Eri Cahyadi, Birokrat Kampanye Diduga Gunakan APBD

Eri Cahyadi (baju putih) terlihat sedang mengarahkan dan berbicara dengan warga yang diduga warga Kampung Malang, Kecamatan Tegalsari. Foto tersebut beredar viral di beberapa WhatsApp grup, minggu lalu. Foto: sp/istimewa

 

Akan Dilaporkan ke Kejaksaan 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Pilkada Surabaya 2020, mulai panas. Meski belum ada rekomendasi dari Ketua Umum DPP PDIP Pusat Megawati, tarik menarik antara kader PDIP pendukung cawali Whisnu Sakti Buana dangan simpatisan PDIP ke Eri Cahyadi, kian ramai. Ada indikasi dua kubu ini mulai bikin penyekat. Hingga Minggu (19/7/2020), Surabaya Pagi belum tahu siapa yang akan melaporkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bapeko) kota Surabaya Eri Cahyadi atas dugaan ada pelanggaran pidana ke Kejaksaan. Apakah kubu dari Whisnu Sakti Buana atau LSM Independen.

 "Eri bisa saya pidanakan korupsi. Dia sosialisasi menggunakan dana APBD dan dengan didampingi camat," ujar salah satu koordinator Surabaya Coruption Watch Indonesia (SCWI) Hari Cipto Wiyono kepada Surabaya Pagi, Minggu (19/7/2020).

Dalam waktu dekat ini Cipto sapaan akrabnya akan melaporkan Eri ke kejaksaan. "Bisa Kejaksaan Negeri Surabaya atau Kejaksaan Tinggi," tuturnya.

Menurut dia setelah adanya pelaporan ini kejaksaan diharapkan tak bersikap ewuh-pakewuh. Sebab, sebelumnya sudah disediakan rumah dinas oleh Pemkot Surabaya. "Semua sama di mata hukum," tegasnya.

 

Punya Dua Alat bukti

Cipto bahkan berani mengklaim sudah memiliki dua alat bukti yang cukup. Hanya saja dia memilih merahasiakan itu. "Ini supaya calon-calon bersih. Tidak menggunakan dana APBD dan negara harus murni dana pribadi. Kalau dia pengen jadi wali kota segera mundur, Eri harus transparan," lanjutnya.

Selain itu Cipto juga berharap agar Bawaslu Surabaya segera bertindak. Karena Eri juga dianggap diduga melanggar kode etik ASN tentang bersikap netral. "Saya harap Eri sebagai calon wali kota beri contoh yang baik. Contohnya seperti kemarin beras bantuan ada gambar dia salah satunya," imbuhnya.

 

Camat Tegalsari tak Merespon

Sementara itu, Camat Tegalsari Buyung Hidayat, saat hendak dikonfirmasi, terkait adanya dugaan keterlibatannya “mengantarkan” Kepala Bapekko Eri Cahyadi di hadapan warganya di daerah Kampung Malang, tidak merespon. Baik sambungan telepon langsung atau pesan singkat yang dikirimkan ke Camat Tegalsari Buyung, hingga Minggu pukul 17:00 WIb, tidak membalas pesan. Sedangkan, Eri Cahyadi sendiri yang dihubungi melalui pesan WA dan teleponnya juga tidak dapat terkonfirmasi.

Terpisah, relawan Eri Cahyadi, yang tergabung dalam Eri Cahyadi Oke (ECO) menampik tudingan dari SCWI bila Eri Cahyadi memanfaatkan anggaran Covid-19 dari realokasi APBD untuk masa kampanye Pilkada Surabaya 2020.

“Menurut saya, SCWI kurang kredibel karena data-data yang dia ambil itu tidak ada. Jadi terkesan SCWI ini tidak smart. Lha kalau itu diumumkan ke publik dia kelihatan bodoh, jadi kurang smart, kurang akurat,” kata Koordinator ECO, Mohammad Syafii.

Lantaran data yang disampaikan ke publik tersebut dinilai tidak akurat, tandas Syafii, SCWI baik secara lembaga maupun person justru potensial berurusan dengan hukum. “Ke depan dia pasti akan bisa bersangkutan dengan hukum, karena ya itu tadi data-data yang dirilisnya tidak ada,” tandasnya.

 

Relawan Eri Menampik

Koordinator ECO sendiri tak menampik, bila ada sosialisasi penanggulangan Covid-19 di masing-masing Kelurahan dan Kecamatan. Namun, ECO sendiri menampik, bila sosialisasi Eri Cahyadi bila dikatakan sebagai masa kampanye pilkada. “Memang benar ada sosialisasi penanggulangan Covid-19 bergambar Mas Eri, tapi itu dengan anggaran uang pribadi kita, urunan. Jadi tidak ada sedikit pun anggaran dari Mas Eri, enggak ada. Ya kita tahu sendiri lah Mas Eri ini sekarang birokrat. Kita dari ECO juga ingin berbagi untuk sama-sama menghijaukan Surabaya lagi supaya bisa sehat semua dari Covid-19. ECO itu sudah membagikan ribuan masker, beras, tapi itu dari swadaya teman-teman,” tambah Syafii.

Laporan SCWI ini bermula dari beredar foto viral Kepala Bapeko Eri Cahyadi  didampingi Camat Tegalsari Buyung Hidayat dengan beberapa orang mengenakan kaos kompak berwarna merah dalam suatu ruangan. Foto itu diduga diambil di daerah sekitaran Kecamatan Tegalsari, tidak lama ini.

Foto tersebut menjadi rasan-rasan. Karena Eri diduga melakukan kampanye terselubung. Sebab, dia dikabarkan bakal maju sebagai kontestan calon di Pilkada Surabaya tahun 2020 ini. Bisa sebagai calon wali kota atau calon wakil wali kota.

Namun, belum diketahui pasti apa tema pembicaraan dalam pembahasan di sana. Meskipun ada screenshot yang menyebutkan bahwa Eri akan membantu perbaikan rumah warga di Kampung Malang, Kecamatan Tegalsari.

 

2.000 Spanduk Eri Cahyadi

Bahkan, tak hanya itu, spanduk-spanduk Eri Cahyadi yang bersanding dengan Wali Kota Risma berwarna merah dan background putih bertuliskan “Eri Cahyadi, Calon Wali Kota Surabaya, Meneruskan Kebaikan”, juga sudah dapat ditemui di setiap sudut kota Surabaya.

Bahkan, spanduk dan baliho berukuran kecil, sedang dan besar, sudah ditemui di tingkat RT, RW hingga kecamatan. Total yang sudah terpasang sekitar 2.000 spanduk dan dibenarkan, oleh Ketua Relawan Eri Cahyadi Rosikin. “Sudah 2.000 rumah yang menyatakan dukungan ke Eri Cahyadi. Dan akan terus bertambah. Semuanya menyebar di Surabaya Utara, Pusat, Timur, Barat, dan Selatan. Kami targetkan tembus 5.000 bulan ini,” kata Rosikin.

Ia melanjutkan, relawan Eri Cahyadi sudah memiliki jaringan dari level RT, RW, kelurahan, hingga kecamatan. Mereka terus bergerak mendata para pendukung Eri Cahyadi yang dikenal sebagai orang dekat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“Gerakan kami bukan aksi klaim. Kami data by name by address. Artinya, 2.000 relawan itu ada alamat dan nomor telponnya dan terverifikasi. Semuanya bergabung menjadi pendukung Eri Cahyadi dengan sukarela,” ucapnya.

Rosikin menambahkan, tujuan pendataan tersebut adalah untuk memetakan dengan konkret sebaran dukungan untuk Eri Cahyadi. Selain itu, Relawan Eri Cahyadi adalah keluarga besar. Bagi warga, katanya, Eri Cahyadi menjadi sosok penting selama dua periode kepemimpinan Risma. Saat masih memimpin Dinas Kebersihan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH), Eri Cahyadi membuat Kota Surabaya memiliki ruang terbuka hijau (RTH) baru. Mulai dari perluasan Taman Harmoni, pembangunan Taman Mosaik di Wiyung, hingga pembuatan lintasan lari di pinggir Kali Jagir dan Kali Mas. Tak hanya itu, Eri Cahyadi juga berkomitmen dalam penciptaan lapangan kerja baru bagi warga Kota Surabaya. Industri hospitality yang tumbuh besar di Surabaya diwajibkan mempekerjakan warga asli Surabaya. Alq