Emiten Batu Bara Jungkir Balik di 2019, Adakah Keajaiban di 2020?

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Di sepanjang tahun 2019, emiten batu bara Tanah Air membukukan penurunan laba bersih akibat turunnya pendapatan yang dibarengi dengan meningkatnya beban biaya.



Prospek batu bara tahun ini masih terlihat buram dengan adanya wabah corona atau COVID-19 yang jadi pandemi global.



Tahun 2019 bukan tahun yang mudah dilalui oleh emiten batu bara Tanah Air. Emiten pertambangan batu bara RI membukukan penurunan pendapatan pada 2019 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year on year/yoy).


Penurunan pendapatan diakibatkan oleh pelemahan harga batu bara terutama dengan nilai kalori tinggi (> 6.300 Kcal/Kg) yang berdampak pada penurunan rata-rata harga jual (average selling price/ASP) batu bara.



Pada 2019 harga batu bara termal Newcastle (6.000 Kcal/Kg) anjlok lebih dari 30%. Emiten yang memiliki portofolio produk batu bara berkalori tinggi seperti PT Indo Tambang Raya Megah Tbk (ITMG) merasakan benar dampak dari pelemahan harga batu bara berkalori tinggi.



Di sepanjang tahun 2019, ITMG mencatatkan penurunan ASP sebesar 20,1% (yoy), sehingga membukukan penurunan pendapatan total sebesar 14,5% (yoy).



Walau ASP emiten batu bara pelat merah yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan penurunan, tetapi peningkatan volume penjualan mengakibatkan kenaikan pendapatan (+2,9% yoy).



Penurunan pendapatan yang dialami oleh sektor batu bara RI ternyata tidak dibarengi dengan penurunan biaya produksinya. Malah pos ini membengkak, sehingga berakibat pada tergerusnya margin perusahaan.

Laba bersih dari emiten pertambangan batu bara Tanah Air di tahun 2019 anjlok drastis. Bahkan ada yang anjlok hingga lebih dari 90%. Pelemahan harga batu bara yang terjadi pada 2019 memicu perusahaan untuk melakukan efisiensi operasi.


Salah satu caranya adalah dengan menyesuaikan nisbah kupas (stripping ratio).Stripping ratioadalah perbandingan antara volume masa batuan yang dibongkar (lapisan tanah tertutup) dengan batu bara yang diambil.



Karena kegiatan ini memakan biaya yang besar dalam kegiatan pertambangan, maka perusahaan berupaya untuk menurunkan nilai nisbah kupasnya. Bagi perusahaan tambang batu bara yang memiliki nisbah kupas rendah seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO), hal ini menjadi keuntungan kompetitif dari segi beban biaya.

Prospek 2020 Masih Suram
Tahun 2019 sudah berlalu, bahkan kini sudah menginjak awal kuartal kedua tahun 2020.Outlook sektor pertambangan batu bara belum juga menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Pelemahan permintaan dan melunaknya harga masih akan dijumpai di tahun ini.


Penyebab suramnya sektor batu bara ini tak lain dan tak bukan adalah merebaknya wabah COVID-19. Virus yang diyakini berasal dari China kini telah menginfeksi lebih dari 932 ribu orang di dunia termasuk di Indonesia.



Namun kini pertambahan jumlah kasus yang signifikan tidak terjadi di China lagi. Episentrum sekarang bergeser ke Amerika Serikat, Italia dan Spanyol. Hampir semua negara di dunia sudah terjangkit wabah mengerikan ini.

Untuk menekan laju transmisi yang tidak terkontrol, berbagai negara di dunia sudah menerapkan kebijakanlockdown. Bahkan negara-negara dengan konsumen batu bara terbesar di dunia seperti India pun juga memilih jalan itu.



Lockdown bukan tanpa konsekuensi ekonomis. Ketika orang-orang dirumahkan, pabrik ditutup dan sektor manufaktur goyang maka yang terjadi adalah disrupsi rantai pasok global dan pelemahan permintaan.



Faktor inilah yang membuat prospek permintaan dan harga batu bara masih buram untuk tahun ini. Harga batu bara akan tertekan terutama untuk harga batu bara dengan kalori yang rendah mengingat India sebagai konsumen terbesar batu bara terbesar kedua setelah China menempuhlockdown untuk tiga pekan ke depan.



Lockdown di India membuat permintaan listrik industri negara tersebut turun. Padahal untuk mengoperasikan pembangkit listrik, India banyak mengimpor batu bara berkalori rendah dari Indonesia karena harganya murah. Kondisi ekonomi India yang sedang terpuruk pun semakin memberatkan harga batu bara.

Ada Kabar Positifnya Juga Kok

Memang ada risiko pelemahan permintaan. Namun kabar yang cukup positif sehingga bisa mengimbangi risiko penurunan harga batu bata adalah anjloknya harga minyak dan depresiasi rupiah yang dalam terhadap dolar AS.



Minyak merupakan bahan bakar yang digunakan untuk produksi batu bara. Biaya bahan bakar untuk produksi batu bara sendiri bisa mencapai 25-30% dari total biaya. Sementara komponen bahan bakar masuk beban biaya produksi (COGS) yang besarnya 75-80% dari pendapatan.



Anjloknya harga minyak ke level terlemah dalam 18 tahun ini juga menjadi berkah bagi emiten pertambangan batu bara karena bisa menghemat ongkos produksi.

Depresiasi rupiah yang dalam terhadap dolar juga menjadi faktor lain yang mampu mengimbangi penurunan harga si batu hitam. Pasalnya batu bara merupakan komoditas ekspor unggulan Indonesia dengan total ekspor mencapai lebih dari US$10 miliar dalam setahun.

Bagaimanapun juga wabah corona yang merebak dalam tiga bulan terakhir ini telah membuat sentimen global dipenuhi dengan ketakutan. Pandemi corona telah membangkitkan hantu resesi yang sempat tertidur.



Kini dunia di ambang jurang resesi. Investor panik dan lari kocar-kacir, sampai harus jaga jarak dari pasar saham. Tekanan jual yang masif tak terelakkan. Sejak awal tahun IHSG belum mencicipi penguatan yang berarti tetapi harus terkapar di zona pesakitan.

Harga-harga saham emiten batu bara tanah air yang berfundamental bagus pun turut diobral murah di pasar. Alhasil koreksi yang signifikan pun menjadi tak terelakkan. Harga saham-saham emiten batu bara RI sudah terkoreksi lebih dari 10% di sepanjang kuartal pertama tahun ini.(cnbc/cr-01/dsy)