•   Minggu, 29 Maret 2020
Peristiwa Kriminal

Hand Sanitizer Diduga Palsu Masih Beredar

( words)
Pekerja pabrik PT. Rama Emerald Multi Sukses di Gresik menunjukan hand sanitizer asli miliknya dan palsu yang dijual di pasaran, Kamis (26/3/2020). Produk yang diduga palsu tidak memiliki ijin edar dari Kemenkes dan BPOM RI. (SP/JULIAN)


Pabrik Hand Sanitizer di Driyorejo Gresik yang Menemukan Produknya “Ditembak“ dan Dijual di Lapak Online dan Media Sosial. Ironisnya, Ada yang Jual Oplosan dengan Bahan Kimia Lain, Kemudian Dijual dengan Harga Tinggi. Ciri-ciri Hand Sanitizer Palsu tak Miliki Izin Edar dari Kemenkes dan BPOM di kemasannya

SURABAYA PAGI, Surabaya – Dugaan adanya pihak yang memproduksi hand sanitizer palsu untuk mencari keuntungan di tengah wabah virus corona (Covid-19), tampaknya bukan isapan jempol. Bahkan, terduga pelaku nekad memalsu produk hand sanitizer buatan pabrik yang telah memiliki legalitas lengkap. Penelurusan Tim Wartawan Surabaya Pagi, peredaran produk hand sanitizer diduga palsu ini masih dijual di Surabaya dan sekitarnya.
------

Informasi yang dihimpun, Kamis (26/3/2020), banyaknya masyarakat yang membutuhkan hand sanitizer yang khawatir terjangkiti virus corona, menjadi pemicu pihak-pihak tak bertanggung jawab. Pihak ini memproduksi hand sanitizer dengan merek diduga palsu. Atau mereka membuat hand sanitizer tak sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Juga produk ini tak dilengkapi perijinan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI. Sehingga produk palsu ini justru membahayakan konsumen.

Padahal, hand sanitizer ini produk kesehatan yang paling dicari masyarakat di tengah wabah virus mematikan itu. “Permintaan masyarakat melonjak tapi pabrik-pabrik pembuat hand sanitizer kekurangan bahan baku. Ini yang menjadi celah pihak-pihak tak bertanggung jawab produk hand sanitizer palsu,” ungkap salah seorang apoteker saat ditemui Surabaya Pagi.

Bahkan, tambahnya, hand sanitizer oplosan pun juga cukup banyak ditemukan dijual di beberapa media sosial. ”Tak hanya palsu, tetapi oplosan yang dibeli bahan asli, kemudian dioplos juga banyak,“ tambahnya.

Tim Surabaya Pagi kemudian mengunjungi salah satu pabrik farmasi yang memproduksi hand sanitizer PT Rama Esmerald Multi Sukses, yang berada di Jalan Driyorejo, Gresik. Kepada Surabaya Pagi, Suhendra, kepala pabrik PT Rama Esmerald Multi Sukses mengatakan pihaknya kewalahan dalam memenuhi permintaan hand sanitizer untuk distributor. Selain banyaknya permintaan, sulitnya bahan baku seperti alkohol dan botol tempat hand sanitizer membuat pabrik kesulitan meningkatkan produksi dari biasanya yang setiap harinya bisa memproduksi hingga 8000 liter hand sanitizer.

“Jangankan meningkatkan produksi, untuk bisa produksi yang biasanya sehari 8000 liter saja kami kesulitan mencari bahan bakunya,” kata Suhendra, Kamis (26/3/2020).

Tak Ada Izin Edar
Menurut Suhendra, langkanya bahan baku tersebut dipicu banyaknya masyarakat yang membuat atau memproduksi sendiri hand sanitizer di rumah, karena memanfaatkan situasi virus corona. Bahkan, pihaknya menemukan handsanitizer yang memakai logo sama persis dengan buatan PT Rama Esmerald Multi Sukses. Namun bedanya, pihak yang memakai logo itu tak memiliki izin edar dari BPOM maupun Kementrian Kesehatan.

Meski begitu, pihak yang diduga memalsu produk hand sanitizer itu tetap menjual ke masyarakat, memanfaatkan kasus virus corona yang merebak. “Kami baru-baru ini menemukan penjualan hand sanitizer yang logonya sama persis dengan kita. Saya tidak mengatakan hand sanitizer palsu, tapi itu logo sama persis dengan milik kita,” tambah Suhendar.

Namun, lanjut Suhendra, perbedaan hand sanitizer buatan pabriknya dengan hand sanitizer palsu tersebut tampak jelas baik dari segi kemasan dan isinya. Jika hand sanitizer buatan pabriknya, kemasan botol yang digunakan transparan dan memiliki label dari Kemenkes RI. Sedangkan yang antiseptic Hand sanitizer palsu menggunakan botol berwarna putih dan hanya menggunakan label logo yang sama persis.

“Yang palsu tidak memilik label Kemenkes RI seperti punya kita. Cairannya lebih encer, sedangkan punya kita terlihat seperti jelly. Biasanya itu menggunakan methanol yang mudah terbakar, sedangkan kita menggunakan alkohol terbaik dan memiliki izin,” papar Suhendra.

Ditanya langkanya hand sanitizer yang berada di apotek, Suhendar menyampaikan tidak mengetahui hal tersebut. Sebab pabrik yang dipimpinnya ini hanya melayani distributor, baik di Surabaya sampai di luar pulau Jawa. Namun, situasi merebaknya virus corona di tanah air memang membuatnya kesulitan memenuhi permintaan distributor.

Bahkan, lanjutnya, banyak distributor yang rela membayar terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan stock hand sanitizer. “Selain bahan baku, memang permintaan yang banyak bahkan kita harus melayani permintaan dari pemerintah untuk dinas kesehatan dan rumah sakit,” ungkap Suhendta.

Lapor Polisi
Di tempat yang sama, Bayu selaku manager HRD, mengatakan sudah mengambil tindakan dengan melaporkan adanya hand sanitizer palsu dengan menggunakan logo milik PT Rama Emerald Multi Sukses ke pihak kepolisian. “Kami sudah koordinasi sama pihak kepolisian, karena menggunakan logo kami,” kata Bayu.

Bayu berharap pihak kepolisian secepatnya menangkap oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang secara sengaja menimbun atau membuat hand sanitizer palsu, karena selain merugikan juga membahayakan orang lain. “Pabrik kita saja pernah diperiksa Polda Jatim karena dikira menimbun hand sanitizer, padahal kita kekurangan bahan baku dengan besarnya permintaan. Saya harap polisi juga mengungkap pembuat hand sanitizer dengan sembarangan. Kalau punya izin (BPOM dan Kemenkes, red), pasti bahan yang digunakan tidak berbahaya. Tapi kalau hanya untuk keuntungan, methanol pun bisa jadi digunakan untuk hand sanitizer, tapi itu berbahaya,” tandas Bayu.

Sementara itu, Anggara Manager Produksi, menghimbau kepada masyarakat agar tidak membeli hand sanitiser sembarangan. Sebab, jika berbahan methanol akan berbahaya dan mudah terbakar. “Pesan saya teliti dahulu waktu beli di media sosial atau di mana pun, karena terkadang demi meraup keuntungan lebih banyak, oknum tidak bertanggung jawab biasanya menggunakan campuran air lebih banyak dari pada alkohol,” kata Anggara.

Ramai Dijual Online
Merebaknya virus Corona di Indonesia membuat hand sanitizer menjadi mahal dan langka di pasaran. Ini membuat para penjual atau mitra dari online shop (olshop) berlomba-lomba mencari keuntungan. Imbas kepanikan masyarakat, harga produk kesehatan seperti hand sanitizer naik tak wajar.

Dilihat di online shop atau toko online, harga pembersih tangan itu naik berkali-kali lipat dari harga normalnya. Dilihat pada Kamis (26/3/2020), harga sejumlah merek hand sanitizer melambung tinggi di beberapa platform e-commerce seperti Lazada, Shopee, dan Tokopedia.

Contohnya, harga hand sanitizer seperti merek Dettol dan Nuvo kemasan botol 50 ml yang biasanya dijual belasan ribu rupiah di warung, kini dibanderol seharga Rp 40.000-280.000.

Beberapa jenis merek hand sanitizer ukuran lebih besar seperti Aseptic Gel isi 500 ml dijual di marketplace seharga Rp 38.000. Kemudian merek Sano hand sanitizer 500-1000 ml dipatok Rp 215.00-425.000 dan Brata Med 500ml di bandrol harga Rp 335.000

Namun rata-rata pedagang yang menjual produk hand sanitizer itu sudah memiliki bintang lima, yang artinya reputasi penjualan mereka dikenal baik dan bukan pedagang dadakan.

Janji Polrestabes
Terpisah, dikonfirmasi sejauh mana tindakan yang dilakukan Polrestabes Surabaya dalam menindak para penimbun dan pembuat handsanitizer palsu melalui sambungan teleponnya, baik Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho ataupun Kasatreskrim Polretabes Surabaya AKBP Sudamiran tidak menjawab sambungan telepon Tim Surabaya Pagi.

Kemudian Tim melontarkan pertanyaan melalui pesan Whastapp yang berisi “Soal banyaknya handsanitizer palsu, dan banyaknya penjual yang meraup kepentingan pribadi dengan tidak wajar, apakah Polrestabes sudah mengambil tindakan?”. Namun, hingga pukul 21.00 WIB Tim Surabaya Pagi belum menerima jawaban dari Kapolrestabes maupun Kasat Reskrim.

Padahal sebelumnya, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho mengaku tengah menyelidiki dugaan adanya peredaran hand sanitizer palsu dan penimbunan masker di wilayah hukumnya. Diketahui, dua barang ini paling dicari masyarakat di tengah merebaknya virus corona (Covid-19).

"Saat ini sedang ada beberapa yang kita ungkap dan selidiki yaitu terkait adanya hand sanitizer yang palsu, tidak memiliki izin, dan juga ada penimbunan masker," kata Sandi Nugroho di Mapolrestabes Surabaya, (6/3/2020).
Ia berjanji akan mengungkapkannya secara rinci dalam waktu dekat. "Namun, belum bisa kita ungkap sepenuhnya, karena sedang dalam penyelidikan. Karena anggota juga masih bekerja untuk mengumpulkan barang bukti," cetus Sandi saat itu. (jem/tyn/byt/don)

Baca selengkapnya dihttp://epaper.surabayapagi.com/
Temui juga Surabaya Pagi di instagramhttps://www.instagram.com/harian.surabayapagi/?hl=id
Dan juga di facebook Surabaya Pagihttps://www.facebook.com/SurabayaPagi/

Berita Populer