•   Rabu, 11 Desember 2019
SGML

Guru Mogok Ngajar, Ribuan Siswa di Lamongan Kelimpungan

( words)
Bu Saudah ini harus mondar mandir dari kelas ke kelas untuk mengajar lantaran GTT yang ada di sekolahnya ikut moggok mengajar. FOTO: SP /MUHAJIRIN KASRUN


SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Ancaman ribuan guru GTT - PTT Lembaga Pendidikan Sekolah Dasar (SD) Negeri se Kabupaten Lamongan, Rabu (03/10/2018) untuk mogok mengajar benar-benar dilakukan.

Karuan saja aksi mogok mengajar secara serentak ini membuat kelimpungan lembaga pendidikan dan ribuan siswa.

Seperti halnya yang ada di lembaga SD Negeri Kebalanpelang, Kecamatan Babat, Lamongan. Di lembaga SD Kebalanpelang tersebut hanya memiliki dua orang guru PNS dan delapan orang guru berstatus honorer.

"Karena ada aksi mogok mengajar guru honorer saat ini, tentu kita yang hanya berdua harus mondar-mandir bergantian ke kelas mengajar siswa," kata Saudah Kepala SD Negeri Kebalanpelang.

Kalau hari ini, lanjut Saudah, belum begitu terasa kuwalahan, karena kebetulan hari ini pelaksanaan ujian tengah semester (UTS) sampai hari Sabtu (06/10) mendatang, jadi masih bisa bergantian ke kelas yang lain.

"Tapi gak tau nanti kalau sudah mulai kegiatan proses belajar mengajar aktif, ya gak tau mungkin ya kesulitan," terangnya.

Saudah berharap aksi mogok mengajar para guru honorer tidak berlangsung lama, "Mudah mudahan hanya tiga hari saja mogoknya, dan semoga mereka segera mendapatkan yang terbaik lah atas tuntutannya, karena memang kita juga prihatin," terangnya.

Aksi mogok mengajar para guru di Lamongan saat ini juga mengundang keprihatinan warga terhadap dunia pendidikan di Lamongan.

Kuswo Bendahara Komite SD Negeri Sumurgenuk, Kecamatan Babat mengatakan, aksi mogok mengajar para guru honorer tentu akan berdampak pada dunia pendidikan terutama proses belajar mengajar di SD Negeri akan kalangkabut.

"Ya kasihan anak didik, mestinya 6 kelas ada gurunya, terus tiap SD sekarang rata-rata cuma 2 sampai 3 guru yang PNS. bahkan cuma 1 Kepala Sekolahnya aja. Apa mampu 2 orang guru mengajar 6 kelas," ungkap Kuswo.

Merespon persoalan tersebut, Kuswo juga menyampaikan agar pemerintah daerah juga memberikan solusi yang terbaik untuk kesejahteraan para honorer GTT - PTT di Kabupaten Lamongan.

"Kami mohon pemerintah juga memberikan jalan keluar yang terbaik untuk para guru honorer yang memperjuangkan nasibnya saat ini," tandasnya.

Sementara itu, aksi ini dilakukan karena tuntutan yang mereka sampaikan dalam aksi turun jalan sebelumnya belum menemukan titik temu, semoga kedepanya ada solusi sehingga guru tidak sampai mengorbankan siswa dan lembaganya.

"Aksi mogok ini menjadi keputusan bersama antara pengurus dan korcam dengan berbagai pertimbangan, mulai tanggal 3 Oktober hingga waktu yang tidak ditentukan,"kata Hendro Cahyono, Sekretaris Forum Honorer Sekolah Non Kategori (FHSNK) Kabupaten Lamongan, Rabu (3/10/2018). jir

Berita Populer