•   Minggu, 15 September 2019
Hukum & Pengadilan

Harga Telur Perlahan Mulai Turun

( words)


SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Harga telur ayam perlahan mulai turun setelah sempat menanjak ke angka Rp 29 ribu per kilogram (kg) hingga Rp 30 ribu per kg. Kenaikkan tersebut merupakan imbas libur akhir tahun 2018.

Berdasarkan pantauan, di Pasar Slipi, Jakarta Barat, para pedagang mengatakan harga telur ayam mulai turun ke level normal, yakni Rp 25 ribu per kg. Namun memang saat ini masih belum bisa menyentuh level tersebut.

"Harga telur Rp 27 ribu. Mungkin masalah Tahun Baru sama Natal. Kemarin sempat Rp 29 ribu, sekarang mulai-mulai turun lagi," tutur Erik Giazi (20), di Pasar Slipi, Jakarta Barat, Jumat (11/1/2019).

Kenaikkan yang terjadi akibat tahun baru masih di bawah lonjakan harga pasca-lebaran yang menyentuh Rp 30 ribu per kg. Ada pula pedagang yang mulai menjual harga telur di harga Rp 26 ribu, seperti Toko Adam.

"Telur Rp 26 ribu. Baru turun. Mulai turun," ujar pemilik toko. Harga yang sama juga dijual di Toko Adhy.

Berikutnya, telur ayam kampung terpantau naik, meski masih dalam level wajar. "Lagi naik juga, tetapi tetap stabil. Satu biji, Rp 2.500, beli 10 Rp 22 ribu," jelas pemilik Toko Adam.

Sementara itu, untuk telur puyuh, Ida (54), menjual seharga Rp 6.000 per 10 butir, dan telur asing dibanderol seharga Rp 3.500 per butir.

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan harga telur dan daging ayam akan kembali normal yang sebelumnya melonjak jelang Natal dan Tahun Baru.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita mengatakan, penurunan ‎harga telur dan daging ayam didorong oleh adanya pasokan jagung sebagai pakan ternak dari Perum Bulog. Harga jagung yang dipasok BUMN tersebut ‎sebesar Rp 4.000 per kg.

‎"Harga telur akan turun, karena masalah jagung sudah terselesaikan di layer. Harga dari Bulog itu Rp 4.000‎. Harga akan kembali normal," ujar dia di Kantor Kementan, Jakarta, Selasa, 8 Januari 2019.

Dia menuturkan, pasokan jagung dengan harga murah tersebut, tidak ada lagi alasan harga telur dan daging ayam untuk naik. Diharapkan harga kedua komoditas pangan tersebut kembali sesuai dengan harga acuan yang ditetapkan pemerintah.

"Makanya kita intervensi harga pakan bisa masuk sesuai dengan HPP yang ditetapkan. Dengan harga Rp 4.000, tidak ada alasan lagi naiknya harga, karena populasi dan produksi kita sebenarnya surplus," kata dia.

Sementara itu terkait kenaikan harga jelang Natal dan Tahun Baru lalu, Ketut menyatakan sebagai ‎hal yang wajar. Sebab, terjadi lonjakan permintaan.

"Harga naik turun tergantung dari pasar, ada bulan-bulan sepi, ada bulan yang ramai seperti pada Natal Tahun Baru. Tapi telur ini tidak bisa disimpan lebih dari 1 minggu, jadi pasti digelontorkan," ujar dia.

Berita Populer