•   Senin, 17 Februari 2020
Surabaya

Kadin Surabaya: Pusat Kesenian Jalan, tapi Jangan Tinggalkan Trade Center

( words)


Aspek Bisnis Hi Tech Mall Surabaya Mau Dikemanakan ?

SUIRABAYAPAGI.COM, - Dengan kerugian Pemkot Surabaya mencapai Rp 40 Miliar, selama Hi Tech Mall dikelola oleh PT Sasana Boga (SB). Dan akan berakhirnya kontrak BOT Pemkot dengan PT SB pada tahun 2019. Pemkot ingin mengubah dan mengambil alih total menjadi pusat Gedung Kesenian sepenuhnya tanpa menyertakan embel-embel sebagai pusat IT. Akankah diambil alih menjadi Gedung Kesenian murni bisa mengembalikan keuntungan bagi Pemkot dari aspek bisnisnya?

Hal ini dimunculkan oleh Kepala DInas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kota Surabaya, Widodo Suryantoro. Menurut Widodo, rencananya Disbudpar akan memusatkan gedung kesenian setelah kontrak usai pada tahun 2019 dengan mengembangkan pameran seni dan budaya serta merawat kebudayaan khas Surabaya.
Widodo menerangkan pemilihan gedung kesenian di Hi Tech Mall dipengaruhi beberapa faktor salah satu alasannya kontrak pemilik stand akan habis dalam waktu dekat. “Tahun 2018 sudah banyak menyerahkan stan kepada kami, padahal kontraknya habis tahun 2019,” ujar Widodo.
Nantinya, lanjut Widodo, gedung kesenian yang mulai digarap tahun 2018 itu akan ditampilkan secara modern mulai dari, fasilitas gedung, kolaborasi beberapa alat musik lawas, pertunjukan ludruk, wayang dan pantonim. “Semua akan diramu dengan konsep teknologi modern, namun tetap tidak meninggalkan budaya lama,” terangnya.

Bisnis Gedung Kesenian
Widodo melanjutkan, apabila gedung kesenian tersebut sudah jadi, pemkot akan serius menggarap bisnis gedung keseniannya dengan menyewakan gedung kesenian untuk umum terbatas. Umum terbatas ini hanya diperuntukkan untuk komunitas seni Surabaya, dengan aturan-aturan yang akan dibentuk.
“Apabila komunitas seni yang ada di Surabaya ingin meminjam gedung diminta membuat proposal untuk diserahkan kepada wali kota terkait tujuan penggunaan gedung seni, setelah disetujui pihaknya akan memproses kelanjutannya,” jelasnya.

Perhatikan Struktur Bangunan
Namun, rencana untuk mengalihfungsikan menjadi gedung Pusat Kesenian, direspon oleh Wakil Ketua DPRD Surabaya, Masduki Toha. Masduki mengingatkan pada Pemkot, untuk memastikan kekuatan struktur bangunan. Sebab ia khawatir struktur bangunan dibuat tidak jauh dari penggunaan pihak ketiga.
"Harusnya memang dipastikan dulu, kekuatan struktur bangunan itu dibuat berapa tahun. Saya yakin bangunan itu hanya 30 tahun atau gak jauh dari BOTN," kata Masduki.
Namun jika bangunan masih memiliki waktu pakai 10 tahun, Masduki mengatakan masih layak digunakan. Politisi PKB tersebut meminta melihat kekuatan struktur untuk memastikan penggunaan ke depannya aman. Apalagi digunakan sebagai pusat kegiatan yang notabene sebagai tempat berkumpulnya orang-orang, dikhawatirkan ambruk. "Apakah sudah diperhitungkan (kekuatan struktur bangunan) jika tidak (kuat strukturnya), ya harus bongkar bangun lagi," kata Masduki.
Ia meminta Pemkot, tidak ada salahnya merunding pihak ketiga untuk memastikan kekuatan struktur bangunan tersebut.

Belum Ada Grand Desain
Terpisah, Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Eri Cahyadi mengatakan belum ada grand desain terkait perubahan fungsi gedung tersebut. Hanya ada desain kasar terkait penggunaan, dengan catatan nantinya lantai satu dijadikan lokasi latihan kesenian, lantai dua menjadi lokasi perkantoran seni, sisanya untuk lokasi pertunjukan. "Memang belum ada desainnya, hanya desain kasar lantai ini untuk apa, disetiap lantai. Kalau sudah ada grand design-nya, kita buatkan DED (detail engineering design). Kita yang membangun," kata Eri Cahyadi.
Eri menyebut, tiap kesenian nanti akan dibuatkan ruang pertunjukan sendiri-sendiri. "Jadi tidak cuma satu ruang pertunjukan tapi untuk ludruk sendiri, seni apa sendiri, wayang sendiri sehingga dapat menggunakan audio yang berbeda sesuai yang diperlukan," kata alumni ITS tersebut.

Jangan Hilangkan Trade Center
Terpisah, pengalih fungsi Hi Tech Mall menjadi Pusat Kesenian seutuhnya, tidak sepenuhnya disetujui oleh beberapa praktisi bisnis, salah satunya Dr. Jamhadi, Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) kota Surabaya.
Menurut Jamhadi, Hi Tech mall merupakan satu kesatuan dalam bangunan THR (taman hiburan rakyat). Dan disana, sudah ada zoning (tata letak/alokasinya) sendiri-sendiri. "Artinya, para penjual elektronik, tidak perlu digusur semuanya. Hanya perlu ditambahkan ruang untuk kesenian, jika itu diperlukan. Misal, satu atau dua lantai dijadikan hall untuk pentas kesenian. Dari situ kita harus melihat aspek bisnis yang konkrit," katanya.

Artinya, tambah Jamhadi. Jika mau alih fungsi menjadi pusat kesenian, yang terpenting adalah bagaimana memikirkan nasib para pedagang (elektronik) disana. Jika digusur semua, fungsi Trade Center-nya tentu akan berubah. "Sebab selama ini, masyarakat juga sudah tahu, THR merupakan salah satu pusat elektronik di Surabaya," tambahnya.

Memang, menghidupkan kembali kesenian di THR, akan sangat strategis. "Tapi sekali lagi, pola zoning yang semestinya diterapkan. Dan tidak perlu menggusur para pedagang eletronik yang ada disana," tandas Jamhadi. alq/fir/bkr

Berita Populer