•   Kamis, 14 November 2019
Perbankan

Dirut Bank Jatim Baru, harus Banker Bank Lain

( words)
Ferdian Timur Satyagraha


Tim Wartawan Surabaya Pagi

Perhitungan Direktur Bank Jatim baru, setelah calon Direktur Utama (dirut) “RUPS” Hadi Santoso, ditolak OJK (Otoritas Jasa Keuangan), mengerucut pada banker bank plat merah BUMN. Mengingat kader internal Bank Jatim sendiri, diduga masih belum mumpuni. Ini andil dari dua Dirut Bank Jatim sebelumnya yakni Hadi Sukrianto dan Soeroso, yang dianggap tak menyiapkan kaderisasi. Salah satu yang menonjol hanya Ferdian Timur Satyagraha yang kini menjadi pejabat pengganti sementara (Pgs) Dirut Bank Jatim. Namun, putra pertama mantan Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo itu, lebih fokus pembenahan keuangan dan pengembangan teknologi di Bank Jatim.

Demikian rangkuman hasil wawancara dengan mantan Direktur utama Bank Jatim, pensiunan salah satu direksi, Pgs Dirut Bank Jatim Ferdian Timur Satyagraha serta Corporate Secretary Glemboh Priambodo. Mereka dihubungi terpisah, kemarin.

“Memang dengan pimpinan yang ada sekarang, Bank Jatim belum punya calon pimpinan yang berstandar banker,” kata mantan Direktur utama Bank Jatim yang dihubungiSurabaya Pagi, di suatu tempat kawasan Surabaya Selatan, Selasa (29/10/2019) kemarin.

Tentang tidak terpilihnya Hadi Santoso, oleh OJK, sudah ia duga sebelumnya. “Fit and Propert di OJK, termasukrecord seorang pejabat selama ini. Tidak hanya terkait dengan pengetahuan saat wawancara,” ungkapnya.

Menurut mantan Dirut Bank Jatim itu, bila Gubernur Jatim Khofifah, memang benar-benar memajukanperformance Bank Jatim ditengah persaingan, Dirut Bank Jatim harus didrop dari bank plat merah sekelas pimpinan Bank Mandiri atau BNI. “Kalau diambil dari pimpinan BRI daerah, saya tidak yakin bisa mendongkrak kinerja Bank Jatim,” tambahnya.

Sementara seorang pensiunan pejabat Bank Jatim yang dihubungi melalui telepon semalam mengakui pada era kepemimpinan Soeroso, kebocoran kredit seperti era Hadi Soekrianto, dapat ditekan. Ini karena gaya kepemimpinan Soeroso, safety player.

“Baik era Hadi Sukrianto maupun Soeroso, lemah kaderisasi. Ini tantangan Bu Khofifah, harus berani menyusupkan banker bank lain, agar kinerja financial. Terutama kredit korporasi terdongkrak. Sampai sakarang income Bank Jatim masih captive market yaitu andalkan kredit multiguna,” ungkap pensiunan yang pernah menjabat setingkat direksi.

Perkuat Layanan Digital
Sementara, Pgs Dirut Bank Jatim, Ferdian Timur Satyagraha, yang sempat ditemui di salah satu kedai kopi di Kawasan Wali Kota Mustajab, saat disinggung terkait posisi dirinya di Bank Jatim, dirinya masih menunggu hasil fit and propert test dari OJK. “Masih nunggu OJK, mas,” kata Ferdi, alumnus SMAN 16 Surabaya ini yang sore itu tak menunjukkan bahwa dirinya seorang Dirut Bank pelat merah di Jawa Timur dan putra mantan Gubernur Jatim Soekarwo.

Namun, Ferdi, sapaan Ferdian sendiri dalam di sebuah kesempatan acara Bank Jatim Marketainment, ingin menjaring nasabah milenial agar bisa menjadi nasabah di Bank Jatim, serta memperkuat layanan digital.

“Sejauh ini, pengguna layanan mobile banking alias m-banking Bank Jatim mencapai 500 ribu. Jadi tiap tahunnya user m-banking kami grow di kisaran 40-50 persen. Ini yang membuat kami optimis untuk mengembangkan Bank Jatim ke depan,” ujar Ferdi.

Terpisah, Corporate Secretary Bank Jatim Glemboh Priambodo, kepada Surabaya Pagi Selasa (29/10/2019) sore, terkait posisi Dirut Bank Jatim yang tidak diloloskan oleh OJK, menanggapi normatif. “Yah kita hormati keputusan OJK. Bagaimanapun juga beliau (Hadi Santoso, red) juga orang Bank Jatim. Minggu depan kita ketemu saja mas,” ucap Glemboh dalam telponnya.

Gagal Test OJK
Sementara itu, Kepala OJK Regional 4 Jawa Timur Heru Cahyono, masih enggan menjelaskan kegagalan Hadi Santoso menjadi Dirut Bank Jatim meski dalam RUPS telah dipilih.

Namun, ia hanya menjelaskan, tidak lolosnya dua orang yang sudah menjadi hasil rekrutmen dan RUPSLB yang diselenggarakan Bank Jatim itu lantaran beberapa alasan. Terutama ada beberapa poin darifit and proper test OJK yang tidak berhasil dilalui dengan hasil yang diharapkan. "Tentunya di dalam penilaian fit and proper tes itu ada aspek penilaian yang dinilai. Yang pertama aspek integritas. Kedua aspek kompetensi. Nah kedua hal tersebut menjadi kriteria tolok ukur dinilai apakah komisaris dan direksi bisa pas atau patut di fit and proper test," tegas Heru.

Tunjuk Plt atau PJ
Otomatis dua orang tersebut yang sudah dinyatakan tak lolos di fit and proper test OJK, maka posisinya gugur. Sehingga posisi dirut dan satu direksi lain juga kembali kosong. Sehingga nanti harus ditunjuk Plt (Pelaksana Tugas) atau PJ (Pejabat Sementara).

"Untuk pengisian jabatan bisa dua sistemnya. Bisa RUPS dulu lalu fit and proper test. Atau dibalik. Itu sesuai aturan internal Bank Jatim. Sama saja tergantung dari kebutuhan saja, mana yang lebih efisien atau mudah," ucap Heru.

Bagi yang sudah gugur dan tak lolos fit and proper test OJK dikatakan Heru harus ada jeda jika ingin mengikuti rekruitmen lagi. Yaitu enam bulan untuk bisa melamar posisi yang sama. Kecuali posisi yang dilamar berbeda, maka bisa tanpa jeda. Dengan demikian saat ini Pelaksana Tugas (pgs) dirut Bank Jatim masih tetap dijabat Ferdian Timur Satyagraha. Sampai menunggu RUPS berikutnya. n tim

Berita Populer