Hadapi Puti Soekarno, Khofifah Kenalkan Kerudung Putih

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Calon Gubernur (Cagub) Khofifah Indar Parawansa merasa tidak tersaingi dengan hadirnya Puti Guntur Soekarno di Pilgub Jatim 2018. Banyak yang memprediksi, cucu Presiden Soekarno itu akan memecah suara perempuan pada coblosan yang akan digelar 27 Juni 2018 nanti.
Saat ditanya, apakah Puti Guntur Soekarno yang menjadi pendamping Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Khofifah hanya menjawab singkat. "Coblos kerudung putih. Itu saja cara identifikasi paling mudah," kata Khofifah, usai acara haul mendiang suaminya di Surabaya, Minggu (14/1/2018).
Pemakai kerudung putih yang dimaksud tidak lain adalah dirinya sendiri. Kerudung putih adalah atribut yang selalu dia pakai saat tampil di depan publik. Sementara Puti Guntur Soekarno selalu tampil di hadapan publik dengan mengenakan kerudung merah yang merupakan warna kebesaran PDI Perjuangan (PDIP).
Di Pilgub Jatim, Gus Ipul-Puti didukung PKB (20 kursi), PDI-P (19 kursi), PKS (6 kursi), dan Gerindra (13 kursi) dengan total kekuatan kursi parlemen 58 kursi. Adapun Khofifah-Emil Dardak disokong oleh Partai Demokrat (13 kursi), Golkar (11 kursi), Nasdem (4 kursi), PPP (5 kursi), Hanura (2 kursi), dan PAN (7 kursi) dengan total kekuatan kursi parlemen sebanyak 42 kursi.
Sementara itu, Tim pemenangan Gus Ipul-Puti akan mengumpulkan semua partai pendukung untuk membahas strategi pemenangan. “Insya Allah dalam waktu dekat akan kita kumpulkan semua partai pendukung,” kata Ketua Tim Pemenangan Gus Ipul-Puti, Hikmah Bafaqih.
Dalam pertemuan nanti, tim pemenangan akan kembali merapikan komponen tim, karena ada tambahan partai pengusung Gus Ipul-Puti. Partai tambahan ini akan melengkapi strategi yang sudah terbangun selama ini. Selain itu, tim pemenangan juga menerima usulan langkah dari semua partai pengusung. “Kita merapikan kembali tim kampanye, karena ada tambahan pendukung PKS dan Gerindra,” ujar Hikmah.
Anomali Politik
Pada Pilgub Jatim 2018, terjadi anomali politik yang sangat menarik. Dua partai yang selama ini disebut rival, justru membentuk koalisi dan mendukung calon yang sama. Kedua partai tersebut adalah PDIP dan Partai Gerindra. Bersama dengan PKB dan PKS, partai besutan Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto ini memberikan dukungan kepada Gus Ipul-Puti Guntur.
Sekretaris DPD PDIP Jatim Sri Untari secara terbuka mengaku tidak begitu mengerti dengan alasan Gerindra yang memutuskan untuk bergabung dengan gerbong Gus Ipul-Puti Guntur. Namun, wanita yang juga Sekretaris Timses GI-Puti tersebut, hubungan antara PDIP dan Partai Gerindra di Jawa Timur tidak ada masalah.
"Karena hitungan matematikanya kan dengan koalisi PKB, PDIP, Gerindra, dan PKS ini 58 kursi dari 100 kursi. Maka paling tidak ada 58 persen suara kita aman kalau semua berhasil mengamankan kandangnya masing-masing. Tapi kan politik itu tidak bisa dimatematikakan begitu," ujar Untari.
Teroisah, Wakil Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi DPD Partai Gerindra Jawa Timur Hendro T. Subiantoro menjamin bahwa rivalitas di masa lalu antara kedua partai akan selesai bersamaan dengan koalisi di Pilgub Jatim. Ia menjamin seluruh kader Gerindra akan tegak lurus dengan keputusan partai. “Apa yang terjadi di masa lalu sudah selesai. Politik itu dinamis," cetus Hendro.
Peta Dukungan
Di sisi lain, Dekan Fisib Universitas Trunojoyo Madura Surokim Abdussalam mengatakan bahwa pemilihan Puti sebagai Cawagub Gus Ipul tidak akan berdampak banyak bagi kalangan Fatayat dan Muslimat. Suara kedua anak organisasi NU itu, menurut Rokim akan tetap mengarah ke pasangan Khofifah-Emil Dardak.
"Kalaupun berkurang tidak akan lebih dari 10 persen. Jadi modal 7 hingga 8 persen kemungkinan aman untuk Khofifah. Sementara GI akan banyak disupport kiai struktural NU dan akan memeroleh dukungan dari pengurus struktural NU. Sementara kiai kampung cenderung fifty fifty akan lebih sedikit ke KIP (Khofifah Indar Parawansa). Jika dilihat dari dukungan pemilih NU, GI relatif akan mendapat keuntungan," ujar Rokim.
"Jika dilihat dari sebaran wilayah, KIP relatif berjaya di Pantura dan Mataraman atas. Sementara GI menguasai Tapal Kuda. Daerah pertempuran sengit sesungguhnya ada wilayah Arek dan Madura," lanjut pria yang juga peneliti senior Surabaya Survey Centre tersebut.
Menariknya, Rokim memandang bahwa hingga hari pemilihan kelak, yang akan susah diprediksi adalah wilayah Madura. "Potensi money politics diwilayah ini relatif tinggi. Siapa yang kuat modal ekonominya berpotensi menang diwilayah itu," jelasnya.
"Apalagi di wilayah itu, potensi malapraktik penyelenggaraan pemilu relatif tinggi. Bahkan, MK pernah mencatat khusus wilayah Bangkalan dan Sampang potensial terjadinya pelanggaran pemilu secara terstruktur, masif dan sistemik," tambahnya. n ifw/rko