Inilah Penyebab Wabah Corona Covid-19 Selalu Bertambah

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Semakin hari ke hari jumlah korban yang meningga maupun yang terinfeksi oleh virus corona covid-19 ini semakin banyak hingga menghilangkan setengah populasi di inggris. Sejumlah ahli dari belbagai negara mengungkapkan sejumlah alasan mengapa tingkat kematian atau Case Fatality Rate akibat Covid-19 rumit untuk dihitung.

Sebelumnya Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus memperkirakan angka kematian virus corona jenis baru atau SARS-CoV-2 ini sekitar 3,4 persen.

Ghebreyesus menyatakan itu ketika jumlah pasien positif Covid-19 90.893 kasus secara global dengan 3.110 orang yang meninggal. Tapi seberapa akuratkah gambaran tingkat kematian ini?

Beberapa pakar kesehatan terkemuka mempertimbangkan betapa rumit menghitung angka kematian. Selain itu, ada sejumlah tantangan untuk menentukan tingkat kematian selama epidemi--yang kini telah menjadi pandemi.

Waktu

Salah satunya menurut seorang profesor di Pusat Pemodelan Matematika Penyakit Menular di London School of Hygiene and Tropical Medicine di London, John Edmunds lantaran periode panjang antara kemundulan penyakit, efek yang ditimbulkan hingga kematian.

Dikutip dari medical news today, "Karena itu sangatlah sulit menghitung rasio tingkat kematian selama epidemi," kata Edmunds

Khusus untuk kasus Covid-19 punya tenggang waktu dua hingga tiga pekan, atau bahkan lebih. Itu sebab untuk menghitung tingkat fatalitas, seharusnya menggunakan jumlah kasus yang terkonfirmasi positif dari beberapa pekan sebelumnya dibanding saat ini.

Tapi ia melanjutkan, dalam kasus yang mengalami perkembangan pesat, jumlah kasus akan kian rendah sehingga tingkat fatalitas bisa lebih tinggi. Namun bias lain menunjukkan hal berlawanan.

"Di sisi lain, [bisa jadi] tidak semua kasus dilaporkan. Faktanya, memang hanya sebagian kasus yang dilaporkan. Jika ada lebih banyak kasus maka rasio fatalitas justru akan lebih rendah," tutur dia lagi.

Karena itu ia menyimpulkan, memperkirakan tingkat fatalitas adalah hal yang rumit. "Yang paling aman yang bisa Anda katakan ... adalah membagi jumlah kematian dengan total kasus yang dilaporkan, hampir pasti Anda mendapatkan jawaban yang keluru," kata dia.

Jumlah kasus

Ada pula pernyataan bahwa perkiraan tingkat kematian saat ini terlalu tinggi. Toni Ho, seorang konsultan penyakit menular di medical Research Council University Glasgow Centre for Virus Research di Inggris berasalan, masih banyak kasus ringan yang belum tercatat.

"Rata-rata tingkat kematian seperti dikutip 3,4 persen itu dikonfirmasi dari jumlah kematian atas total kasus yang dilaporkan. Ini mungkin terlalu tinggi ... Karena hanya sedikit kasus ringan yang ikut dilaporkan, yang kami amati ini adalah puncak gunung es," tutur dia.

Bahkan, sebuah perkiraan yang berlebihan mengatakan kasus yang terjadi bisa 10 kali lipat lebih tinggi. Ini diungkapkan seorang profesor epidemiologi penyakit menular di Universitas Edinburgh di Inggris, Mark Woolhouse.

"[Jika] banyak kasus ringan yang terlewatkan atau tak terlaporkan, maka perkiraan [3,4 persen] ini terlalu tinggi," tutur Mark Woolhouse.

Meskipun ia juga menyadari ada berbagai pertentangan soal pernyataan itu. Sejumlah penelitian menyebut kisaran 10 kali lipat itu terlalu tinggi.

Cakupan wilayah

Unsur lain yang membingungkan penghitungan menurut para peneliti adalah soal cakupan wilayah. Seorang dosen klinis senior dan dokter konsultan kehormatan di Liverpool School of Tropical Medicine di Inggris, Tom Wingfield mengatakan jumlah kasus yang dilaporkan juga angka kematian bervariasi, tergantung jumlah populasi negara tertentu.

"Contohnya, pada awal wabah, kasus positif Covid-19 dan kematian sebagian besar dilaporkan dari Hubei--yang belum tentu menggambarkan keseluruhan kasus di masyarakat," kata Tom.

"Bukti menunjukkan bahwa [rasio fatalitas kasus] lebih tinggi di tahap awal wabah," lanjut dia.

Faktor penyebab kematian

Sementara seorang profesor kedokteran di University of East Anglia di Inggris Paul Hunter berpendapat, belum tentu apa yang terjadi di China itu juga dialami warga di negara lain. Sebab faktor-faktor tambahan juga memengaruhi rasio fatalitas kasus.

"Faktor-faktor yang berkontribusi pada wabah ini mungkin termasuk mutasi virus ... faktor terkait inang, seperti imunitas pelbagai subpopulasi yang etrinfeksi, faktor epidemiologi--seperti tingkat paparan dan paparan berulang," jelas dia.

Senada diutarakan Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Adib Khumaidi. Untuk Indonesia misalnya, ia mengatakan, faktor penyebab kematian juga harus dirunut betul apakah disebabkan karena penyakit bawaan atau hal lain.

Dilansir dari laman CNNIndonesia, "Kasus meninggal ini harus kita tracing juga. Misalnya, ada faktor lain nggak, dari kelompok usia atau yang lainnya. Ini kan belum kita record," tutur dia

"Kedua, dia adaunderlying disease enggak, ada faktor penyakit lain nggak," lanjut dia lagi. Adib menambahkan, pelbagai informasi tersebut penting guna mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai tingkat fatalitas virus.

Titik pemeriksaan atau pengecekan kasus positif turut memengaruhi tingkat fatalitas. Karena itu ia meminta masyarakat tak kaget jika kelak temuan kasus semakin banyak.

Sebab ia menjelaskan, justru semakin cepat kasus positif teridentifikasi maka penanganan dan langkah antisipasi pun bisa lekas disusun. Dengan begitu, angka kematian juga bisa ditekan.

"Yang juga harus dipahami masyarakat, kalau nanti angka kasusnya jadi banyak, ini karena tempat pemeriksaan untuk menemukan kasus juga semakin banyak ... Jadi trennya juga akan meningkat. Karena temuan kasusnya lebih banyak."

Baru diketahui pada akhir pandemi
Seorang antropolog biologi dari Royal Holloway University of London di Inggris, Jennifer Cole berpendapat, perkiraan awal tingkat kematian cenderung lebih tinggi dan kemudian akan turun seiring berlanjutnya wabah.

"Ini terutama karena jumlah angka awal hanya didasarkan pada kasus yang parah--mereka yang dirawat di rumah sakit--sehingga kasus ringan atau sedang tak tercarat," kata Jennifer.

Ketika kemudian ada pengujian dalam jumlah yang besar maka akan mulai terlihat angka-angka yang lebih akurat. Ilmuwan ini menekankan pentingnya intervensi sejak dini--sebagaimana yang disampaikan Adib Khumaidi--untuk menekan tingkat fatalitas.

"Kasus di awal-awal mungkin lebih banyak mengakibatkan kematian, karena orang terdeteksi saat gejalanya sudah parah, barulah kemudian dirawat," kata dia.

Karena itu orang-orang yang mendapatkan perawatan lebih awal akan memiliki kemungkinan pulih lebih besar.

"Para ilmuwan tak selalu mempertimbangkan untuk menjelaskan mengapa bisa terjadi perubahan. Padahal ini bisa membuat masyarakat bingung dan tak yakin dengan angka tersebut," tutur Jennifer.

"Estimasi dan proyeksi seharusnya tak boleh lepas dari konteks, sehingga ketika angka dan perkiraan berubah, penting untuk menjelaskan mengapa kondisi itu terjadi," kata dia lagi.(mnt/cnn/cr-02/dsy)