•   Senin, 6 April 2020
Pilwali 2020

Eri, Kuda Hitam

( words)


Dengan “Kendornya” Pernyataan Ketua DPC PDIP Surabaya Adi Sutarwijono, atas Peluang Kader PDIP yang Menjadi Bacawali di Partainya, kini Berhembus Kabar, Risma akan Menyodorkan Nama Eri Cahyadi sebagai Kuda Hitam Pilwali Surabaya 2020
Rangga Putra- Farid Akbar
Tim Wartawan Surabaya Pagi

Ketua DPC PDI Perjuangan (PDIP) Kota Surabaya Adi Sutarwijono alias Awi, baru-baru ini menyatakan bahwa 18 bacawali (bakal calon wali kota) yang mendaftar untuk Pilwali Surabaya 2020 masih ngambang. Dia tidak yakin beberapa nama yang mendaftar akan dipilih oleh Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. Mengapa Ketua DPC PDIP masih datar. Ada apa? Apakah menunggu manuvernya Tri Rismaharini. Bila menengok kasus Solo, anak Presiden Joko Widodo Gibran Rakabuming, melakukan manuver langsung ‘bypass’ ke Megawati Soekarnoputri, tanpa melewati Ketua DPC PDIP Solo. Bahkan, Ketua Bappilu PDIP Bambang Wuryanto menyebut bahwa Jika Ibu Ketua Umum (Megawati) nanti sudah memutuskan, seluruh kader harus patuh. Siapapun dia. Apakah Risma nanti akan membuat manuver juga. Melihat fenomena ini,Surabaya Pagi sebagai koran lokal, hari ini menurunkan liputan tentang siapa kuda hitam dalam Pilwali Surabaya, untuk menggantikan sosok Risma yang selama ini dikenal menonjol dalam pengelolaan taman. Akankah Eri Cahyadi, kuda hitamnya.
-----------------------

Informasi yang dihimpunSurabaya Pagi, Selasa (29/10/2019), dari internal PDIP maupun non-PDIP di lingkungan DPRD Kota Surabaya, banyak yang meyakini Eri Cahyadi lah yang digadang-gadang jadi suksesor Risma. Meski pejabat muda ini tidak mendaftar Bacawali di DPC PDIP Surabaya maupun DPD PDIP Jatim.

Indikasi Eri sebagai orang yang digadang Risma untuk menjadi penggantinya, bisa dilihat dari rekam jejak karirnya di birokrasi. Eri Cahyadi diangkat oleh Risma untuk menjadi Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeko) tahun lalu. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR). Pada saat sama, Eri menjabat sebagai Plt. Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH).

Perjalanan karir Eri yang mirip dengan perjalanan karir Risma sebelum terpilih menjadi Wali Kota Surabaya ini, membuat publik menjadi berpikir jika Risma sebenarnya sengaja mengkader Eri seperti dirinya dulu. Ini berbeda dengan Hendro Gunawan, Sekkota Surabaya saat ini. Hendro memang pernah menjadi Kepala Bappeko dan sama-sama alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Namun kepercayaan Risma terhadap Eri Cahyadi tampak lebih besar. Terbukti, Eri diberi kepercayaan mengurus taman melalui DKRTH maupun mengelola kota melalui Bappeko.

Dikonfirmasi mengenai jagoan Risma, apakah Eri Cahyadi atau Hendro Gunawan yang didaftarkan ke DPP PDIP, Ketua DPC PDIP Kota Surabaya Adi Sutarwijono menjawab diplomatis. Menurutnya, kewenangannya hanya menjelaskan sebagai DPC, hanya ada 8 bakal calon walikota Surabaya saja. Itu sudah sesuai dengan berkas yang sudah dikembalikan, tidak lebih.

"Saya hanya berbicara yang saya ketahui dan dalam kewenangan saya selaku Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya. Yang mendaftar di DPC, delapan bakal calon walikota dan bakal calon wakil walikota," ungkap Adi Sutarwijono alias Aei ketika dihubungi lewatWhatsApp, kemarin (29/10).

Adanya jagoan dari Risma seakan tidak diketahui Awi. Ketika ditanya terkait dua nama yang disinyalir sebagai orang yang sudah memegang golden tiket untuk Pilwali 2020, Awi berkilah jika itu bukan haknya untuk berbicara. Sebab, dua nama tersebut, Eri Cahyadi dan Hendro Gunawan, tidak datang ketika masa pendaftaran di DPC PDIP Surabaya. "Nama-nama itu tidak ada waktu pendaftaran dibuka di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya," tandas mantan wartawanTempo ini.

Meski begitu, Awi menilai bisa jadi Eri Cahyadi atau Hendro Gunawan akan lolos sebagai Cawali Surabaya kelak. Sebab tidak menutup kemungkinan keduanya atau salah satu dari keduanya telah didaftarkan ke DPP PDIP. Adanya Peraturan PDI Perjuangan No. 24 Tahun 2017 mengenai jalur pendaftaran Pilkada yang dilakukan melalui tiga pintu. Yakni, DPC Kota/Kabupaten, DPD Provinsi dan DPP Partai.

Aturan ini dijelaskan langsung oleh Whisnu Sakti Buana dalam acara Rapat Koordinasi PDI Perjuangan Kota Surabaya. Saat itu Whisnu bertindak sebagai Wakil Ketua DPD PDIP Jatim. "Saya berbicara dalam konteksrule of the game, aturan baku, Peraturan PDI Perjuangan No. 24 tahun 2017. Di situ diatur, jalur pendaftaran Pilkada dibuka 3 pintu: DPC kabupaten/kota, DPD Provinsi, DPP Partai. Ketiga jalur itu sah, dan legal. Diakui dan diterapkan secara konstitusional di PDI Perjuangan," imbuh Awi yang juga Ketua DPRD Kota Surabaya ini.

Lawan Berat Kader
Dyah Katarina, kader PDIP yang mendaftar Bacawali di DPC PDIP Surabaya, juga angkat bicara. Istri mantan Walikota Surabaya Bambang DH ini anggap jagoan Risma menjadi saingan berat di Pilwali Surabaya 2020. Meski begitu, ia tak gentar dan tetap berjuang. "Semua perlu dipertimbangkan sebagai rival." tandas Bacawali yang mengaku didukung dari ibu PKK dan Bunda PAUD ini saat dikonfirmasi, Selasa (29/10) kemarin.

Dyah sependapat dengan atasannya, Awi. PDIP membuka seluruh pintu bagi kader-kadernya yang ingin maju sebagai calon walikota. Menurutnya, jika Risma melakukan maneuverbypass ke Megawati seperti Gibran, tidak perlu ditakutkan. Sebab, semua keputusan di tangan Ketum DPP PDIP. "Dalam politik semua kemungkinan dapat terjadi. Kalau saya tetap sosialisasi ke bawah dan saya serahkan ke DPP," tegas wanita yang menjadi anggota DPRD Surabaya dua periode ini.

Ketika ditanya apakah tidak tersinggung dengan manuver Risma yang mendaftarkan jagoannya ke DPP PDIP, Dyah Katarina menjawab santai. "Ya gak laaaaah... Lha lhaopo tersinggung????" jawabnya saat dihubungi lagi melaluiWhatsApp. Ia juga memprediksi bahwa yang digadang Risma adalah Eri Cahyadi.

Sementara itu, Sri Setyo Pertiwi, Bacawali PDIP lainnya mengaku mendengar kabar jika Eri Cahyadi dan Hendro Gunawan bakal dimajukan di Pilwali Surabaya 2020. Namun ia tidak tahu apakah kedua pejabat itu menjadi orang yang dijagokan Risma. "Kabar bahwa Pak Eri Cahyadi dan Pak Hendro Gunawan ada niatan maju Pilwali Kota Surabaya saya sudah tahu. Namun, apakah dua tokoh tersebut merupakan kandidat yang akan diusung Bu Risma atau tidak, saya belum tahu," cetus Sri yang dihubungi terpisah.

Baik Dyah Katarina maupun Sri Setyo Pertiwi, keduanya hanya mengikuti mekanisme partai. Apakah mereka menjadi pilihan partai atau tidak, Dyah maupun Sri tetap berjuang di massa akar rumput(grassroot). "Partai memiliki kriteria dan tolok ukurnya sendiri untuk mengambil keputusan. Sekarang yang penting memantaskan diri," imbuhnya.

Cak Ji Gerilya
Sementara itu, Armuji, yang menjadi bakal calon wakil wali kota dari PDIP, terus bergerilya. Minggu kemarin, Keseriusan Cak Ji dalam kontestasi Pilwali Surabaya itu memang tampak serius. Apalagi, ia memiliki modal suara besar. Pada Pileg April 2019 lalu, ia lolos menjadi anggota DPRD Jatim dengan jumlah suara menembus 136.308.

Menariknya, Cak Ji mengatakan bahwa 2020 nanti penerus Risma adalah setara dan bisa melanjutkan pembangunan kota. Namun Cak tak mengetahui siapa Cawali yang dikehendaki DPP PDIP. "Aku ditakoki, sopo penggantinya Bu Risma. Saya jawab bergantung DPP PDIP dan Bu Risma sendiri. Sementara aku wis tuwo, aku tak wakile wae. Biar wali kotane sing enom. Aku mendukung penuh wali kota. Aku tak bantu warga dadi wakile," cetus Cak Ji yang seakan-akan Cawalinya nanti lebih muda dari dirinya. n

Berita Populer