka air PDAM Surbaya tidak layak minum. Pasalnya dalam beleid itu disebutkan, air Kelas II adalah air yang peruntukan untuk rekreasi air, budidaya ikan air tawar, petemakan dan mengairi pertanaman.


Image

Penyebab kualitas air baku PDAM rendah karena sebagian besar air berasal dari Sungai Brantas. Sementara, kata Mujiaman, air sungai Brantas sudah tercemar limbah. Sekitar 35% limbah cair berasal dari industri dan sisanya dari masyarakat. “Industri yang paling banyak, industri kertas, industri baja, dan industri minuman,” ungkapnya.n

Berita Populer