•   Jumat, 6 Desember 2019
Pilpres 2019

KH Ma’ruf Amin, Mesti Jadi Penyejuk Suasana Kebhinekaan

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi yang Nyapres 2019 (2-habis)

Pak Jokowi,

Jumat pagi (10/08/2018) kemarin, Anda telah mendaftar secara resmi sebagai peserta Pilpres 2019. Anda tetap mengandeng KH Ma’rif Amin, sebagai cawapres.
Pada hari yang sama, Prabowo Subianto, juga mendaftar sebagai capres bersama Sandiaga Salahuddin Uno, sebagai cawapres.
Ini persaingan kedua, antara Anda dan Prabowo. Perbedaannya, cawapresnya. Anda, menggandeng cawapres ulama yang sudah berusia 75 tahun. Sementara Prabowo, rival Anda, mengajak pria yang masih berusia 49 tahun.
Praktis diantara Anda, Prabowo, KH Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno, yang termuda adalah mantan Wakil Gubernur DKI. Dan peserta pilpres 2019 yang tertua adalah KH Ma’ruf Amin.
Saya tidak membahas capres dan cawapres tua atau muda, tetapi siapa diantara mereka yang mampu menyejukan suasana kebhinekaan, yang saat Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, mengkhawatirkan terancam bubar.
Jujur, ada kekhawatiran, praktik politik aliran yang pernah dibesar-besarkan saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017, bisa dimunculkan lagi dalam skala besar.
Aksi-aksi bersimbol keagamaan saat itu, meski berlangsung di tingkat lokal Jakarta, telah mengusik eksistensi kebhinekaan Indonesia.
Beberapa kota diluar Jakarta, termasuk kota Surabaya menggelar berbagai pertemuan. Ada forum komunikasi kebangsaan, forum kebhinekaan dan forum persatuan dan kesatuan antar anak bangsa.
Sebagai warga Negara yang bukan partisan, saya menangkap sinyal, pilihan cawapres dari seorang ulama sekelas KH Ma’ruf Amin, bukan sekedar stategi komunikasi politik menarik pemilih yang mayoritas muslim. Ada harapan yang lebih merakyat. Termasuk masalah ekonomi keumatan.
Maklum, pada tahun 2017, KH Ma’ruf Amin telah dikukuhkan Menjadi Guru Besar Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah.
Menurut situs sumberdaya.ristekdikti.go.id, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Amin, dikukuhkan menjadi Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah.
Sebagai jurnalis yang pengamat, saya menilai pilihan Andamenunjuk KH Ma’ruf Amin, sebagai cawapres adalah kecerdasan Anda bersama tim sukses Anda.
Pilihan ini menurut mata batin saya, Anda mengantisipasi problem Indonesia masa depan, yang pernah dipublish oleh capres Prabowo, Indonesia bakal buyar sebelum tahun 2030.

Pak Jokowi,
Hampir semua politisi tahu bahwa praktik berdemokrasi kita kelihatannya makin mendekati matang.
Pilpres, tampaknya bukan lagi dipandang sebagai prosedur pergantian kekuasaan, tetapi juga membangun mekanisme pemilihan pemimpin.
Pada Pilpres langsung tahun 2019 nanti, bisa dijadikan cara yang paling layak untuk mengetahui siapa yang paling layak menjadi pemimpin Indonesia lima tahun mendatang.
Bahkan juga dijadikan ukuran, siapa calon pre3siden yang mewakili mayoritas kepentingan rakyat Indonesia.
Bisa jadi, melalui Pilpres ini, bisa dijadikan resolusi ‘’konflik’’ yang damai dalam pergantian kepemimpinan dan perebutan kekuasaan, tanpa kekerasan.
Sekarang saya mengajak publik memperdebatkan apakah KH Ma’ruf Amin mampu ikut berkompetisi di dunia politik kekuasaan yang dikenal korup?.
Secara personal, mencatat track record KH Ma’ruf Amin, memiliki kualitas individual, integritas moral, dan kemampuan untuk memahami politik dengan baik.
Dari pengalaman di bidang politik dan akademik, KH Ma’ruf Amin memiliki kapabilitas untuk memahami dan mengelola politik. Maka itu adalah kecerdasan dari Jokowi, memberi kesempatan KH Ma’ruf Amin, ikut bertarung di panggung politik?

Selain sebagai Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin, yang lulusan Pondok Gontor, juga pernah menjadi wakil rakyat di daerah hingga DPR-RI di Senayan. Saya pernah bertemu di Jakarta. Penampilan KH Ma’rif Amin, sangst sederhana.

Seperti saat mendaftar ke KPU, Jumat pagi kemarin, Ketua Umum MUI ini memakai kopyah hitam, syal putih, berjas dan berkaos warna terang.
Kyai kelahiran Banten ini tetap dengan ciri khas ulama NU yaitu bersarung dan memakai tomplah ( sandal dari kulit).
Dalam pandangan saya, Anda memilih KH Ma’ruf Amin, suka atau tidak suka, bisa dilandasi oleh gembar-gembornya partai pendukung capres rival Anda untuk mengajak Ustaz Abdul Somad sebagai cawapres,
Maklum, satu hari sebelum deklarasi pencapresan Anda, suara di publik mencatat Prof. Mahfud MD, sebagai bakal cawapres Anda. Akademisi asal Madura yang pernah menjadi Menteri Pertahanan era pemerintahan Abdurahman Wahid, mendadak tergeser oleh kehadiran KH Ma’ruf Amin.
Pilihan capwares Anda ini saya nilai juga bagian dari upaya membungkam rival-rival politik Anda seolah Anda, Presiden yang jauh dengan ulama.

Pak Jokowi,
Suasana kebatinan bangsa Indonesia sejak menjelang Pilkada DKi 2017, terasa mencekam.
Dalam pengamatan saya, suasana kebatinan bangsa sejak saat itu nyaris terseret dalam polarisasi keagamaan yang tajam. Ada gejala nilai-nilainasionalis kebangsaan akan dimarginalkan dengan isu-isu PKI.
Selain adanya Aksi Bela Islam, isu pribumi dan nonpribumi. Di Media sosial malah marak penonjolan identitas dan perasan merasa paling benar.

.Isu-isu semacam itu cenderung untuk membelah masyarakat yang memang sedang terpolarisasi,.Padahal, puluhan tahun sejak Presiden Soekarno sampai SBY,nilai-nilai kebangsaan dan kemanusian tak pernah dipertentangkan dengan nilai keagamaan.

Menurut saya, pilihan Anda memilih cawapes dari ulama sekelas KH Ma’ruf Amin, menunjukan kepekaan Anda terhadap suasana kebatinan dan religio-spiritual bangsa ini di era globalisasi. Sekaligus pasca pengerahan masa Islam saat Pilkada DKI tahun 2017.
Pilihan pada ulama NU ini, saya menilai ada kepekaan dari Anda dalam mewadahi kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang lebih luas.
Saya berharap pilihan cawapres Anda ini bisa menyejukan suasana batin kebhinekaan bangsa ini sekarang dan mendatang.
Saya perkirakan Anda dan cawapres KH Ma’ruf Amin, akan ada pembagian tugas yang jelas.
Anda akan on the track membangun perekonomian lanjutan dari pembangunan infrastruktur jalan tol di hampir semua pulau di Indonesia. Sementara KH Ma’ruf Amin, bisa saja Anda fokuskan meningkatkan pembangunan revolusi mental bangsa Indonesia, terutama penyelenggara negara. Sekaligus ekonomi keumatan (kerakyatan). Mengingat, ini keahlian KH Ma’ruf Amin.
Kesan kuat pilihan Anda pada KH Ma’ruf Amin, sepertinya Anda paham benar Indonesia ini memiliki tradisi toleransi dan kerukunan beragama.
Kejadian saat Pilkada DKI 2017 saya catat sepertinya toleransi bermasyarakat nyaris digiring mengikuti tradisi liberal. Padahal, puluhan tahun, toleransi kehidupan antar umat beragama, beda suku dan keyakinan lebih dekat dengan tradisi komunitarian.
Saya sendiri yang hidup di perumahan yang mayoritas dari etnis Tionghoa, merasakan rasa toleransi yang tidak tegak dalam prinsip individualisme dan sekularisme.
Penghormatan atas keyakinan yang berbeda di perumakan saya, tidak saja keyakinan saya sebagai kaum minorital (Islam),karena mayoritas warga adalah non muslim dan keturunan Tionghoa.

Pak Jokowi,
Saya mengamati di kalangan penyelenggara Negara, revolusi mental belum menyentuh lahir batin penyelenggara Negara. Sepertinya revolusi mental yang Anda gaungkan dalam kampanye pemilihan presiden tahun 2014 lalu, masih sekadar retorika.
Sampai Anda memimpin Indonesia tahun kelima, revolusi mental masih berupa cita-cita idealism yang masih menjadislogan.
Tagline Revolusi mental yang telah menjadi "trademark" Anda, bukan tidak mungkin Anda akan mendorong KH Ma’ruf Amin, fokus untuk meningkatkan ‘nasib’ salah satu program pada Nawacita Anda.

Maklum, dalam berbagai survei yang mengukur kualitas bangsa, Indonesia selalu berada di urutan tertinggi. Mulai masalah kemacetan, polusi, hingga korupsi. Sebaliknya, dalam hal baik yaitu negara teraman, terbersih, dan sebagainya, bangsa Indonesia selalu berada di urutan bawah.Pertanyaannya, mungkinkah pada pundak KH Ma’ruf Amin sebagai cawapes Anda ( bila Anda memenangkan Pilpres 2019) semua perilaku buruk seperti tidak disiplin, mudah marah, tidak toleran, sampai korupsi bisa ditekan serendah-rendahnya?.

Maklum, sampai kini, saya mengamati dalam tata kehidupan di masyarakat dari berbagai kota, ada kesan mengalami degradasi karakter. Misal ‘’korupsi kecil ‘’ yaitu pungli jasa pelayananmasih ada dimana-mana hingga di layanan publik sampai yang terbawah yaitu kelurahan dan ujian SIM di kantor kepolisiandaerah-daeraqh luar Surabaya.
Padahal, secara konseptual, Anda pernah menyatakan revolusi mental adalah suatu cara untuk "mengembangkan nilai-nilai".
Sampai kini, saya belum merasakan perubahan revolusionermental penyelenggara Negara sampai tingkat kelurahan
Ini artinya, konsep revolusi mental yang berada dalam tanggungjawab kementerian yang dipimpin oleh Puan Maharani, anak Megawati, masih belum menyentuh perubahan mental penyelenggara negara, secara nyata.
Revolusi mental lebih sering saya baca baru berupa slogan-slogan dalam kegiatan seremonial semata.(tatangistiawan@gmail.com)

Berita Populer