•   Rabu, 20 November 2019
Ekonomi China

Expor Impor China Terjun Bebas

( words)
Suasana pelabuhan peti kemas SP/Stck


SURABAYAPAGI.com – Gejolak perang dagang selama ini telah berhasil menjatuhkan besaran ekspor dan impor Negara Tirai Bambu.

Berdasarkan data statistic, ekspor dalam dolar AS turun 3,2% secara tahunan, sedangkan impor turun 8,5%, serta Surplus perdagangan berada pada US$39,65 miliar.

Dalam yuan, pertumbuhan pengiriman ke AS melambat dari -12,9% pada Agustus, pada tahun sebelumnya, menjadi -21,1%.

Itu mungkin karena kenaikan tarif pada impor China senilai US$300 miliar yang efektif sejak September.

Ekspor ke AS pada Januari-September turun 6%, sedangkan impor dalam yuan turun 22,5% secara tahunan.

Adapun, total perdagangan dengan AS kini sebesar 2,75 triliun yuan, atau turun 10,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, Impor kedelai China pada bulan September turun 13,5% dari bulan sebelumnya. Penurunan ini disebabkan lantaran permintaan pakan ternak utamanya babi yang melandai.

Data kepabeanan setempat menunjukkan, China merupakan pasar utama kedelai dunia. Negara ini mendatangkan 8,2 juta ton biji minyak pada bulan September, turun dari 9,48 juta ton bulan lalu.

Namun, angka itu di atas 8,01 juta ton pada bulan yang sama tahun lalu. Importir meningkatkan pembelian biji Brasil karena kekhawatiran kekurangan pasokan di tengah perang perdagangan Sino-AS.

"Permintaan soymeal telah turun karena demam babi Afrika," kata Xie Huilan, seorang analis Cofeed, sebuah perusahaan riset agribisnis.

Serta Data Asosiasi Produsen Otomotif China (CAAM), Senin (14/10) menyebutkan, total penjualan mobil turun 5,2% dari bulan yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan penjualan otomotif bulan September berlanjut dari penurunan penjualan sebelumnya di Agustus yang juga turun 6,9%, dan 4,3% pada bulan Juli.

Penjualan mobil di Tionkok mengalami penurunan sejak tahun 2018. Kinerha ini menurun dari tahun sebelumnya.

Penjualan tersebut merupakan kontraksi tahunan pertama sejak 1990-an. Dikutip dari Reuters, perlambatan pertumbuhan ekonomi serta perang dagang menjadi latar belakang penurunan penjualan otomotif.

Lebih rinci, CAAM juga menyebut, penjualan kendaraan energi terbarukan turun 34,2% pada September, menyusul penurunan 15,8% pada Agustus.

Padahal, sebelumnya, penjualan NEVs melonjak hampir 62% di tahun lalu. Di Tiongkok, kendaraan NEVs termasuk mobil hibrida plug-in, kendaraan listrik yang hanya menggunakan baterai dan yang didukung oleh sel bahan bakar hidrogen.

China telah menjadi pendukung tajam NEV dan telah menerapkan persyaratan kuota penjualan untuk pembuat mobil.

Berita Populer