Surat Akal Sehat untuk Orang Indonesia yang Gampan

Imlek itu Angpaonya

Selasa, 5 Februari 2019 besok dinyatakan oleh pemerintah sebagai hari libur Nasional. Besok dirayakan oleh orang Tionghoa merupakan hari Raya Imlek. Saya orang pribumi yang mayoritas teman-teman saya adalah etnis Tionhoa, menulis bahwa Imlek adalah perayaan tahun baru menurut penanggalan kalender China. Saya menulis soal imlek, karena di sebuah TV berita nasional, pernah muncul dialog yang diawali oleh seorang netizen yang mengingatkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Mahfud MD, terkait larangan mengucapkan dalam agama Islam. Ucapan Mahfud ini disertai dengan memajang fotonya menggunakan baju cheongsam sambil berkicau mengucapkan selamat tahun baru. Salahkah Mahfud? Menurut akal sehat saya tidak, karena berdasarkan literatur yang saya gali, Imlek bukan perayaan keagamaan.

Dr. H. Tatang Istiawan
Wartawan Surabaya Pagi

Sampai saat ini belum ada data valid berapa sebenarnya jumlah penduduk Indonesia keturunan Tionghoa. Salah satu faktor, cukup banyak warga keturunan Tionghoa yang menolak disebut etnis China. Bahkan ada ribuan etnis yang tidak merasa orang Tionghoa, karena mereka sudah sejak kakek neneknya lahir dan bertempat tinggal di Indonesia.
Tapi hasil sensus penduduk (SP) pada tahun 2010, warga negara yang mengaku keturunan tercatat hanya sebesar 2.832.510 orang; atau hanya berjumlah 1,20% dari total penduduk Indonesia sebesar 236.728.379 orang; dengan menempati peringkat 18.
Namun, berdasarkan sumber Perpustakaan Universitas Ohio tahun 2000, jumlah suku Tionghoa di Indonesia mencapai 7.310.000 jiwa dengan menempati peringkat ke 3 setelah suku Jawa dan Sunda. Jumlah ini merupakan komunitas etnis yang terbesar yang berada di luar Tiongkok.
Menurut kalender China, tahun Baru Imlek 2019 akan dimulai pada hari Selasa besok, 5 Februari dan berakhir pada hari Jumat, 24 Januari 2020. Tahun Ini merupakan Tahun Babi Tanah. Tahun ini bermula setelah Tahun Anjing Tanah (2018) selesai. Tahun Babi Tanah ini berakhir sebelum Tahun Tikus Logam (2020).

***
Lebih dua puluh tahun saya diundang menghadiri perayaan Imlek di Surabaya dan Jakarta. Berdasarkan pergaulan dan literatur China, perayaan Imlek tidak ada hubungan dengan agama tertentu.
Perayaan Imlek murni berkaitan dengan orang China atau bahasa medok Suroboyoannya singkek.
Dalam literatur China berbahasa Mandarin, Imlek secara khusus dirayakan orang-orang Cina dari berbagai agama di belahan dunia manapun. Praktis, tahun baru Imlek dianggap oleh teman-teman saya etnis Tionghoa, baik yang berpendidikan tinggi maupun pedagang, merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa.
Nanti malam jelang tahun baru imlek, teman-teman saya menyebut sebagai Chúx? yang artinya "malam pergantian tahun’.
Sejarah di Tiongkok mencatat, tahun baru Imlek telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara yang memiliki penduduk etnis Tionghoa.
Sayang di Indonesia, selama tahun 1968-1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Larangan ini berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, era rezim Orde Baru.
Jenderal Soeharto, yang saat menjabat presiden, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.
Akhirnya, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967.
Tak lama, Presiden Abdurrahman Wahid menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Dan baru pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003.

***
Dalam catatan saya, setiap jelang Imlek selalu disertai berbagai ramalan atas 12 shio. Dan pada tahun 2019 yang diakui sebagai tahun Babi tanah dikenal sebagai menyambut Tahun Baru China 2570.
Setiap menjelang imlek, teman-teman saya etnis Tionghoa, menyiapkan semua hal dengan warna merah. Termasuk baju.
Warna merah dipercaya melambangkan kesejahteraan yaitu sesuatu yang kuat dan membawa keberuntungan.
Selain itu, warna merah diyakini dapat mengusir Nian yaitu sejenis makhluk buas yang hidup di dasar laut atau gunung. Mahluk ini dipercaya biasa keluar saat musim semi. Mahluk Nian dimitoskan suka mengganggu manusia, terutama anak kecil.
Teman-teman saya selain menampilkan sajian warna serba merah, juga makanan khas Imlek kue keranjang dan jeruk.
Tapi bagi masyarakat Tionghoa yang mampu, biasanya menyiapkan 12 jenis makanan yang disajikan kepada tamu. Ke-12 makanan ini melambangkan 12 shio dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa
Malahan baik yang kaya maupun biasa, suka menyulut petasan dan kembang api. Dua hal ini diyakini dapat mengusir nasib buruk tahun sebelumnya dan membawa pengharapan akan tahun baru yang lebih baik.
Tontonan lain yang bisa dinikmati warga prubumi adalah Liong dan Barongsai. Sajian Liong dan barongsai merupakan simbol kebahagiaan bagi masyarakat Tionghoa.
Mitos yang dipercaya oleh etnis Tionghoa, tarian naga dan singa ini diyakini dapat membawa keberuntungan dan mengusir roh jahat.
Pada malam imlek mereka makan bersama keluarga, sebelum silahturahmi ke sanak kerabat hari ‘’H’’ Imlek. Sama seperti saya yang muslim, kunjung mengunjungi sanak saudara dan kerabat dijadikan momen untuk mempererat tali persaudaraan. Terutama merajut jaringan bisnis.
Saya pun pernah diajak mencicipi makanan bernama Yu Sheng. Sepiring Yu Sheng terdiri dari irisan wortel, ikan salmon, salad, saus wijen, buah plum, dan lainnya.
Tradisinya, saat akan dimakan, Yu Sheng harus diaduk bersama-sama oleh keluarga yang menyantapnya. Dan pelahapnya, harus mengangkat makanannya dengan sumpit setinggi-tingginya sembari mengucapkan ’Lao Qi’ atau ’Lao Hei”.

***
Berdasarkan pengalaman empirik ini, saya tak habis pikir, ada segolongan warga Negara Indonesia yang sering menghujat imlek.
Segolongan ini menurut akal sehat saya tak mengerti hukum bagi seseorang yang gemar menghujat dan menghina orang lain.
Maklum, Islam, agama yang saya anut, mengajarkan umatnya untuk menjunjung tinggi kepribadian dan nama baik setiap orang khususnya seorang Muslim dan Mukmin.
Saya membaca riwayat dari Imam Musa Kazhim. Suatu hari beliau berdiri di hadapan Ka’bah dan berkata kepada Ka’bah, “Wahai Ka’bah! Alangkah agungnya hakmu namun demi Allah hak seorang beriman lebih agung dari hakmu’.
Juga Rasulullah Saw pernah bersabda, “Allah SWT mengharamkan surga bagi orang-orang yang gemar menghujat, berkata-kata buruk dan kurang malu yang tidak tahu menjaga omongannya.”
Dan Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim,” (QS. Al Hujuraat : 11)
Akal sehat saya mengatakan, Allah SWT pun melarang kita untuk menghina orang lain yakni dengan meremehkan dan mengolok-olok, seperti dalam Hadits shahih dari Rasulullah SAW beliau bersabda: “Takabbur adalah menentang kebenaran dan meremehkan (merendahkan) manusia,” (HR Muslim).
Mari bergaul dengan etnis Tionghoa gunakan pikiran jernih. Mereka adalah warga Negara Indonesia seperti kita termasuk dalam hal mendapatkan hak hidupnya.

***
Sebagai pribumi, hal penting yang saya sukai adalah membagi-bagikan uang angpao atau menerima angpao. Pernah dalam sehari saya mendapat amplop merah yang isinya bermacam-macam ada yang Rp 70 ribu dan ada yang Rp 3 juta. Amplop ini saya berikan ke cucu, senangnya bukan main, karena ada amplop merah berisi uang.
Dalam bahasa Mandarin, istilah angpou didefinisikan sebagai "uang yang dibungkus dalam kemasan merah sebagai hadiah, bonus bayaran; uang bonus yang diberikan kepada pembeli oleh penjual karena telah membeli produknya; sogokan.’’
Bahasa Hokkien menyebutnya angpau, sedangkan orang Kantonis sebagai lai see. Baik orang Hokkian maupun Kantonis yang sudah mempunyai anak biasanya memberikan uang angpao pada anaknya dengan dibungkus amplop warna merah. Menurut tradisi, pemberian uang angpao tidak boleh dilakukan dengan sembarangan.
Ada beberapa aturan yang dipercaya harus dilakukan sebelum memberikan angpao. Tujuannya agar uang angpao itu tetap membawa keberuntungan.
Aturan yang masih saya ingat uang angpao adalah tradisi. Artinya, penerima angpao yang dipriopritaskan adalah anak-anak. Bahkan angpao juga wajib diberikan seorang anak (sudah menikah) kepada orangtuanya yang sosial ekonominya kurang beruntung. Bahkan mereka yang sudah dewasa dan mapan tetapi belum menikah, tetap berhak menerima angpao

***
Pada buku 5000 Tahun Ensiklopedia Tionghoa 1, karya Christine dan kawan-kawan, terbitan St Dominic Publishing tahun 2015 disebutkan bahwa warna merah di China juga identik dengan api.
Warna merah, melambangkan kemeriahan dan kehangatan. Maka tak heran warna merah mendominasi ornamen Imlek.
Selain arti dari warna merah, angpao juga memiliki makna filosofi transfer kesejahteraan atau energi. Artinya, transfer kesejahteraan dari orang mampu ke tidak mampu, dari orangtua ke anak-anak, dari anak-anak yang sudah menikah ke orangtua.
Isi angpao tidak boleh diisi dengan nilai yang mengandung unsur angka ’4’. Pasalnya, angka 4 dianggap membawa sial. Maklum, huruf empat ketika dilafalkan dalam Bahasa China, bunyinya seperti kata ’mati’. Selain itu, nilai uang tidak boleh ganjil karena berkaitan dengan pemakaman.
Dan nominal uang angpao Jumlahnya boleh berapa saja sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing.
Saya diajari saat menerima amplop angpau untuk mengucapkan "Kong Xi...Kong Xi... Kong Xi Fat Chai". Yang artinya selamat, selamat, selamat dan semoga banyak rejeki.
Tradisi bagi-bagi angpao ini dalam tradisi Tionghoa, bermakna untuk memperlancar rezeki di tahun yang akan datang.
Kepada sauadara-saudaraku etnis Tionghoa, saya ucapkan Kong Xi Fa Chai, Sin Nien Khai Le ... Selamat Tahun Baru, Selamat Datang Kemakmuran, Semoga Tahun Baru Mendatangikan Kebahagiaan. Aamiin amin Ya Rab. (tatangistiawan@gmail.com)