•   Senin, 6 April 2020
Peristiwa Nusantara

Jonan dan Richard Adkerson Berpelukan Usai RI ’Dominasi’ Freeport

( words)
Menteri ESDM Ignasius Jonan berpelukan dengan bos Freeport Richard Adkerson


SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Raut muka bahagia terpancar ketika tinta hitam selesai digoreskan di kertas putih. Kertas itu bukan kertas biasa. Namun, pertanda bahwa Indonesia menjadi pemilik dominan tambang emas terbesar di dunia, Grasberg, yang selama ini dikuasai PT Freeport Indonesia.
Seluruh mata pun tertuju kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dan bos Freeport-McMoRan, Richard Adkerson, yang sama-sama tersenyum berbahagia.
"Peluk Pak, peluk," ujar awak media yang mengompori keduanya untuk saling berpelukan, di ruang Sarulla, Kementerian ESDM Jakarta, Kamis 27 September 2018.
Lantas untuk pertama kalinya, Jonan dan Richard pun berpelukan. Meski sebentar, senyum lebar bahagia tersirat di wajah keduanya. Ini menandakan kepastian operasi Freeport di Indonesia tetap berjalan seiring dengan
Indonesia yang menjadi pemegang saham dominan di tambang yang berlokasi di Bumi cenderawasih itu.
"Keyakinan saya adalah kami akan memiliki stabilitas yang lebih baik dan kami tidak akan memiliki kontroversi yang memisah-misahkan bisnis selama beberapa tahun," ujar Richard kepada media menyampaikan harapannya.
Menyaksikan pelukan itu, Menteri BUMN Rini Soemarno pun semringah. Dari kejauhan, Rini tampak tertawa dan bertepuk tangan lebih dari sepuluh kali. Begitu pula, Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium, Budi Gunadi Sadikin yang tertawa terbahak-bahak tak kuasa memandang momen tersebut.
Meskipun di satu sisi, pembayaran transaksi oleh PT Inalum sebagai perwakilan pemerintah untuk menguasai 51 persen saham PT Freeport Indonesia masih butuh waktu karena terkendala administrasi.
Direktur Utama Inalum, Budi Gunadi Sadikin menjabarkan bahwa pihaknya akan melunasi pembayaran tersebut setelah seluruh administrasi selesai. Ditargetkan pembayaran akan full dibayar sebesar US$3,85 miliar atau setara dengan Rp56 triliun pascaproses administrasi.
"Yang paling lama kalau lihat dari jadwal bukan uangnya tapi ada dokumen, izin atau syarat administrasi," katanya.
Budi menjelaskan bahwa Freeport adalah perusahaan global yang beroperasi di puluhan negara. Sehingga ada beberapa negara tentu yang memberikan persyaratan kepada Freeport, jika sudah tak lagi dikuasai Freeport McMoRan.
"Ada beberapa negara yang berikan persyaratan, jadi kalau perusahaan besar ini mau lakukan transaksi harus izin," tuturnya.

Berita Populer