•   Rabu, 22 Januari 2020
Pilwali 2020

Elektabilitas Bacawali di Bawah 30%

( words)
grafis


Rekomendasi dari PDIP, Diperkirakan baru Turun 10 Januari 2020
Rangga Putra-Riko Abdiono,
Tim Wartawan Surabaya Pagi

Siapa calon walikota (Cawali) Surabaya pengganti Tri Rismaharini yang bakal diusung PDI Perjuangan (PDIP) dalam Pilkada 2020, bakal terjawab pada 10 Januari 2021 mendatang. DPP PDIP bakal mengumumkannya bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-47 partai berlambang banteng moncong putih itu. Entah nanti rekomendasi cawali itu jatuh ke Whisnu Sakti Buana atau jagoannya Risma seperti Eri Cahyadi atau Hendro Gunawan, namun berdasar survei tingkat keterpilihan (elektabilitas) para bakal calon walikota itu, belum satu pun yang menyentuh 30 persen. Ini berarti calon lain seperti mantan Kapolda Jatim Irjen (Purn) Machfud Arifin, yang digadang-gadang sejumlah tokoh di Surabaya, masih berpeluang. Mantan Ketua TKD Jokowi-Ma’ruf Amin ini bisa diusung dari koalisi parpol non-PDIP. Seperti Gerindra dan Golkar yang masing-masing memiliki 5 kursi di DPRD Kota Surabaya, kini sudah bergerak.
-----------------

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Demikian rangkuman informasi dan analisis yang dihimpun tim wartawanSurabaya Pagi dari pengamat politik, peneliti, parpol dan anggota DPRD di Surabaya, seperti Tjutjuk Supariono, Arif Fathoni, Kusnadi dan Surokhim Abdussalam. Mereka dihubungi terpisah, Rabu (11/12/2019) kemarin.

Peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC) Surokhim Abdussalam menyebut, hingga bulan Desember 2019 ini belum ada satu pun nama bacawali yang santer beredar, yang elektabilitasnya mencapai 30 persen. Walaupun jadwal pendaftaran cawali diundur ke bulan Juni 2020, tingkat keterpilihan para bacawali mesti kudu merangkak. Ini didasarkan dari hasil survei yang dilakukannya baru-baru ini. "Belum ada satu pun nama yang elektabilitasnya menyentuh 30 persen," tandas Surokhim kepada Surabaya Pagi, Rabu (11/12).

Menurut dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ini, hal tersebut disebabkan partai-partai pemilik kursi di DPRD Surabaya belum ada yang menerbitkan rekom mereka. Akibatnya, elektabilitas bacawali urung terdongkrak karena belum ada aksi di lapangan. "Popularitas itu di udara, tapi elektabilitas tetap di darat," papar Surokhim.

Sementara itu, belakangan ini mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan mendukung Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin maju Pilwali. Sebelumnya, Wali Kota Tri Rismaharini juga santer disebut-sebut mendukung Kepala Bappeko Eri Cahyadi. Menurut Surokhim, faktorendorse tokoh memang memiliki pengaruh untuk meningkatkan elektabilitas.

"Tapi tetap dilihat siapa yang mengendorse," ujar Surokhim. "Semakin tinggi tingkat ketokohan, berbanding lurus dengan tingkat endorsement-nya. Risma sendiri menyumbang 9 persen elektabilitas dariendorsement-nya. Itu termasuk tinggi, karena tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Risma juga tinggi mencapai 80 persen," papar alumnus Unair ini.

Masih Cair

Seperti disebut sebelumnya, Dahlan Iskan baru-baru ini mengendorse Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin yang notabene mantan Kapolda Jatim. Sementara itu, Ketua DPD Gerindra Jatim Soepriyatno juga mengungkap petunjuk siapa sosok yang bakal diusung sebagai cawali, yaitu seorang jenderal.

Terkait hal itu, Ketua DPC Partai Gerindra Surabaya BF Sutadi mengaku sudah mendengar kabar dari Ketua DPD Gerindra Jatim Soepriyatno yang menyebut, ada seorang jenderal yang digadang-gadang bakal mengantongi rekom maju Pilwali Surabaya itu. Hanya saja, sambung Sutadi, pihak DPC belum menerima secara resmi informasi tersebut. "Saya sendiri belum tahu persis siapa orangnya," cetus BF Sutadi.

Menurutnya, hal tersebut lumrah terjadi lantaran terdapat beberapa pintu bagi bacawali untuk mendaftarkan diri ke partai, seperti DPC, DPD dan DPP. Walau begitu, dia menghimbau publik untuk tidak berspekulasi terlebih dahulu mengenai siapa sosok yang dihembuskan oleh ketua DPD Soeprayitno. "Tunggu saja pekan depan akan ada pertemuan," tutur Sutadi yang dihubungi terpisah, Rabu (11/12) kemarin.

Disinggung soal koalisi, Sutadi menyebut semua partai masih cair, termasukwait and see mengenai siapa yang mendapat rekom dari DPP PDIP. “Semua masih cair,” ucap mantan anggota DPRD Kota Surabaya ini.

Terpisah, Wakil Ketua Bappilu DPD Golkar Surabaya Arif Fathoni mengatakan, partainya bakal mengutamakan kader internal terlebih dahulu alih-alih kader dari partai lain. Menurutnya, kader internal tersebut jelas harus sosok yang berpengalaman sekaligus dikenal warga Kota Surabaya seperti anggota DPR RI dari Fraksi Golkar Adies Kadir dan Pengurus DPD Partai Golkar Jatim Zahrul Azhar As’ad (Gus Hans). "Siapapun orangnya, dia harus punya tingkat elektabilitas yang tinggi," ungkap Arif Fathoni.

Walau demikian, untuk diketahui, dalam perhelatan Pilwali Surabaya 2020 mendatang, DPD Partai Golkar Surabaya tidak dapat mengusung cawali mereka sendiri lantaran tidak mencukupi syarat jumlah kursi di legislatif. Oleh sebab itu, Partai Golkar wajib berkoalisi dengan partai lain. "Belum (koalisi). Akan ada waktunya membahas itu," tutur ketua Fraksi Golkar di DPRD Surabaya ini.

Petakan Koalisi

Di lain pihak, partai debutan penguasa empat kursi di DPRD Surabaya yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI), kini sedang sibuk menyiapkan konvensi untuk menentukan siapa yang bakal mereka rekom sebagai cawali. "Secepatnya kami gelar konvensi yang sifatnya terbuka," cetus Sekretaris DPC PSI Surabaya Tjutjuk Supariono

Tjutjuk menambahkan, di tengah kesibukan pembentukan pantia konvensi, partainya tetap menjalin komunikasi politik dengan partai lain untuk penjajakan koalisi. Walau begitu, Tjutjuk menegaskan kalau ada kader eksternal yang mendaftar ke PSI, bukan berarti PSI berkoalisi dengan partai kader eksternal itu.

"PSI terbuka. Kami mencari calon dan mitra koalisi yang selaras dengan ideologi PSI yaitu antikorupsi dan antiintoleransi," ucap Tjutjuk. "Kami menginginkan wali kota mendatang adalah sosok yang bersih dan plural."

Rekom PDIP

Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Kusnadi menegaskan calon kepala daerah dalam Pilkada 2020 melalui PDIP di Jawa Timur bakal dibeber pada peringatan HUT PDIP ke-47, yakni 10 Januari 2021. Ini termasuk rekom untuk cawali dan cawawali Surabaya. Menurutnya, pada saat HUT PDI Perjuangan 10 Januari rekom itu diturunkan. "Informasi yang saya dapat dari Pak Sekjen Hasto itu bahwa mungkin nanti pada 10 Januari, tepatnya HUT PDIP akan turun rekom," kata Kusnadi, Rabu (11/12/2019).

Meski demikian, lanjut Kusnadi, belum semuanya rekom diturunkan karena masih melalui beberapa tahapan. "Hanya ada beberapa yang belum semua memberikan gambaran, apalagi itu inkumben dari PDI Perjuangan," imbuhnya.

Rekom itu turun, kata dia, dilihat dari konsolidasi partai bagus, masyarakat menerima dengan baik dan masih diharapkan. "Ini yang sedang dievaluasi betul sama partai. Karena itu bertahap mana-mana yang sudah fiks betul terutama yang inkumben dan diterima masyarakat dan memberikan janji kemenangan," jelas Kusnadi yang juga Ketua DPRD Jatim ini.

Utamakan Kader

Apakah nantinya dari kader sendiri yang akan diusung, pihaknya mengutarakan bahwa partai manapun pasti akan mengutamakan kader. "Kalau dari internal belum bisa memberikan janji dan belum bisa menjanjikan baru kemudian yang cari kandidat yang sepaham dengan partai kami," paparnya.

Ditanya PDI Perjuangan akan berkoalisi, Kusnadi menegaskan tetap membuka kerjasama bukan hanya dengan parpol, melainkan juga dari seluruh komponen masyarakat. "Koalisi melihat kondisi masing-masing daerah, ya. Tapi, PDI Perjuangan tetap membuka kerjasama bukan hanya dengan parpol melainkan juga dengan seluruh komponen masyarakat. Baik Nahdliyin, Muhammadiyah serta yang lainnya tepatnya kita punya komitmen yang sama, menjaga NKRI dan Kebhinekaan dan berjuang bersama-sama memakmurkan rakyat," pungkasnya.

Sebelumnya, DPD PDIP Jatim telah m1enggelar rapat koordinasi dalam menghadapi Pilkada Serentak 2020. Rakorbid Pemenangan Pilkada ini diikuti DPC PDI Perjuangan yang di daerahnya bakal mengadakan kontestasi pilkada tahun depan.

Rakorbid dibuka oleh Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Sri Untari Bisowarno. Saat Pilkada 2015 yang juga berlangsung di 19 kabupaten/kota se-Jatim, PDI Perjuangan berhasil menang di 13 kabupaten/kota. Di Pilkada 2020, kata Untari, PDI Perjuangan akan mempertahankan kemenangan saat Pilkada 2015, yakni menang di 13 kabupaten/kota.

Malah, saat ini pihaknya optimistis PDI Perjuangan akan menambah kemenangan di dua daerah, yakni di Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Malang. “Jadi, kami optimistis bisa memenangkan 15 dari 19 pilkada tahun 2020,” imbuh perempuan yang juga Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim ini.

Dia menambahkan, meski tidak menutup kemungkinan kandidat dari kalangan eksternal, dalam pilkada mendatang, PDIP akan mengutamakan kader sendiri dalam menentukan bakal calon. Sebab, sebagaimana pengalaman sebelumnya, ada kepala daerah atau wakil kepala daerah yang diusung PDI Perjuangan, namun akhirnya tidak pernah berkomunikasi dengan PDIP, dan juga malah ada yang ‘berpaling’ ke partai lain.n

Berita Populer