•   Jumat, 10 April 2020
Peristiwa Nusantara

Kartini Masa Kini, Jaga Keseimbangan Peran dan Jangan Gaptek

( words)
Herlina Harsono Njoto Ketua Komisi A DPRD Surabaya


SURABAYAPAGI.com - RA Kartini menjadi tonggak sejarah perjuangan emansipasi perempuan dalam menghapus sekat batas perbedaan status kehidupan sosial dengan laki-laki. Baik di hadapan hukum, dunia pendidikan, berbangsa dan bernegara, bahkan di dunia kerja, perempuan mendapatkan proporsi yang sama.
Sosok Kartini menjadi kiblat Feminisme Nusantara sebagai pelopor kebangkitan kaum perempuan. Dalam meneruskan perjuangan Kartini di era milenial ini banyak nilai-nilai yang bisa diambil dari teladan Kartini, luasnya pengetahuan dan budi pekerti. Sebagai Kartini masa kini mempunyai tantangan yang sangat besar dalam mempertahan nalai-nilai perjuangan Kartini.
Ketua Komisi A DPRD Surabaya Herlina Harsono Njoto. Ia mengatakan pada prinsipnya Kartini itu merupakan tonggak sejarah perempuan. Dimana perempuan itu diberikan ruang kesetaraan dengan laki- laki. "Di era milenial ini kesetaraan perempuan dengan laki-laki ini sangat bisa kita rasakan. Dimana perempuan bisa mengambil peran dalam pengabdian baik untuk bangsa, negara dan Agama," ungkap politisi Partai Demokrat ini, Selasa (23/4).
Menurut Herlina, untuk keseteraan perempuan dan laki-laki di Surabaya ini cukup dibilang baik, dimana porsi perempuan mempunya kesetaran dalam peran politik, berbangsa dan bernegara. "Kita punya wali kota perempuan, pimpinan Dewan, ketua komisi dan 30% anggota dewan kita perempuan. Itu menunjukan sebagai Kartini masa kini yang menepati anggota dewan ini memberikan kontribusi secara nyata dan optimal untuk pengabdian kepada keluarga dan masyrakat," papar dia.
Herlina melanjutkan, dalam menghayati nilai perjuangan Kartini perempuan bisa berada pada posisi dan profesi apapun. Namun tidak menghilangkan peran sebagai ibu rumah tangga. "Ibu rumah tangga itu sangat besar perannya, karena ibu rumah tangga itulah yang akan membentuk generasi-generasi dan pemimpin-pemimpin bangsa berikutnya yang lebih canggih," tandas wanita kelahiran Juni 1983 ini.
Namun ia mengatakan, di era teknologi informasi ini yang memberikan kemudahan ini tantang perempuan itu makin besar. Dimana perempuan harus mampu bisa seimbang anatara perannya dalam dunia kerja ataua karir dengan perannya sebagai ibu rumah tangga. " dengan Emansipasi ini perempuan itu tidak bisa menghilangkan kotratnya sebagai ibu rumah tangga dan sebagai istri, karena peram perempuan dalam rumah tangga tidak bisa dialih tugaskan," terang Herlina.
Melek Teknologi
Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya, Pertiwi Ayu Krisna, juga angkat bicara. Ia mengatakan untuk mengambil nilai-nilai perjuangan Kartini, dengan moment hari Kartini ini perempuan harus mampunyai semangat juang tinggi untuk perubahan yang lebih baik. Menurutnya, perempuan di Surabaya bisa mengambil semangat Hari Kartini dari berbagai aspek di era saat ini. Dari segi orang tua maupun milenial harus memiliki peran aktif mewujudkan generasi perempuan yang akan datang.
Salah satunya peranan di bidang teknologi, tentunya di Surabaya saat ini pemberdayaan perempuan sudah sangat baik, dengan kemudahan teknologi digital perempuan bisa memanfaatkannya sebagai wujud perempuan yang berpendidikan. “Dengan android ini, kita arahkan perempuan untuk belajar positif. Di sana (internet) kita bisa memberikan berbagai pengetahuan, mulai dari bisnis, pembelajaran untuk anak dan lain sebagainya. Bukan untuk hal negatif,” terang wanita yang tercatat Ketua Fraksi Partai Golkar ini.
Mengenai emansipasi perempuan, Ayu mencontohkan agar tidak ada benturan internal dalam rumah tangga. Seharusnya perempuan lebih baik mengutamakan kewajiban terlebih dahulu sebagai seorang istri atau ibu bagi anaknya. Setelah itu, lanjut Ayu, baru lah menimba ilmu dan beraktifitas di luar. Hal itu harus betul-betul disampaikan pada generasi masa kini maupun yang telah berumah tangga.
Dirinya juga mendorong nilai perjuangan Kartini pada generasi milenial. Kehidupan di era teknologi yang begitu cepat memberikan dampak positif bagi wanita. Oleh karena itu dirinya berharap perempuan Indonesia, terutama di Surabaya jangan ada yang tidak peduli terhadap perkembangan teknologi.
“Perempuan Indonesia tidak boleh gaptek (gagap teknologi). Perempuan juga harus multitasking harus bisa apa saja. Di kancah politik, kita sudah bagus, banyak di pemerintahan saat ini yang didominasi perempuan. Wali Kota kita, Bu Risma contohnya,” tandas Ayu.
Peran Asasi dan Perluasan
Reni Astuti, anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya, punya pandangan serupa. Bagi Reni, perempuan harus punya semangat berkontribusi. Reni menceritakan, pada masa itu Kartini berjuang melalui bidang pendidikan bagi perempuan, karena Kartini menginginkan kaum hawa dapat mengenyam pendidikan setara dengan laki-laki. Alasan itu sangat teguh diperjuangkan Kartini. Pasalnya seorang perempuan yang melahirkan generasi penerus. “Kartini mendorong perempuan-perempuan yang cerdas, karena yang mendidik anak-anak itu adalah perempuan. Jadi perempuan harus memiliki bekal pendidikan yang baik,” tandas Reni, Rabu (24/4).
Selain itu, menurutnya, perempuan masa kini harus memilik fungsi utama pendidikan dan berkontribusi dengan lingkungan sekitarnya. Meskipun begitu, harus diimbangi dengan tugas utama sebagai perempuan yaitu mengurus rumah tangga. Karena itu, Reni mengingatkan, kedua kontribusi harus diseimbangkan antara peran asasi dan peran perluasan. Peran asasi sebagai ibu atau istri, karena menurutnya, hal itu tidak bisa digantikan dengan siapapun.
Sedangkan untuk peran perluasan, ini merupakan nilai plus dari sosok perempuan. Dimana ia memiliki nilai lebih atau ilmu wawasan yang diabdikan kepada bangsa dan negaranya sehingga memiliki manfaat. “Contohnya bisa jadi menjadi politisi, ekonom, ilmuwan, dan apa saja peran perempuan di berbagai bidang. Dari keseimbangan ini, perempuan harus dimiliki karakter, karakter ini lah yang harus kuat menjaga peran asai dan peran perluasan,” jelasnya.
Terkait itu, peran perempuan berkontribusi dalam dunia politik, Reni mengatakan di Surabaya sudah cukup besar peranan perempuan dibidang pemerintahan kota, camat, kepala dinas, dan di DPRD Kota. Dia mengatakan, sudah tidak ada lagi dikotomi peran seorang perempuan. “Hal tersebut juga di jadikan sebuah tantangan tersendiri bagi perempuan saat ini,” urainya.
Peranan sosok Kartini juga perlu dijadikan acuan bagi generasi milenial pada saat ini. Bukan hanya sekadar diperingati dengan pawai atau menggunakan kostum adapt. Namun yang perlu ditanamkan substansi perjuangan dan karakter Kartini lah yang harus dipertahankan dan dikenalkan lebih dalam lagi.
Selain itu, pemaknaan emansipasi yaitu bagaimana kegalauan Kartini saat itu terhadap masa depan ibu-ibu atau perempuan dimasa mendatang yang tidak memiliki bekal pendidikan. Oleh karena itu, peranan asasi dan perluasan juga diterapkan pada perempuan millenial saat ini.
“Emansipasi itu sudah bagus dalam konteks di berbagai bidang saat ini. Tapi jangan lupa bahwa kartini itu memiliki konsen terhadap peran perempuan terhadap pendidikan anak di dalam keluarga. Nah itu,” pungkas politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini. (Adv/Alq)

Berita Populer