•   Kamis, 2 April 2020
Surabaya

Kantor Gubernur akan Disulap Lebih Digitalisasi, dan Pusat Data

( words)
Gubernur Bude Khofifah saat berbincang dengan Sekdaprov Heru Tjahjono dan wakil Gubernur Emil Dardak di ruangan Gubernur Jatim, saat ngantor pertama, Jumat (15/02


Menengok Hari Pertama Khofifah - Emil Ngantor

Solichan Arief - Raditya M.K.,
Tim Wartawan Surabaya Pagi.
Perubahan kinerja besar sepertinya akan banyak terjadi dilingkungan Pemprov Jawa Timur. Kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansah dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak memilih langkah untuk tancap gas pasca mereka dilantik dan merayakan pesta kemenangan di Grahadi. Ini terlihat pada hari pertamanya saat Khofifah dan Emil, ngantor di Kantor Gubernur di Jalan Pahlawan 110 Surabaya. Khofifah memerintahkan untuk membuat semua ruangan yang ada di Kantor Gubernur berbasis digital.
Dari pantauan Surabaya Pagi di lapangan, Jumat (15/2/2019) kemarin, pukul 09.00 pagi itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jatim Heru Tjahyono tampak tergopoh-gopoh, ditemani Kepala Biro Umum Ashari Abubakar dan Kepala Biro Humas dan Protokol Aries Agung Paewai. Ketiganya sudah harus berdiri di lobi kantor Gubernur Jatim dengan pakaian rapi, berbatik, usai senam pagi. Ya pagi itu, Khofifah dan Emil memulai hari pertamanya berkantor.
Tak berselang lama Khofifah dan Emil turun dari mobilnya. Ketiga pejabat Pemprov itu memberikan hormat dan secara bergantian berjabat tangan dengan dua bos baru mereka.
Masih di lobi itu, mereka kemudian mampir ke ruang kerja Asisten Pemerintahan Setdaprov Jatim yang ada di lobby depan. Selanjutnya, Khofifah dan Emil Dardak juga ditunjukkan ruang kerja Biro Humas dan Protokol yang berada di lantai satu. Tak lama di ruangan tersebut, Gubernur Khofifah dan Wagub Emil Dardak pun diajak melihat ruang kerja mereka berdua.
Pusat Data Berbasis Digital
Saat meninjau ruang kerjanya, Khofifah menyampaikan keinginannya agar ruangannya bisa tersambung dengan pusat data. Ia ingin memasang layar monitor besar untuk memantau beberapa hal. Mulai dari peta daerah rawan bencana, hingga layar yang terhubung dengan setiap OPD untuk melakukan video conference dan komunikasi dengan para Kepala OPD di lingkungan Pemprov Jatim.
"Kalau bisa layarnya tebal bisa menampilkan 48 layar sehingga bisa berkomunikasi secara personal dengan para kepala dinas atau kita melakukan meeting secara tele conference. Apalagi di Jatim ini kantor OPD berpencar tidak satu area. Tidak efektif bila ada hal urgent harus datang, belum macetnya," katanya yang juga akan rutin melakukan video conference dengan dinas-dinas terkait.
Menurutnya, layar monitor ini juga penting dalam upaya antisipasi bencana alam. Melalui monitor ini ia berharap dapat memantau kondisi terkini berbagai daerah di Jatim yang rawan bencana.
"Saya punya mimpi besar, punya operation room seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bukan kita harus buat semewah dan sedetail BNPB, tapi kita akan berusaha dapat koneksitas dengan BNPB yang biasanya memberikan deteksi dini bencana alam," katanya.
Koneksi ke Seluruh OPD
Selain membangun sistem yang terintegrasi, Khofifah ingin BPBD Provinsi Jatim membangun koneksivitas dengan seluruh OPD yang ada. Hal ini dikarenakan sebagian besar tekstur tanah di Jatim rentan terjadi longsor, ataupun hujan intensitas tinggi yang dapat menyebabkam banjir. Bila langkah ini dilakukan maka deteksi dini bisa dilakukan tak hanya oleh BPBD, tapi juga dinas lainnya. Seperti Dinas Pendidikan, atau Dinas Pekerjaan Umum yang harus datang awal saat masa tanggap darurat.
Orang nomor satu di Jatim ini juga ingin sistem tersebut mampu dijalankan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tingkat II, sehingga saling terhubung. "Jadi sekali klik bisa keliatan mana daerah yang banjir sehingga early warning system bisa terakses dan menjadi antisipasi dan kewaspadaan bersama," katanya.
Ditambahkannya, sebagai langkah antisipasi bencana, Khofifah beserta Emil Dardak akan membangun kampung siaga bencana, sebagai langkah antisipasi bencana berbasis budaya. "Dulu ada bahasa yang sering saya pakai yakni living harmony with disaster. Kami tidak ingin ada bencana, namun secara faktual tanah ada kerentanan dan curah hujan tinggi, sangat mungkin terjadi banjir. Jadi tagline ini bagaimana secara kultural mereka melakukan antisipasi seperti saudara kita di wilayah Bojonegoro, sebagian Tuban, dan Lamongan ketika ada luapan sungai dari Bengawan Solo, sehingga bisa lebih survive," pungkasnya.
Emil Minta Didoakan Khofifah
Sementara, Emil Dardak saat berada di ruangan Wakil Gubernur, masih tampak malu-malu untuk duduk di kursi kerja wakil gubernur. Bahkan, Emil meminta agar Khofifah mendoakan dulu di ruang wagub sebelum ditempati.
Yang kemudian Khofifah memanjatkan doa agar seluruh ihtiar yang dilakukan bersama warga masyarakat Jawa Timur bisa membuat Jawa Timur lebih makmur dan percepatan penyejahteraan bisa dilakukan. "Jadi ini saya mimpin doa atas permintaan pak Wagub," ucapnya tertawa.
Sementara Emil Dardak mengatakan bahwa ia sengaja minta doa supaya berkah dalam menduduki jabatan. "Nggak apa kan minta doa. Seperti anak yang minta doa pada ibu nyainya," kata Emil. n

Berita Populer