Fluktuatif, Tetapi Memiliki Tren Positif

Harga minyak sawit mentah (CPO) di kuartal III tahun 2019 berfluktuasi tetapi cenderung naik. Harga CPO mengalami apresiasi sebesar 9,04% secara point-to-point dari tahun lalu di kuartal ke III tahun ini.

Komoditas CPO diperdagangkan di harga RM 1.958/ton pada 1 Juli 2019 mengawali kuartal III tahun fiskal 2019. Harga kemudian ditutup menguat di akhir September ke level RM 2.35/ton. Artinya harga CPO naik 9,04% secara point-to-point di kuartal III.

Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, harga CPO di kuartal III merupakan performa terbaik di tahun ini. Harga CPO di kuartal I cenderung melemah tipis 0,7% (point-to-point) sedangkan di kuartal II harga cenderung terkoreksi lebih dalam yaitu 7,67% (point-to-point), dilansir dari CNBC (02/10).

Kinerja ekspor produk minyak sawit Indonesia dan Malaysia memang turun tipis masing-masing 2% dan 1% dibandingkan dengan kuartal II. Pada kuartal II ekspor produk minyak sawit Malaysia mencapai 4,57 juta ton sedangkan ekspor Indonesia mencapai 5,71 juta ton. Ekspor turun tipis di kuartal III. Berdasarkan data dari Refinitiv, ekspor Indonesia dan Malaysia untuk kuartal ke III masing-masing 5,66 juta ton dan 4,5 juta ton.

Namun kinerja ekspor kedua negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia tersebut masih ditopang oleh permintaan minyak sawit yang cukup tinggi dari India dan China di bulan Juli dan Agustus. Per 1 Juli dan Agustus, total ekspor Malaysia ke India mencapai 928.099 ton ke India dan 482.943 ton ke China. Untuk periode yang sama, Indonesia mengekspor sebanyak 856.827 ton produk minyak sawit ke India dan 805.548 ton produk minyak sawit ke China.

Pada Juli-Agustus, ekspor Indonesia ke India melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya. Sementara itu Malaysia lebih banyak mengekspor produk minyak sawit ke China sedangkan ekspor ke India cenderung menurun pada bulan September.

China yang masih berseteru dengan partner dagangnya yaitu AS memberlakukan kenaikan tarif untuk produk AS senilai US$ 75 miliar dengan kenaikan tarif 5-10% per 1 September. Sejak perang dagang terjadi impor kedelai AS oleh China memang menurun ditambah dengan merebaknya African Swine Flu yang terjadi di China membuatnya mencari minyak nabati alternatif baru.