•   Selasa, 19 November 2019
Agrobisnis

Harapan Petani dan Tambahan Gudang Serap Garam

( words)
Petani garam SP/Mdin


SURABAYAPAGI.com – Harga yang tak kunjung bersahat dengan petani membuat berbagai pihak terus melontarkan harapan-harapannya demi kesejahteraan petani gara. Pekatnya rasa garam tak sepekat harga yang dikantongi oleh petani.

Untuk menghasilkan 1 kilogram (kg) garam dengan kualitas I (KW I) dimana kadar natrium klorida (NaCl) mencapai 95% hingga 98%, dibutuhkan dana sebesar Rp 500. Sementara saat ini harga garam KW I hanya dihargai Rp 600 per kg.

"Kalau harganya Rp 600 per kg, berarti hanya dapat Rp 100 per kg, belum menghitung waktu dan tenaga. Biasanya dari 1 hektar lahan, terdapat 70 hingga 100 ton per musim panen, berarti bila petani memiliki 1 hektar lahan dengan garamnya 70 ton, penghasilannya hanya Rp 7 juta, dari Juni hingga Oktober," jelas Jakfar.

Ketua APGRI Jakfar Sodikin mengatakan, harga pembelian tersebut pun harus berdasarkan atas harga pokok produksi yang dikeluarkan petani. "Untuk menghasilkan garam terdapat proses pengolahan, yang memakan waktu dan biaya, ada tambak yang dibutuhkan juga untuk mengelola garam tersebut," ujar Jakfar mengutip Kontan.co.id, Minggu (21/7).

Jakfar pun mengusulkan agar harga pembelian terendah yang ditetapkan di petani sebesar Rp 1.000 per kg, menurutnya harga tersebut sudah cukup untuk mengolah garam juga untuk menghidupi kehidupan petani garam dan keluarganya.

Selain itu, turut membatu, PT Garam menjadi salah satu BUMN yang turut menyerap garam petani. Meski begitu, untuk menyerap garam petani tahun ini, PT Garam mengaku masih membutuhkan tambahan gudang lantaran kapasitas penyimpanan gudangnya yang semakin terbatas.

Kapasitas gudang PT Garam saat ini sekitar 450.000 ton. Saat ini gudang-gudang tersebut pun berisi 120.000 ton garam yang diserap dari petani garam tahun lalu, garam yang diproduksi oleh PT Garam yang belum terjual, dan titipan garam yang belum diambil pembeli karena gudang mereka yang juga penuh.

Maka dari itu, PT Garam membutuhkan tambahan gudang lagi untuk menyimpan serapan garam drai petani.

Selain tambahan gudang, Hartono pun mengatakan, pihaknya membutuhkan tambahan untuk menyerap garam petani.Ini bertujuan supaya harga garam di tingkat petani tidak semakin jatuh. Meski begitu, PT Garam juga mengimbau agar petani turut memproduksi garam dengan kualitas I sehingga bisa bersaing dengan impor.

Hartono mengatakan, pihaknya hingga saat ini masih memiliki sisa dana penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 28 miliar. Dia mengatakan, pihaknya akan memaksimalkan dana tersebut untuk menyerap garam petani dan menggunakan dana tambahan dari modal perusahaan sebagai dana tambahan.

Hartono berpendapat, supaya harga garam stabil, dibutuhkan penetapan harga eceran tertinggi (HET) garam. Menurutnya, PT Garam tidak akan keberatan meski harga penyerapannya menjadi lebih tinggi nantinya.

Berita Populer