Ibu, Rawan Ekspresikan Kekesalan ke Anak

Kaprodi Psikologi UINSA Surabaya Dr. Naylatin Fauziyah, S.Psi., M.Si., M.Psi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Realitanya, pembelajaran daring memang bukan pilihan yang mudah untuk kita semua dan situasi ini berdampak pada pendidikan, salah satunya adalah orang tua.

Dimana orang tua selama ini bila untuk pendidikan anak-anaknya, perannya adalah pada kebutuhan pembiayaan, pembiayaan kebutuhan anak di rumah dan lain-lain. Kemudian tiba-tiba orang tua memiliki beban tambahan, ini ketika orang tua tidak memiliki keterampilan terkait dengan management waktu dan management emosi terhadap situasi ini, maka sangat rentan sekali berdampak pada kekerasan pada keluarga.

Nah dari sini, biasanya muncul persoalan baru. Yakni tingkat stress orang tua bisa muncul dan jadi salah satu pemicu kekerasan pada keluarga. Sering kali anak menjadi korban kekerasan dari orang tua.

Perempuan itu secara konstruksi sosial tidak diberikan ruang untuk mengekspresikan apa yang dia rasakan, yang dipikirkan selama ini. Akhirnya yang paling bisa atau yang memungkin kan untuk meluapkan rasa kekesalan atau marah itu biasanya ke anak.

Siklus yang biasa terjadi pada anak adalah sebagai pelampiasan emosi orang tua terhadap persoalan-persoalan yang sedang di hadapi.

Jadi, semua pihak harus ada kolaborasi, tidak bisa guru menyalahkan orang tua atau sebaliknya. Jadi harus ada kolaborasi antara orang tua, anak, sekolah, kemudian masyarakat, dan negara. Harus bersama-sama saling mensuport satu dengan yang lain. byt

 

Diutarakan Dr. Naylatin Fauziah, kepada wartawati Surabaya Pagi, Byta Indrawati, Selasa (22/9/2020) kemarin.