•   Minggu, 26 Januari 2020
UKM & UMKM

Jelang Imlek, Home Industri Pembuatan Dupa di Jombang Kebanjiran Order

( words)
Proses pembuatan dupa home industri di Desa Bawangan, Ploso, Jombang jelang Imlek 2020. (SP/M. Yusuf)


SURABAYAPAGI.COM, Jombang - Menjelang Tahun Baru Imlek 2571 Kongzili yang jatuh pada 25 Januari 2020, sebuah home industri pembuatan dupa Artkios di Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur kebanjiran order.

Pemesanan dupa paling banyak kuil-kuil dan orang-orang yang menjalankan ibadatnya pakai dupa. Untuk tahun ini, permintaan hampir melonjak sampai 300 persen. Padahal untuk hari-hari biasa, pemesanan tiap harinya hanya 10 sampai 20 bungkus.


Image

Pemilik Home Industri Artkios, Fachrur Rohman (26), mengatakan, bahwa untuk pemesanan pada Imlek 2020 ini skalanya kilo. Jadi mereka entah ditambahi parfum sendiri atau label sendiri itu terserah mereka. Terakhir pemesanan dari Bali hampir satu ton dupa tanpa parfum.

"Bahan baku yang digunakan menggunakan kayu gaharu, ada yang kayu biasa, jadi tergatung pemesanan. Saya fokuskan pada kayu gaharu yang diperoleh dari Kalimantan. Dan itu yang berbeda dengan dupa yang lain," katanya, kepada jurnalis di rumah produksinya, Selasa (14/01/2020).

Rohman menjelaskan, untuk aromanya masih alami tanpa campuran bahan kimia. Dupa yang dibuat disini dari jenis gaharu, cendana, dupa parfum seperti maharaja. Ukuran yang biasa dipesan dari gaharu dengan ketebalan dupa diameter 4 mili, panjang 30 sentimeter.

"Alasan bahan utama dari kayu gaharu karena aromanya lembut, alami, bisa membuat aroma terapi. Dan dalam Islam sendiri, kayu gaharu merupakan sunah nabi. Dan kayu ini diambil dari Kalimantan," jelasnya.

Menurut Rohman, untuk pembuatan dupa khusus bahan gaharu, sehari 50 kilogram. Untuk mesin, up nya dalam produksi bisa sampai 100 kilogram. Pemasaran paling utama ke Singapura, karena gaharu kesenangan dari orang China, Singapura, Taiwan, Jepang.

"Ada juga dari Kamboja, Malaysia, Brunei dan Philipina. Omzet yang diraih, dari pemesanan dupa di Bali saja sebanyak satu ton, hampir Rp 75 juta," ujar pria yang sebentar lagi melepas masa lajangnya ini.

Rohman mengungkapkan, kesulitan yang dihadapi yakni pemasaran untuk lokal. Beda dengan pemasaran di luar pulau. "Namun saya menjual produk ini melalui website, melalui teman-teman, dan badan desa juga," ungkapnya.


Image

Ditanya soal harga, Rohman memaparkan, harga terendah untuk bungkusan yaitu Rp 10 ribu, Rp 15 ribu dan Rp 30 ribu, tergantung jenis gaharunya. Dengan isi sebanyak 12 biji. Yang paling bagus saya ecer satu plastik isi 12 biji seharga Rp 50 ribu.

"Yang super untuk paketan kecil Rp 50 ribu, yang besar Rp 100 ribu," paparnya. Menurutnya, rata-rata pemesanan yang super dari luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia. Untuk bahan semua dari Indonesia.

"Untuk lidi dari lokal dan kita juga impor dari China. Khusus lidi impor digunakan untuk pembuatan dupa super, karena ketika dibakar bersih tanpa adanya serpihan," tandasnya.

Sementara Kades Bawangan, Bakhtiar Efendi menjelaskan, bahwa pihaknya sangat bangga di desanya ada anak muda yang kreatif, bisa menciptakan tenaga kerja untuk masa depan masyarakat sekitarnya.

Tentu akan kita fasilitasi sesuai kemampuan sdm terkait dengan proses pembuatan entah itu tasbih, gelang maupun dupa dan lain sebagainya. Termasuk pemasaran, kita suport, kita bantu publikasikan melalui facebook dan lainnya. Termasuk kita angkat lewat website milik desa," pungkasnya.(suf)

Berita Populer