Analisis Machsus Fauzi, Pakar Transportasi ITS

Harus Belajar dari Busway Jakarta

SURABYAPAGI.com - Pakar Transportasi dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) Machsus Fauzi mengimbau agar memberikan solusi jika dalam perkembangannya mengalami pembengkaan ABPD dan terasa berat dengan subsidi yang di keluarkan untuk moda transportasi Surabaya Bus.
"Apabila mengalami pembengkaan ABPD sehingga terasa berat maka pertimbangkan dengan cari solusinya. Tentu pengeluaran anggaran perlu dengan persetujuan dewan. Jadi carikan solusi (win win solution) terhadap persoalan tersebut," Ucap Machsus Dosen ITS ini.
Machsus memberikan salahsatu solusi alternatif atas problematik tersebut. Yakni dengan pengenaan biaya terhadap penumpang dengan kombinasi pada penukaran botol plastik sebagai tiket untuk menaiki Surabaya Bus.
"Sebagian subsidi dan ada beban yang di tanggung penumpang dalam bntuk tarif. Pengenaan tarif tentu tidak mahal artinya batas yang terjangkau oleh masyarakat," Ujarnya.
Dia mencontohkan seperti Busway di DKI Jakarta. Moda transportasi Busway tersebut tidak gratis melainkan murah tarifnya. Sehingga segi pelayanan ke masyarakat dengan biaya murah dan di sisi lain mendapatkan subsidi APBD.
"Surabaya belajar pada Busway di Jakarta. Yang ditanggung masyarakat sangat murah dan kebutuhan lain untuk operasional menggunakan Apbd subsidi pemprov DKI Jakarta,’’ sebutnya.
Kata Machsus, tentu kaitan tarif berkaitan dengan aspek legal yang perlu penyesuaian. Karena sementara ini Surabaya Bus menggunakan plat nomor merah. Sehingga hal itu tidak boleh dikenakan tarif biaya.
"Pengelolaan itu tidak boleh memang langsung dikelola oleh pemkot dengan plat nomor merah tapi harus ada semacam UPT untuk mengelola itu. Jadi terkait aspek kelembagaan sehingga plat nomor gak lagi merah. Plat momor kuning baru bisa diberi kewenangan untuk kenakan tarif," Ungkapnya.
Meski demikian, lanjut Machsus, bukan berarti orientasinya pada profit dan menghilangkan seluruh subsidi karena di negara majupun ada yang subsidi. " Apabila dikenakan tarif bukan semata-mata arahnya profit. Di negara lain yang maju ada yang subsidi juga. Tergantung pemerintah," Terangnya.
Disisi lain Surabaya Bus, kata Machsus, masih perlu banyak pembenahan kedepannya. Karena hingga kini belum bisa mengatasi kemacetan, highway masa tunggu masih lama, dan armadanya yang masih terbatas.
" Saat ini memang belum bisa mengatasi kemacetan pasti tapi sedikit mengurangi dan perlu ditingkatkan. Karena rute bus dan armadanya terbatas, dan angkutan pribadi yang pindah ke angkutan bus proporsinya masih belum banyak. Highway ideal 5 menit waktu tunggu orang dihalte tapi dilapangan ada sampai setengah jam karena armadanya terbatas,” tuturnya. n