•   Sabtu, 16 November 2019
Agrobisnis

Hasil Ekspor Pertanian Berhasil Dorong Neraca Perdagangan

( words)
Salah seorang petani yang tengah memetic biji kopi SP/Trbn


SURABAYAPAGI.com - Badan Pusat Statistik menyatakan ekspor hasil pertanian mengalami peningkatan yang cukup besar menopang neraca perdagangan September 2019.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan September 2019 mengalami defisit US$ 160 juta. Angka itu selisih dari nilai ekspor US$ 14,10 miliar yang lebih kecil dari impor US$ 14,26 miliar. Sementara pada Agustus 2019, neraca dagang surplus US$ 85,1 juta.

Kepala Badan Pusat Statistik Kecuk Suhariyanto menyatakan, ekspor hasil pertanian pada September 2019 tercatat US$355,7 juta, mengalami kenaikan 5,27% dibandingkan dengan ekspor hasil pertanian Agustus 2019 yang tercatat US$337,9 juta.

“Ekspor hasil pertanian yang meningkat cukup besar itu buah-buahan, tembakau, tanaman obat, aromatik, rempah-rempah, dan sayur-sayuran,” ujar Suhariyanto di Kantor BPS, Selasa (15/10/2019).

Dia memerinci, secara year-on-year (yoy), ekspor hasil pertanian yang meningkat cukup besar adalah; kopi, tanaman obat, aromatik, rempah-rempah, hasil hutan bukan kayu lain, dan tembakau.

“Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–September 2019 mencapai US$ 124,17 miliar atau menurun 8,00% dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$ 114,75 miliar atau menurun 6,22%,” kata dia di Jakarta, Selasa (15/10).

Selain hasl tani diatas, BPS menyebutkan dalam periode Januari sampai September 2019 ekspor komoditi hasil pertanian yakni Babi tercatat US$ 44,79 juta atau setara Rp 627,06 miliar (kurs Rp 14.000), tumbuh 9,22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$ 41,01 juta atau setara Rp 574,14 miliar.

Per September ekspor Babi US$ 4,78 juta turun 10,86% dibandingkan periode Agustus 2019 US$ 5,3 juta. Permintaan paling banyak ke Singapura karena babi berasal dari Batam

Secara umum, ekspor nonmigas secara (mtm), mencapai US$13,27 miliar, dan volume 52,73 juta ton. Jika dibandingkan dengan Agustus 2019, nilai ekspor nonmigas ini turun 1,03%, volume naik 4,64%.

Secara rinci, penurunan ekspor nonmigas terjadi karena peran komoditas perhiasan atau permata sebesar 2,03% lalu kendaraan dan bagiannya turun 0,64%, serta pakaian jadi bukan rajutan turun 0,58%.

Sementara itu, untuk komoditas nonmigas yang mengalami peningkatan selain pertanian antara lain; bijih, kerak, dan abu logam dengan nilai 193,08% dengan kenaikan volume 28,63%.

Komoditas yang mengalami kenaikan lainnya adalah lemak dan minyak hewan nabati sebesar 11,53%, dengan kenaikan volume ekspor 7,51%. Ketiga adalah komoditas besi dan baja yang juga naik 19,15%, dan volume ekspor juga naik 9,59%.

Adapun tujuan utama ekspor nonmigas ini adalah Tiongkok, Taiwan, dan India.

Berita Populer