•   Jumat, 22 November 2019
Peristiwa Kriminal

Hasil TPF Novel Bentukan Polri Kecewakan KPK

( words)
Suasana jumpa pers yang digelar TPF kasus Novel Baswedan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/7)


SURABAYAPAGI, Jakarta- Hasil investigasi tim pencari fakta (TPF) kasus teror Novel Baswedan yang dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian, mengecewakan KPK. Pasalnya, setelah 6 bulan bekerja, TPF gagal mengungkap siapa pelaku teror terhadap Novel.

"KPK kecewa karena sampai saat ini, bahkan pelaku lapangan belum ditemukan," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif, Rabu (17/7/2019).

Padahal, kata Syarif, KPK berharap pelakunya bisa ditemukan oleh tim ini. Dia mengaku membayangkan tim tersebut mengungkap siapa calon tersangka di kasus ini, namun ternyata tidak.

"KPK sejak awal berharap pelaku ditemukan. Kami bayangkan hasil kerja tim ini sudah langsung menemukan siapa calon tersangka, namun dari yg kita lihat tadi belum ada calon tersangka. Belum ada perkembangan signifikan untuk menemukan pelaku," ucapnya.

Dia mengajak semua pihak fokus menemukan pelaku dan bukan mencari alasan ataupun membangun isu lain. Syarif mengatakan KPK bakal membahas langkah agar kasus ini bisa ditangani dan tak terulang lagi.

"Pimpinan KPK akan membicarakan langkah berikutnya agar teror dan serangan seperti ini bisa ditangani, pelaku ditemukan dan hal yang sama tidak terulang kembali," ujarnya.

Sebelumnya, TPF kasus Novel mengatakan pihaknya menemukan fakta terkait dugaan teror penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK itu. TPF menemukan probabilitas serangan balik akibat penanganan kasus yang dilakukan Novel dengan penggunaan kewenangan berlebihan.

Senada, Ketua Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi KPK, Yudi Purnomo Harahap menyatakan, Novel Baswedan secara pribadi juga kecewa akan hasil investigasi ini.

"Novel sudah bersama kami dan menyampaikan bahwa sangat kecewa dengan TPF karena membuat Novel sebagai korban semakin terpukul," ujar Yudi saat konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu (17/7/2019). Yudi menyampaikan, sejatinya hasil penyelidikan TGPF melindungi Novel, bukan justru menuduh isu yang belum jelas buktinya. "Isu seperti politik, kemudian menyalahgunakan kewenangan, penyalagunaan seperti apa, itu tidak dijelaskan," ucap dia.

Harapan Novel agar pelaku penyerangannya terungkap pun menjadi sia-sia. Ia juga menyampaikan, hasil penyelidikan TGPF masih jauh dari harapan KPK. Yudi menilai, penyelidikan TGPF yang tidak menuntaskan kasus Novel justru membuat KPK dan masyarakat tidak percaya bahwa investigasi dilakukan idependen.

"Kami berharap positif, tetapi ternyata tak ada satu pun pelaku yang diungkap. Harapan kami jadi sia-sia, ini justru akan terjadi ketidakpercayaan oleh masyarakat," kata dia.

Dalam konferensi Rabu (17/7/2019), TPF belum juga berhasil menemukan titik terang pelaku penyerang Novel.

TPF kemudian merekomendasikan Polri membentuk tim teknis lapangan yang bertugas mengungkap kasus penyerangan Novel. Tim teknis lapangan ini akan bekerja paling lambat dalam enam bulan dan bisa diperpanjang masa kerjanya. Tim tersebut akan dipimpin Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jenderal Idham Azis.

"TPF menemukan fakta terdapat probabilitas terhadap kasus yang ditangani korban yang menimbulkan serangan balik atau balas dendam, akibat adanya dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan. Dari pola penyerangan dan keterangan saksi korban, TPF meyakini serangan tersebut tidak terkait masalah pribadi, tapi berhubungan dengan pekerjaan korban," kata Juru Bicara Tim Pencari Fakta Kasus Novel Baswedan, Nur Kholis, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/7).

Namun, mereka belum menyebut siapa pelaku serangan terhadap Novel. TPF meminta Polri membentuk tim untuk mencari tiga orang tidak kenal yang diduga datang ke rumah Novel ataupun masjid yang berada di dekat rumah Novel sebelum kejadian.

Polisi Bantah Tak Serius
Polri sendiri membantah tudingan tidak serius tangani kasus Novel. Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol M. Iqbal mengatakan, bahkan untuk menunjukkan bahwa keseriusan Polri tangani kasus tersebut, pihaknya akan melibatkan tim survelen, tim penggalangan, tim Inavis tim Puspiden, serta Densus 88 pun turut dilibat.

"Tim ini melibatkan yang profesional seperti tim invigator. Tim survelen, tim penggalangan tim Inavis tim Puspiden, hingga libatkan juga dari Densus 88. Ini adalah bukti bahwa Polri sangat serius untuk mengungkap peristiwa ini," kata Iqbal di Bareskrim Polri, Rabu (17/7).

Menurut Iqbal, tim ini juga nantinya akan diisi oleh anggota yang kredibel, personel kepolisian yang terbaik, serta personel yang memang sekolahnya untuk melakukan investigasi.

Tak hanya itu saja, tersebut teknis yang langsung di pimpin oleh jenderal bintang tiga di institusi Polri saat ini, akan bekerja dengan menggunakan metodelogi terbuka.

"Rekommendasi tadi sudah jelas bahwa dengan segala temuan hasli kerja 6 tim pakar. Direkomendasikan kepada Pak Kapolri untuk membentuk Tim Teknis Lapangan yang spesifik. Tim teknis spesifik itu hanya dimiliki tim kami," tegasnya.

Untuk diketahui, sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian bakal membentuk Tim Teknis untuk menindaklanjuti kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.

"Tentunya apa yang disampaikan oleh TGPF ini akan kami sampaikan dan ditindaklanjuti dan kami akan membentuk tim yang di pimpin oleh pak Kabareskrim sendiri," kata Irjen Iqbal di Gedung Bareskrim Polri, Rabu (17/7).

Pembentukan tim teknis yang dipimpinan langsung oleh Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Idham Aziz tersebut jelas Iqbal, setelah adanya rekomendasi dari TGPF yang bekerja selama enam bulan itu, telah berakhir pada Minggu (7/7) lalu.n

Berita Populer