•   Selasa, 15 Oktober 2019
Surabaya

Jembatan Suroboyo tak Berfungsi Jembatan

( words)
Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Drs H. Tjiptohadi Sawarjuwono, M. Ec, Ph.D.


Kebijakan Walikota Surabaya Tri Rismaharini membangun Jembatan Suroboyo dipertanyakan kalangan akademisi. Tak hanya karena menghabiskan dana APBD yang besar, yakni Rp 2017 miliar. Tapi jembatan itu juga dinilai tak mampu mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar.
Belakangan, jembatan yang digadang-gadang sebagai ikon baru kota Surabaya ini malah ditutup. Apakah ini bentuk kegagalan Walikota mengelola potensi wisata?
Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Drs H. Tjiptohadi Sawarjuwono, M. Ec, Ph.D menyayangkan tidak optimalnya mengelola Jembatan Suroboyo sebagai potensi wisata.
“Jembatan Suroboyo sendiri adalah objek wisata yang seharusnya buka setiap hari dengan air mancur menarinya. Hal ini bisa membantu kegiatan ekonomi di sekitar kawasan jembatan karena adanya daya tarik berupa air mancur tersebut,” ujar Prof Tjiptohadi kepada Surabaya Pagi, Kamis (13/12/2018).
Sebenarnya dari awal Jembatan Suroboyo sendiri memang tidak dijadikan untuk lalu lintas transportasi, melainkan hanya objek wisata. “Di luar negeri banyak jembatan yang tidak dipergunakan seperti fungsinya.
Namun hanya objek wisata. Sebaiknya harus ada koordinasi dengan pihak travel agent, bisnis, dan semuanya yang berkaitan agar kegiatan di sekitar Kenjeran dapat optimal,” tambah dia.
Menurutnya, Jembatan Suroboyo yang sepi di hari biasa dan tidak diminati wisatawan menjadi permasalahan utama. Tidak hanya pariwisata yang menjadi dampak, namun juga kegiatan di sekitarnya seperti perekonomian terkena imbasnya.
Karena itu, lanjut Prof Tjiptohadi, dibutuhkan beberapa langkah tertentu yang harus diambil agar memaksimalkan fungsi awal dari jembatan tersebut.
“Pertama, koordinasi dengan pihak yang bersangkutan khususnya semua hal mengenai pariwisata. Bagaimana caranya agar wisatawan tidak hanya datang melihat jembatan melainkan juga melakukan kegiatan lainnya. Kedua, gencar melakukan sosialisasi, yaitu melalui media cetak atau media sosial. Salah satu hal yang penting adalah bagaimana agar masyarakat mengetauhi info mengenai Jembatan Suroboyo. Ketiga, fasilitas harus diatur, dijaga, dan dirawat sedemikian rupa agar tidak mangkrak atau berhenti begitu saja,” pungkas Tjiptohadi. n

Berita Populer