•   Selasa, 12 November 2019
Agrobisnis

Impor Jagung, Akan Sampai Kapan?

( words)
Petani Jagung SP/Prkl


SURABAYAPAGI.com - Februari lalu, Indonesia diperkirakan masih akan mengalami defisit produksi jagung hingga 2030. Artinya jagung yang dihasilkan dalam negeri tidak akan mampu mencukupi kebutuhan konsumen, baik untuk masyarakat maupun pakan ternak.

Gara-gara metode yang digunakan dalam menanam jagung yang kurang maksimal menjadikan penyebab Indonesia masih sulit melepaskan ketergantungan impor.

Meskipun Kementerian Pertanian (Kementan) sempat melakukan Gerakan Panen Jagung Serentak di Desa Pelemahan, Kecamatan Pelemahan, Kediri. Bupati Kediri Haryanti Sutrisno pun menegaskan produksi jagung untuk pakan ternak saat ini melimpah bahkan diharapkan dapat ekspor.

Namun itu masih tak bisa membendung kebutuhan akan impor jagung. Bupati Haryati juga menyampaikan berbagai solusi atas kelangkaan jagung serta mengurangi impor.

“Solusi ke depan, kami akan optimalkan BUMD untuk menampung jagung supaya tidak terjadi kekosongan pasokan. Kemudian, stok jagung di Bulog kami berharap harus dioptimalkan sebagai buffer stock,” katanya.

Prediksi mengenai impor jagung sampai 2023 ternyata benar. Pasalnya, Hari ini, Indonesia akan impor jagung lagi.

Dewan Penasihat GPMT Sudirman mengatakan tanpa adanya substitusi kebutuhan jagung dengan gandum untuk pakan ternak, Indonesia berpotensi mengimpor 2,5 hingga 3 juta ton jagung per tahun. Namun, dengan adanya substitusi jagung dengan produk lain seperti gandum atau olahan gandum, maka potensi impor jagung tahun ini tidak akan sebesar angka tersebut.

“Kemungkinan besar iya [akan impor], terutama untuk memenuhi kebutuhan peternak,” katanya mengutipBisnis,baru-baru ini.

Adanya potensi impor tersebut merujuk pada data yang dikeluarkan oleh The United States Department (USDA) of Agriculture yang diterbitkan pada 26 Maret 2019 lalu.

Sudirman pun berharap jika memang harus melakukan impor, sebaiknya diambil secepat mungkin agar kejadian yang sama seperti tahun lalu di mana impor tiba ketika panen sedang berlangsung tidak terjadi lagi.

"Idealnya impor sebelum Oktober 2019 sampai dengan Januari 2020 atau Oktober sampai Desember 2019," tambahnya.

Adapun laporan USDA mencatat bahwa upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi jagung dengan menetapkan harga acuan terendah dan penyaluran subsidi telah meningkatkan luas tanam yang diestimasi mencapai 3,7 juta hektare (ha) pada kurun waktu 2018/2019.

Sebagai hasilnya, USDA memperkirakan produksi jagung Indonesia untuk 2018/2019 akan mencapai 11,9 juta ton. Kendati demikian, terdapat pergeseran pada musim tanam, khususnya musim tanam pertama yang seharusnya dimulai pada Oktober 2018.

Secara total, USDA memprediksi impor jagung Indonesia untuk segala kebutuhan akan mencapai 850.000 ton untuk kurun waktu 2018/2019, termasuk yang telah dilakukan sejak akhir 2018 lalu. Angka ini telah memperhitungkan substitusi jagung dengan gandum.

Berita Populer