•   Senin, 6 April 2020
Surabaya

Kandidat Masih Malu-Malu Pamerkan Program Kerja

( words)
Rapat Pleno Terbuka KPU Jatim terkait Hasil Penelitian Dokumen Syarat Calon serta Hasil Tes Kesehatan dalam Pilgub Jatim 2018 pada 17 Januari. Untuk penetapan Paslon, sesuai jadwal KPU, baru akan dilakukan tanggal 12 Februari.(Foto: BYOB)


SURABAYAPAGI.com, Surabaya- Pilgub Jatim kurang 6 bulan lagi. Hanya saja, beberapa pihak memandang bahwa kandidat yang ada saat ini belum cukup mampu meyakinkan untuk dipilih sebagai Gubernur Jawa Timur yang akan datang.
Dari Persatuan Humas (Perhumas) Surabaya misalnya. Sekretaris Perhumas Jatim Fitria Widiyani memandang saat ini masih banyak informasi yang belum bisa diakses oleh publik terkait masing-masing Pasangan Calon yang hendak berkompetisi. Salah satunya adalah terkait dengan apa yang kelak mereka lakukan untuk membangun Jawa Timur ke depannya.
"Program, atau visi dan misi ini selama ini belum dimunculkan secara jelas. Sehingga, masyarakat masih sangat awam dengan apa yang kira-kira mereka lakukan nanti setelah terpilih," kata Tya, sapaan akrabnya, ketika ditemui.
Terbatasnya akses informasi terhadap hal tersebut, berdasarkan kajian dari Perhumas, diungkapkan Tya justru malah merugikan masyarakat. "Karena masyarakat jadi seperti dipaksa memilih tanpa tahu seperti apa pilihan mereka. Kalau memang kondisinya saat ini seperti itu, harusnya ruang publik bagi masyarakat untuk bisa berinteraksi langsung dengan para kandidat lebih banyak disediakan. Sehingga masyarakat tahu apakah kandidatnya benar-benar bisa membangun Jawa Timur ke depannya," katanya.
"Akses publik terhadap visi dan misi yang terperinci ini menjadi salah satu yang utama untuk diberikan. Sehingga, masyarakat tidak buta terhadap para kandidat pemimpin mereka," tegas Tya lebih lanjut.
Di sisi lain, peneliti senior Surabaya Survey Centre Edy Marzuki memandang bahwa saat ini memang masing-masing paslon belum akan memaparkan program kerja konkret. Salah satunya dikarenakan penetapan pasangan calon oleh KPU baru akan dilakukan pada tanggal 12 Februari.
"Mereka masih menahan diri. Masih saling menyimpan itu. Karena juga calonnya ini hanya dua. Head to head. Kalau ada 3 calon, kok kayaknya situasinya akan berbeda," jelas Edy, ketika ditemui terpisah.
Selain itu, Edy juga berpendapat bahwa masing-masing koalisi saat ini tengah berusaha merapatkan barisan internal terlebih dahulu. Untuk informasi, masing-masing pasangan calon meraih dukungan hasil dari koalisi 3 partai maupun lebih.
"Mereka masih menata internal dulu. Menyolidkan internal dulu. Intinya, dalamnya dikuatkan. Sebelum terjun ke arena perang," pungkas pria yang juga akademisi asal Universitas Yudharta Pasuruan tersebut.ifw

Berita Populer