Indonesia Alami Krisis Ekspor Komoditas Karet

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) memprediksi jumlah ekspor karet dalam negeri bakal anjlok 15% selama tahun 2019 menjadi 2,51 ton saja. Sebelumnya pada tahun 2018, tercatat sebanyak 2,95 ton karet bisa diekspor.

Terkait hal ini, Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo mengungkapkan, prediksi anjloknya ekspor ini lantaran tertekan oleh pengaruh perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Di samping itu, terdapat potensi krisis supply sebagai dampak dari anjloknya produksi 15 persen tadi.

Soalnya, terdapat sekitar 318.900 hektare lahan kebun karet domestik sedang didera penyakit gugur daun karet sebagai akibat dari serangan penyakit jamur Pestalotiopsis yang mewabah semenjak awal tahun. Prediksinya, jumlah produksi bakal terjerembab sekitar 550 ribu ton sepanjang tahun 2019 ini.

"Dengan perkiraan anjloknya produksi sebanyak 15 persen, artinya sampai di penghujung tahun pun bakal terjerembab pula," cetus Moenardji di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (24/7/2019).

Gapkindo sendiri mencatat, dalam kurun waktu satu semester ini, terjadi degradasi volume ekspor sebesar 200 ribu ton. Menurut Moenardji, hal ini menjadi sejarah pertama bagi Indonesia hingga mengalami penurunan ekspor secara drastis.

"Bagi negara yang produksinya bergantung komoditas seperti Indonesia, ini jelas berbahaya," tukas Moenardji.

Walau demikian, dia belum dapat memprediksi seberapa banyak potensi anjloknya nilai ekspor karet. Begitu juga dengan prediksi anjloknya penghasilan yang bisa saja dialami oleh masing-masing pengusaha karet. Soalnya, harga karet di pasar internasional pun tergolong murah. Jika melihat indeks Tokyo Commodity Exchange, harga karet tercatat hanya senilai 186,5 yen.

Oleh sebab itu, Gapkindo menuntut pemerintah supaya lekas mengambil kebijakan agar tekanan industri di sektor perkebunan sekaligus perdagangan karet bisa teratasi. Soalnya, anjloknya produksi juga berarti pengusaha tidak memperoleh kepastian supply yang bisa diteruskan ke industri hilir.