•   Kamis, 30 Januari 2020
Surabaya

Gawat, BPBD Jatim Abaikan Alat Deteksi Tsunami

( words)
Subhan Wahyudiono


Riko Abdiono,
Wartawan Surabaya Pagi
Komisi E DPRD Jatim geram dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur yang sampai sekarang belum melakukan pengecekan alat deteksi dini tsunami. Pasalnya semua alat Buoy itu sudah dipasang beberapa tahun lalu, tapi belum pernah ada laporan kondisi kelayakannya.
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Suli Daim mendesak BPBD segera mengecek alat deteksi tsunami yang ada di pesisir Jatim. Dikhawatirkan, alat yang dipasang beberapa tahun lalu tersebut rusak, sehingga ketika terjadi bencana tsunami menimbulkan banyak korban jiwa.
“Saya kira tidak bisa diremehkan. Saya takut alat-alat itu tidak bisa berfungsi maksimal. Early Warning Sistem (EWS) apakah masih berfungsi. Jangan-jangan ketika terjadi tsunami tidak berfungsi,” kata Suli, Rabu (26/12/2018).
Politisi PAN ini menyayangkan hingga kini BPBD Jatim tidak pernah update laporan mengenai jumlah alat pendeteksi tsunami yang masih terpasang. Padahal, kondisi pantai di pesisir selatan Jatim sangat rawan.
Ketika terjadi bencana, masyarakat pesisir dikhawatirkan tidak mendapatkan peringatan dini sehingga jumlah korban jiwa yang jatuh banyak.
“Kalau tidak ada upaya dan tindakan cepat, melakukan pemetaan maka apakah alat itu tidak berfungsi ataupun hilang. Saya sampai sekarang belum dapat laporan itu berapa titik yang dipasang deteksi dini,” tambahnya.
Dikatakan Suli, alat pendeteksi tsunami yang dipasang di pesisir Jatim adalah bantuan dari pemerintah pusat. Pemprov Jatim memang berkewajiban untuk melakukan kontrol dan mengecek kondisi di lapangan.
“Ini menyangkut tugas dan kewajiban BPBD. Meski itu bantuan dari pusat tetapi tugas BPBD memantau dan dilaporkan. Sampai sekarang sudah seharusnya dilaporkan sehingga masyarakat bisa memantau dan meminimalisir korban,” pungkasnya.
Suli juga mengusulkan kepada Pemprov Jatim untuk membangun shelter tsunami di beberapa wilayah pesisir seperti Pacitan, Tulungaung, Blitar, Malang, Jember dan Banyuwangi.
Sebelumnya, Kepala BPBD Jatim Subhan Wahyudiono mengungkap adanya potensi 12 bencana di Jatim. “Sesuai dengan kajian bencana BNPB 2016, di Jawa Timur terdapat 12 potensi bencana yang mana 11 diantaranya merupakan alam seperti tanah longsor dan banjir. Sedangkan, satu potensi bencana lainnya adalah nonalam seperti adanya kegagalan teknis yang terjadi di Jalan Raya Gubeng,” ungkapnya.
Namun ahli geologi dari Pusat Studi Kebumian, Bencana dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember ( ITS) Surabaya, Amien Widodo, menyebut bahwa Jawa Timur, termasuk Surabaya, berpotensi terjadi gempa bumi.
Menurut dia, Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) Kementerian PUPR telah merilis peta sumber dan bahaya gempa di Indonesia pada Oktober 2017.
“Di Jawa Timur, potensi rawan bencana alam tsunami sendiri sekitar pada kawasan Jawa sampai Bali dan Lombok. Sebelumnya, pernah adanya tsunami pada tahun 1994 di Banyuwangi dan terjadi kembali pada tahun 2006 di Pangandaran (Jawa Barat),” terang Amien. n

Berita Populer